TAWANAN GAIRAH CINTA SANG DUDA

TAWANAN GAIRAH CINTA SANG DUDA
SEASON 3 Part 11. Grey Zone 2


__ADS_3

Mama dan Paman suprise dengan berita bahwa aku bisa menarik dukungan keluarga Cheng.


"Lalu apa kita harus membayar sesuatu pada mereka? Apa mereka meminta..." Aku tahu maksud pertanyaan Mama.


"Tidak Mama, tapi aku minta izin pada Mama dan Paman membawa satu orang yang bisa melawan keluarga Chow dan Papa, kekuatan kita akan cukup melawan mereka."


"Kau benar, walaupun keluarga Chow bergabung, angka pastinya mungkin baru 35-40%, itu masih sangat kurang. Siapa yang akan kau bawa?"


"Philip Leung." Mereka seperti tak percaya apa yang mereka dengar sekarang.


"Apa?! Bagaimana bisa?" Paman langsung tak percaya. "Philip Leung itu saingan bisa dibilang dari dulu?"


"Aku bisa Paman, tapi itu berarti di masa depan Shing Wang dan Hong Lung harus banyak bekerja sama. Dengan masuknya Leung, kita mungkin bisa menendang keluarga Chow." Dan aku bisa menendang Nathan dari Shing Wang, plus mimpi selingkuhan Papa yang terlalu tinggi itu.


"Kau bisa?" Ibu sama tak percayanya denganku. "Kita dan Leung bermusuhan selama kepemimpinan Ayahmu, bagaimana kau bisa punya hubungan dengan mereka?" Giliran Ibu yang bertanya sekarang.


"Jika aku bisa Paman bersedia membuat kesepakatan bukan?" Paman dan Mama berpandangan binggung.


"Jika kau bisa ya tentu kita harus membuat kesepakatan dengan mereka. Mau tidak mau. Tentu..." Paman akhirnya memberikan suaranya.


"Kalau begitu aku akan mengusahakannya, Paman dan Mama tenang saja, semuanya akan berbalik dalam enam bulan ke depan. Akan kuselesaikan ini. Lakukan yang Mama dan Paman harus lakukan, jika aku bisa mengamankan dukungan mereka berdua, yang dibawah keluarga Chow akan langsung berbalik pada kita."


-----💙💙💙


Tanggal 25, pertemuan pemegang saham Shing Wang dilaksanakan. Kak Cheng meneleponku dia akan sampai dengan penerbangan jam 9, sebelum tengah hari dia harusnya sudah sampai ke hotel.


Sementara aku, Mama dan Paman sudah sibuk menemui beberapa yang sudah pasti ada di Pihak kami dari kemarin. Melelahkan tapi harus dilakukan.


"Aku sudah sampai, kau perlu bantuan."


"Aku sedang akan makam siang dengan beberapa kolega dekat pemegang saham yang akan mendukung Paman, kau mau bergabung?"

__ADS_1


"Tentu, aku juga termasuk pendukung kalian."


"Kamarku 1529."


"Aku kesana."


Beberapa hari ini dia nampaknya sibuk, dia hanya mengirim pesan beberapa kali dan sekali menelepon. Tidak aku tidak akan meminta perhatian lebih, dia sampai sesuai janjinya saja aku sudah berterima kasih. Berarti dia orang yang menempati janjinya.


Ada dua orang assisten rias sedang menyelesaikan riasanku dan menata rambutku ketika ketukan di pintu terdengar.


"Jika itu Anthony Cheng suruh dia masuk." Salah seorang dari mereka berlari ke pintu sementara aku masih duduk di meja rias.


"Tuan Anthony Cheng?"


"Iya."


"Sihlakan masuk, Nona sedang make up." Assisten rias kembali lagi menyelesaikan tatanan rambutku .


"Tak apa, aku menunggu saja. Jangan khawatir."


Tak lama menyelesaikan mereka. Gaun semi formal warna hijau muda itu terlihat sempurna, sementara rambutku di tata sleek dan rapi untùk kesan elegan.


"Maaf, sedikit lama, makan siangnya akan segera di mulai, terima kasih sudah datang awal."


Aku berdiri di depannya dan tersenyum. Sekarang aku tak perduli apa pendapatnya tentang penampilanku. Aku adalah aku, tak perlu affirmasi persetujuan dari yang lain. Duduk di sampingnya dengan nyaman.


"Nampaknya kau sangat sibuk."


"Sudah mulai dari kemarin kesibukan saat perwakilan datang. Aku sudah kebanyakan makan dan minum wine dari kemarin siang." Aku tertawa dengan renyah. "Kita harus pergi sekarang. Tak baik tuan rumah datang belakangan." Aku berdiri dulu dan berjalan mengajaknya ke pintu dan langsung ke lift, Koko mengikutiku.


"Cherrie, kau bisa menggandeng lenganku." Tiba-tiba dia berkata begitu saat kami sudah dalam lift.

__ADS_1


"Ohh?" Kupikir dia tak akan mengatakannya, makanya aku bersikap sok cool seperti biasa. Karena aku juga tak akan meminta jika dia tidak mengatakannya. "Baiklah, terima kasih." Aku memberikan senyumku sambil menyisipkan telapak tanganku di lengannya.


"Sudah menghajar orang beberapa hari ini?"


"Ehm belum, aku baru bertemu kawan-kawan, mungkin nanti malam aku akan melakukannya." Dia melihatku sambil menarik sebelah bibirnya.


"Kau malu melihat aku membuat keributan Koko?"


"Jika kau yakin keributan itu akan menguntungkanmu, sihlakan lakukan, tapi jika hanya menjatuhkan reputasimu sendiri, maka pertimbangkan lagi langkahmu." Well, dia supportive juga, aku suka jawabannya.


"Seperti biasa, kau selalu punya kata-kata yang tepat." Aku masih tersenyum dan mengatakan pujian pertama padanya


"Itu pujian?"


"Tentu saja."


"Kau juga selalu terlihat cantik seperti biasa." Aku meringis.


"Harusnya kau membawakanku bunga, aku tak termakan pujian, si Nathan itu saja membelikanku boquet tulip besar."


"Itu sindiran?"


"Jelas."


Dia tertawa ngakak. Entah apa maksudnya. Tapi rupanya dia tahan dan tak tersinggung kusindir. Aku hanya meringis melihatnya.


"Jika begitu aku berhutang, kau benar harusnya aku membawakanmu bunga. Aku tak tahu diri."


Koko ganteng ini, kenapa dia harus membawakanku bunga. Dia tak punya kewajiban apapun.


"Aku menunggu hutang dibayar saja jika begitu."

__ADS_1


Tapi mulutku mengatakan hal yang lain, karena aku sudah belajar tidak terlalu sombong sekarang


__ADS_2