
POV Author
"Brother Hisao apa kau sibuk aku perlu bantuan, kau tahu seseorang yang bernama Yuna Aize?" Richard menelepon Hisao keesokan harinya, dia langsung ke intinya. Dia perlu data wanita kurang ajar itu.
"Beberapa orang menyebutkan namanya belakangan. Apa dia membuat masalah lagi? Kenapa kau menanyakannya?"
"Dia memukul teman baikku semalam. Orang yang sama yang disebutkan oleh Ryohei Matsumoto."
"Ohh kau kenal Ryohei? Bukankah dia sudah diancam Ryohei? Maksudmu kekasih Ryohei itu temanmu, sangat kebetulan ternyata."
"Kenal selintas, wanita itu tak mempan di ancam, Ryohei tidak bisa melakukan apapun jadi aku yang akan menghajarnya sendiri. Kau bisa kirimkan seseorang untuk membantuku, aku perlu seseorang yang menerjemahkan kata-kataku. Bisa kau kirim alamat dan nomor telepon wanita itu."
"Kau serius soal ini? Kau akan menghajarnya?"
"Sangat serius. Dia memukul temanku sampai ingin mati, semalam dia memukul Ayahnya. Jadi apa yang harus kulakukan selain membalasnya dengan pantas."
"Kukirimkan datanya padamu, sekalian dengan tiga kontak lokal yang akan membantumu, hajar saja mereka memang gulma, tak usah membayar apapun padaku, bantuanku gratis. Tapi apa tidak akan bermasalah bagimu nanti."
"Tenang saja aku tahu bagaimana mengancam orang yang benar."
Richard tidak main-main soal ini. Wanita itu berani mengirim orang menghajar Shiori. Dia yang akan mendatanginya sendiri sekarang.
"Nathan bilang kau punya urusan di sini."
"Ahh iya, ada beberapa hal yang harus ku urus disini. Nathan bilang bulan depan dia mungkin akan ke Tokyo."
"Begitu. Kau tak perlu semacam penerjemah juga di sini. Jika perlu kau tinggal minta."
"Tidak, aku menghadapi orang yang bisa bahasa Inggris. Yang ini tidak perlu."
"Baiklah. Akan kukirim segera padamu orangku."
"Ben, kau bekerja dengan tiga orang lokal nanti, aku ingin wanita itu diculik. Bawa dia ke safe house Tokyo atau di apartmentnya saja boleh, terlalu merepotkan jika membawanya kesana, pilihanmu sendiri, jika kau sudah bisa mengamankannya langsung telepon aku. Yang penting kita bisa mengancam dan menghajarnya sampai dia ketakutan."
"Mengerti boss." Sementara dia harus mengerjakan urusan lain. Ben tahu bagaimana membereskan ini dan bekerja dengan orang lokal.
__ADS_1
Shiori meneleponnya kemudian untuk mengajaknya makan malam.
Baru kali ini dia bertemu dengan Shiori lagi. Bertahun-tahun yang lalu mereka berpisah karena Shiori ingin kembali ke Jepang. Saat itu kesehatan Ibunya tampaknya rapuh.
Dia tidak menyalahkan keputusannya, dia mengerti Shiori anak yang berbakti, selama mereka pacaran juga orang tua Shiori menganggapnya keluarga bahkan memintanya membujuk Shiori tetap di NY .
Tapi keputusan gadisnys itu sudah bulat, dia juga takut jika sesuatu terjadi pada Ibunya dia akan menyesal. Dia melepasnya, Shiori bertanya apa dia mau bekerja di Jepang. Tapi dia lebih mencintai NY, kariernya masih panjang disana, mereka berpisah sambil menangisi satu sama lain. Tapi Shiori nampaknya melajang sampai sekarang.
Pacarnya yang sekarang baru tiga bulan?
"Kenapa kau masih sendiri, sudah delapan tahun. Aku sebenarnya tak mau menganggumu, kupikir aku mengunjungi Paman dan Bibi mengucapkan salam untuk mereka dan pergi. Mungkin sedikit tahu kabarmu." Pertanyaan itu diajukannya terang-terangan pada Shiori yang tersenyum padanya saat mereka makan malam.
"Tak ada yang berani padaku. Kau tahu budaya disini berbeda... lagipula aku tak mau disuruh menjadi ibu rumah tangga." Shiori bercerita sedikit tentang beberapa kencan gagalnya. Mau tak mau dia merasa itu lucu tapi sekaligus merasa kekasihnya itu seharusnya tidak tinggal di Tokyo. Mereka menertawakan cerita itu bersama.
"Kenapa kau tak kembali ke New York."
"Richard, aku bahagia disini, tak kurang satu apapun. Aku punya tempat bekerja yang mendukung karierku, aku sudah di jabatan Director unit di usia 35 di tengah budaya yang jarang menaruh pemegang manajeman wanita. Bukankah itu luar biasa... Yang penting Papa dan Mama sehat."
"Dan Ryohei nampaknya tak masalah dengan kariermu?"
"Tidak kurasa, aku sudah bertanya terang-terangan padanya." Shiori melihatnya, mantannya yang terlalu sulit untuk dilupakan ini. "Kau masih betah sendiri. Kau punya kekasih?"
"Kau tak berniat terus sendiri bukan."
"Tidak tentu saja, hanya belum bertemu dengan yang tepat sepertimu. Kau juga baru sekarang menemukannya bukan. Atau kau ingin jadi pacarku lagi..." Shiori kali ini tertawa, dia tahu pria itu cuma bercanda.
"Jika aku bisa, tapi kau tahu kita tidak bisa. Tapi terima kasih masih mengingatku, kau dari dulu memang terlalu baik."
"Aku bersalah padamu."
"Bersalah kenapa?"
"Aku terlalu sempurna sehingga kau membandingkan semua orang denganku." Shiori tertawa tapi kemudian dia tersenyum.
"Kurasa di satu sisi kau ada benarnya. Tapi sudahlah, aku tahu aku harus membayar hasil pilihanku sendiri. Kita memang sudah mengambil jalan masing-masing, tapi menemukanmu makan di depanku tetap saja menyenangkan..." Jika dipikir-pikir jika Shiori tidak pergi dia tidak akan berpindah kerja ke Nathan, jalan hidupnya jelas akan berbeda.
"Kekasihmu tak cemburu?"
"Dia tahu dia tak bisa cemburu ke penolongku, aku yang akan memarahinya jika dia berani cemburu padamu."
__ADS_1
"Baguslah, setidaknya dia orang yang tidak cemburu buta, dia tahu bahwa dia memang bersalah padamu." Sekarang Richard berpikir pacar Shiori ini setidaknya punya pemikiran yang dewasa dan logis, walaupun dia kaya tapi dia tidak memperlakukan Shiori sebagai wanita yang harus menuruti semua perkataannya.
"Bagaimana kau akan menghadapi Yuna Aize, dia selalu dikawal, kau tidak akan mudah mendekatinya. Apa kau tak akan terlibat masalah hukum di sini? Jangan kau lakukan jika itu terlalu berbahaya."
"Jangan khawatir. Pengamanan amatir pasti ada celahnya. Apalagi hanya ditangani oleh gangster sekelas tukang pukul bertato, celah pengamanannya sangat banyak. Profesional terlatih bisa menangani itu tanpa masalah."
"Kau membuatku takut sekarang."
"Kau teman baikku, aku hanya kejam pada musuh. Ayo minum lagi, sake ini enak."
Pandangan Shiori membentur kepada seseorang yang baru saja masuk. Dia melihat Yuna Aize masuk dan mengandeng seorang pria. Dia tidak mengenalnya.
"Temanmu?"
"Itu Yuna Aize, entah bersama siapa."
"Ohh baju merah itu?"
"Iya."
"Ohh tak ada pengawalnya?"
"Entahlah mungkin karena dia sedang kencan."
"Benar juga, dan ini tempat yang sempurna." Richard langsung menelepon Ben yang memang ada di dekat sini, bicara dengan cepat Antonio juga untuk membantunya dan tiga orang lokal itu ada disini, mereka punya bantuan yang cukup. Mereka bisa melakukan penculikan disini.
Pub yang cukup ramai ini penuh dengan tempat yang bisa dimanfaatkan. Mereka sedang beruntung sekarang.
"Apa maksudmu tempat yang sempurna?"
"Tak apa. Hanya ini tempat yang tepat untuk membawa orang mabuk pulang."
"Kau mau menculiknya." Shiori berbisik dan membelalakkan matanya pada Richard.
"Tak usah kau pikirkan. Ayo minum." Di sudut matanya Richard melihat mereka berlima sudah masuk ke pub. Ini akan mudah.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
bersambung besok....
__ADS_1