TAWANAN GAIRAH CINTA SANG DUDA

TAWANAN GAIRAH CINTA SANG DUDA
SEASON 4 Part 63. Priviledge 2


__ADS_3

"Ahh sebenarnya mungkin itu tidak enak bagi sebagian orang. Sayuri tidak menyukainya kurasa, tapi aku hanya senang membatasi diriku dengan makan makanan sehat." Dia tersenyum


"Iya itu memang bagus."


"Ngomong-ngomong di mana Ayahmu?"


"Kak Shiori, Papa dimana?


"Tadi dia di ruang kerjanya, sedang ada telepon dengan Direkturnya kurasa." Yumi menatapku dengan heran. Mungkin dia heran kenapa aku bisa lebih tahu dari Sayuri. Biarkan Ryohei saja yang memberitahunya.


"Ohh tak apa, aku menunggu saja kalau begitu." Dengan masih penasaran dia bertanya lagi padaku. "Kau bekerja di mana?"


"Aku, ahh hanya sarariman(pekerja) kecil, tak sebanding dengan pemilik modal sepertimu."


"Kakak Shiori Direktur unit investasi di salah satu perusahaan sekuritas besar. Kau jangan mengecilkan dirimu Kakak."


"Ahh benarkah." Tidak dia tidak memuji, hanya tersenyum seolah itu bukan apa-apa.


"Kau kuliah dimana?"


"Kakak Shiori magister keuangan Harvard." Kali ini Sayuri juga yang menjawabnya.


"Ohh itu hebat. Kau pasti salah satu anak yang punya prestasi sangat menonjol di Koko(high school) untuk masuk ke sana. Jangan-jangan kau bisa menembus peringkat lima nasional dulunya." Kali ini dia berkomentar positif.

__ADS_1


"Aku sudah lupa. Sepertinya tidak begitu karena aku tidak pernah sekolah di Jepang dari sekolah dasar. Aku hanya berusaha yang terbaik dan beruntung saja kukira."


"Kakak, kau bekerja keras. Kita tahu itu." Sayuri tidak setuju pendapatku, sementara aku hanya berusaha tidak menyombongkan apapun. "Papa sudah selesai rupanya, dia turun,..." Terdengar langkah kaki Ryohei turun.


Yumi dengan pandangan mengharapnya melihat ke arah suara.


"Ryohei-san,..."


"Ohh ada Yumi. Kau rupanya ke Tokyo."


"Kau selalu sibuk jika di telepon." Rupanya Ryohei menghindarinya, tapi Yumi tak mempan hanya dihindari. "Aku membawa makanan Italia untuk kalian. Bukankah itu favorit kalian."


"Ohh terima kasih, kau baik sekali. Jangan merepotkanmu lain kali. Sayuri, Honey kalian sudah lapar?" Sekarang Yumi heran kenapa aku dipanggil Honey?


"Sepupu? Siapa yang sepupu?" Sekarang Ryohei yang heran.


"Tidak, aku mengatakan Kakak Sayuri keluarga dekat Ayah, Kakak Yumi menyimpulkan kalian sepupu." Sayuri cekikikan. Aku melengos, membiarkan Ryohei yang menjelaskannya. Akhirnya dia tersenyum.


"Kau ini..." Dia menunjuk ke Sayuri. "Aku memanggilnya Honey, kau pasti tahu hubungan kami apa dengan panggilan Honey. Dia kekasihku, tapi saat itu Ibuku belum tahu saat kau mengenalkanku. Aku minta maaf, tapi aku sudah mengisyaratkan perkenalan kita tak berlanjut, aku tak pernah menunjukkan perhatian apapun padamu, tidak pernah meneleponmu selama tiga minggu ini, aku lebih banyak menghindarimu, selalu bilang aku sibuk setelah perkenalan kita, kupikir kau mengerti, tapi ternyata tidak." Dan sekarang dia terpaku di sana dengan penjelasan panjang Ryohei.


"Rupanya begitu..." Dia melihatku dengan pandangan menilai sekarang. "Apa bagusnya dia?"


"Maksudmu apa bagusnya Shiori? Kenapa kau bertanya hal seperti itu? Itu bukan urusanmu sama sekali." Ryohei menjawabnya langsung sekarang.

__ADS_1


"Aku lebih cantik, lebih kaya, lebih segala-galanya dari dia. Kupikir sainganku selevel dengan artis idola, ternyata dia bukan siapa-siapa." Bukannya menerima, Yumi malah protes. Aku dan Sayuri berpandang-pandangan, kenapa dia tak menerima kenyataan perkenalan mereka tak berhasil, sementara Ryohei menatap lurus padanya.


"Itu penilaian pribadi, aku tak perlu menjelaskannya padamu. Itu adalah urusan pribadiku, keluarga kita hanya mengenalkan, tapi cocok dan tidaknya itu hanya sebuah proses. Aku sudah mengabaikanmu berminggu-minggu, kau tidak menangkap bahasaku. Sekarang kau mendebatku kenapa aku tak memilihmu?"


"Ya karena dia tak pantas menjadi sainganku. Apa bagusnya dia, sekarang coba dari sisi mana dia menang dariku. Gadis pekerja yang sangat biasa ini, coba sekarang kau katakan!?" Sekarang dia menunjukku terang-terangan. Sayuri berdiri sekarang.


"Aku yang akan menjawabnya. Jika Kakak Yumi yang terhormat ini merasa lebih segala-galanya dari orang lain. Maka kau dengarkan ini! Setidaknya Kakak Shioriku tidak menyukai pizza makarel. Dia sangat jauh lebih baik darimu. Aku juga tak menyukaimu, jangan melebih-lebihkan dirimu sendiri Kakak Yumi. Kakak Shiori tidak mengatur makanan hambar untuk kami dengan alasan itu tidak sehat, siapa kau baru hari pertama datang ķe rumah sudah berani mengatur makananku, dia tidak menyuruhku membeli berbagai jenis perawatan untuk menjadi boneka barbie dan memberi tujuan hidup siap-siap menikah dengan anak keluarga kaya. Kau belum kenal denganku tapi kau berpikir kau bisa bertindak melebihi Ayahku, mengatur tujuan hidupku. Kau sangat lancang Kakak Yumi yang terhormat. Kau sangat tak tahu sopan santun. Kau datang ke rumah kami, dan memberitahu orang apa kesukaanmu yang harus di turuti. Bahkan saat aku ingin menikmati makanan favoritku, kau mencelanya dengan berkata itu makanan tak sehat. Kau tak tahu apa kekuranganmu. Sangat jelas, kau diktator tak tahu sopan santun kelas wahid yang ingin mengatur hidupku. Apa aku akan suka padamu? Coba posisi kita dibalik. Sekarang kau mengerti Kakak Yumi yang merasa lebih segala-galanya?!"


Sayuri balas menunjuknya.


"100% perkataan Sayuri tepat. Karena kau memintanya akan jadi pelajaran untukmu jika kau lain kali berusaha masuk keluarga mana saja." Ryohei yang menutup utaraan pendapat Sayuri sekarang. "Tambahan lagi dariku, karena kau sendiri yang meminta aku menjelaskan, cantik itu relatif, kau bahagia bukan karena kau bersama seseorang wanita cantik, tapi seseorang yang membuatmu nyaman, aman, saling mendukung, punya value yang sama untuk dihargai, dicintai dan merasa berbahagia. Kaya? Aku tak mencari yang kaya? Shiori punya perjuangan jauh lebih keras darimu dalam kariernya, dia tak menggunakan pengaruh keluarga, apa yang dicapainya saat ini adalah murni kerja kerasnya. Mungkin tak lama lagi dia akan jadi CEO, dan tidak satupun membawa harta dan pengaruh keluarga, jika di mulai dari 0 kau jelas kalah jauh dari dia. Kau hanya punya priviledge keluarga. Bahkan dia bisa menilai sebuah bisnis jauh lebih baik darimu, bahkan dia menangani bisnis dengan skala ratusan kali lebih besar darimu. Jelas Yumi-san."


Sekarang Yumi diam. Aku tak ingin ikut campur lagi, ini memang bukan waktuku untuk mengatakan apapun. Karena ini urusan perkenalan keluarga mereka sepenuhnya.


"Maaf, tapi kurasa kau tak usah menghabiskan waktu lagi mengunjungi kami. Terima kasih atas usahamu selama ini. Kami menghargai perhatianmu, hanya mungkin selera kami kita tidak cocok saja. Anggap saja perkenalan kita tidak berhasil. Kami tidak bermaksud mengatakan kau buruk, di luar sana pasti ada seseorang yang sesuai dengan nilai yang kau anut, hanya kami ini mungkin tak cocok untukmu. Anggaplah perkataan Sayuri tadi, perkataanku barusan itu sebagai bahan pelajaran, bukan celaan untukmu. Sayuri mengatakannya terang-terangan, aku mengatakannya terang-terangan bukan untuk menjelekkanmu. Kami mohon maaf." Ryohei mengakhiri kata-kata dengan membungkuk. "Sayuri...." Dia meminta Sayuri untuk meminta maaf juga.


"Maaf aku berkata kasar Kakak Yumi." Sayuri sekarang menurut pada Ayahnya.


"Kalian memang bodoh." Dengan kata-kata itu dia berbalik dan pergi. Semua orang hanya menggelengkan kepala melihat kelakuannya.


"Percuma saja, dia memang tak pernah mendengar kata-kata orang lain." Sayuri langsung membuat kesimpulan.


"Aku tak pernah berpikir dia akan kembali ke sini. Aku sama sekali tak pernah menjawab pesannya dan teleponnya. Dia masih tak sadar."

__ADS_1


__ADS_2