
\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Jam delapan malam mereka menyelesaikan interog*asi. Dan membawa semua bukti dan pengakuannya ke pada kami.
"Perintahnya adalah melenyapkan Nona Sandra, membuatnya seperti terlibat ke*c*ela*kan, yang membayar dan memberi perintah adalah suami Anda. Jumlah pembayaran di tran*sfer dari rekening suami Anda, Hu Yi Tian. Bukti semua sudah ada di map ini. Bukti pengakuan di USB ini. Yang diperintahkan melakukannya adalah dua orang letnan operasi khusus, nama kesatuannya ada di map ini, atasan langsungnya juga tertera."
Anthony menjelaskan bagian bag*ian-bag*ian vi*d*eo, dan map yang berisi informasi, memutarkannya untuk kami. Oliver dan aku saling berpandangan mendengar semua de*tail yang di paparkan dan hanya bisa meng*hela na*pa*s.
"Itu saja Nyonya, semuanya sudah kami yang kami dapatkan. Mereka masih di sebuah s*a(fe hous*e kami. Sesuai permintaan Anda nanti kapan melepasnya, atau jika Anda ingin mempermasalahkan jika suami Anda tidak mengakuinya, kami bisa bekerjasama dengan polisi Hongkong untuk melap*ork*annya."
Mama diam saja.
"Mama? Kau punya perintah selanjutnya ke mereka?"
"Iya, tahan dulu mereka Tuan Anthony, lusa sore akan kuberitahu apa yang harus kau lakukan. Kau menjanjikan mereka kebebasan bukan dengan pengakuan mereka."
"Yah, untuk mempermudah, tapi itu terserah Anda."
"Kurasa saya tak berniat memper*pa*njang apapun." Mama menutup m*ap di tangannya. "Terima kasih Tuan Anthony saya harus mena*han mereka untuk memperoleh apa yang saya inginkan."
"Baik Nyonya."
Mereka pergi. Mama tampak berpikir, kurasa hasilnya bukan kejutan lagi, kami sudah yakin 99% itu memang atas perintah mereka.
"Kenapa Ma? Mama bisa cerita ke kami?"
"Tidak, Mama kadang berharap hal yang tidak logis, mungkin ada keajaiban bukan mereka pelakunya." Dia menghela nap*as dan tertawa sendiri.
"Adik Ipar, sudahlah, mereka dari dulu menyusahkanmu terus, kali ini sudah habis kesabaranmu harusnya kau masih mengharapkan itu tidak benar. Sampai menyewa orang untuk menghab*isi Sandra, suamimu itu benar-benar ba*jin*gan."
Mama menga*ngkat bahu*nya. Sudah kehilangan harapan sekarang. Cara lemb*ut tak bisa yang tersisa hanya jalan ini.
\=\=\=\=\=\=\=\=
Aku, Ibu dan Oliver menunggu di ruangan pertemuan yang dingin di kantor pengacara itu. Karena semua cara sudah gagal malah berujung mereka mengirimkan pemb*unuh, Oliver hanya ikut untuk menjaga hal-hal yang tidak diinginkan, karena dia pun tak paham Manda*rin.
Seorang sekertaris membawa Cheng Xin dan Ayahnya kemudian memasuki ruang pertemuan. Ibu tak bicara, dia menyerahkan semuanya ke pengacaranya sekarang untuk menghadapi suaminya.
__ADS_1
Mereka duduk menghadapi kami, sementara pengacara kami duduk di tengah.
"Mama kenapa kau ingin kami kesini." Mama melihat Cheng Xin dan tidak menjawab apapun.
"Mamamu meminta pertemuan ini untuk memberitahunya keputusannya karena kalian sudah mengirim dua orang ini untuk membu*nuh Sandra." Pengacara Mama yang menjawab Cheng Xin.
Cheng Xin dan Ayahnya berpandangan.
"Apa maksudmu?!" Ayah Cheng Xin berpura-pura terkejut.
Ohh ayolah, tak usah pura-pura tak tahu begitu, aku muak dengan sandiwara kalian, di sampingku Ibu hanya tersenyum sinis mendengar kata-kata mereka.
"Ini video pengakuan dua orang yang Anda kirimkan. Bukti penerimaan transfer, indentitas lengkap mereka." Pengacara memberi waktu mereka menonton vide*o pengakuan itu.
"Ini tidak mungkin..." Sang pengacara mengangkat tangannya sekarang. Untuk menghentikan Ayah Cheng Xin bicara.
"Saya tidak perlu pengakuan Anda Tuan Hu, Nyonya Zhuo ingin Anda menandatangani dokumen perceraian ini saat ini juga, supaya saya bisa mengurus semuanya. Jika Anda tidak mengakui dan menolak dokumen perceraian ini, saya akan melempar*kan ini ke polisi, dan menye*ret semua yang terlibat sekaligus." Pengacara itu berbicara dengan tenang, tidak mengikutsertakan emosinya seperti Ayah Cheng Xin.
"Perem*puan sial*an! Kau berani menceraikanku?!" Mama hanya tersenyum sinis, melihat suaminya itu, menyilangkan tangan di depan dad*a, mendengar tapi tak mau memperdulikan kata-kata suaminya itu.
"Jadi mana yang ada pilih Tuan Hu? Saya akan biarkan Anda berpikir sebentar, tak usah marah-marah di tempat saya karena tak ada gunanya, pilihan yang saya tawarkan jelas, damai dan bercerai, atau saya akan menye*ret Anda ke polisi. Soal harta kita tidak ada masalah karena Anda berdua sudah punya perjanjian pra nika*h. Harta Anda milik masing-masing tidak ada pembagian." Hu Yi Tian sudah di pojokkan, tak ada jalan lain sekarang.
"Perempuan sialan! Aku menolongmu memulihkan muka keluargamu, tapi balasanmu begini!" Mama tak memperdulikannya sekarang.
"Tuan Lu, sihlakan. Sekali lagi tak usah marah-marah disini atau saya lempar berkas ini ke pengacara krim*inal." Pengacara menunjukkan berkas yang sudah berada di depannya dan lebih jauh lagi memberikan bolpoin padanya.
"Kau memang perempuan tak tahu balas budi!" Tapi kali ini Hu Yi Tian menandatangani surat perceraian itu.
"Saya rasa selesai, Tuan Zhao. Saya akan meminta orang ke kantor Anda nanti mengambil dokumen yang saya perlukan. Saya harap Anda bisa bekerja sama. Anda boleh meninggalkan ruangan."
Dan setelah urusan selesai pengacara meminta Tuan Hu meninggalkan kami. Hanya tanda tangannya yang dibutuhkan.
"Kau pua*s Mama?" Cheng Xin yang bicara sekarang.
"Hmm, Mama rasa itu hanya persoalan sederhana. Dan kau juga terlibat bukan. Pua*s? Aku sedih kalian berpikir seja*hat itu terhadap keluarga sendiri." Mama menjawabnya.
"Jadi mungkin kau ingin memind*ahkan semua warisanmu kepada anak perempuan kesayanganmu itu."
__ADS_1
"Yang kau pikirkan memang cuma warisan Mama bukan? Pernah kau memikirkan menyen*angkan Mama? Setidaknya berusaha tidak minta uang lagi ke Mama... Berdiri dengan kakimu sendiri? Cuma itu sebenarnya yang Mana mau." Cheng Xin diam, Mama melihatnya tanpa bicara apapun lagi.
"Kau bukan tanpa huku*man, karena kau terlibat dan kau hanya melihat Mama berdasarkan uang, 10% Mama sudah pi*nda*hkan ke anakmu kau hanya menerima 20%, 30%nya jatuh ke anakmu. Mungkin mereka bisa menggunakannya lebih benar, dan itu baru bisa diakses saat umur mereka 25 tahun. Dan jika kau mencoba segala cara membunuh Sandra, kau tak akan mendapatkan apapun, karena saat Mama meninggal maka jumlah saham itu akan disumbangkan ke organisasi pemerintah dan pelayanan anak. Mama akan pastikan tidak jatuh padamu."
Sekarang giliran Cheng Xin yang tidak bisa bicara lagi.
"Itu saja. Jika kau mau menerima saran Mama, jika kau tak bisa mengelola bisnismu itu lebih baik kau serahkan ke profesional, hiduplah sesuai pendapatanmu sendiri. Jangan berlagak seperti milluner kelebihan uang." Mama berdiri sekarang. "Ada yang ingin kau sampaikan ke Mama?"
Tadinya kupikir Mama mau marah-marah lagi ke Cheng Xin tapi rupanya kali ini mungkin dia merasa marah-marah pun tak akan didengar.
"Bukankah aku tak bisa mengatakan apapun lagi."
"Ya memang kau tak usah mengatakan apapun lagi, lakukan saja sendiri." Cheng Xin pergi begitu saja dari ruangan sekarang.
"Sandra, Oliver, kita kembali saja. Tuan pengacara ada lagi yang belum dilengkapi?"
"Saya rasa dari sisi Nyonya sudah."
Kami kembali sekarang. Aku melihat Mama yang termenung sekarang saat perjalanan kami kembali.
"Mama, kau baik-baik saja."
"Ya, entahlah, rasanya aku mungkin tak bisa lagi menemui cucuku karena menantuku akan membenciku sekarang dan tidak mengizinkan mereka menemuiku. Cuma itu kurasa yang di sayangkan ... Yang lainnya cuma perubahan status saja. Tak apa, nanti lebih besar setelah mereka bisa melihatku sendiri juga mereka akan tahu aku tak pernah membuang mereka."
"Iya Mama, kau sudah melakukan sesuatu yang benar. Kau melakukannya untuk kebaikannya, cepat atau lambat dia akan sadar, tapi jika dia tidak sadar, kurasa kau sudah memberikan apa yang kau bisa. Dia sudah dewasa, meminta biaya hidup terus darimu adalah kesalahan."
"Ya itu juga yang dikatakan Paman-paman dan Bibimu. Kita lihat saja apa New Year tahun depan dia akan menemui Mama."
"Dia akan menemui Mama, tidak akan berani tak datang, jika tidak hapus saja namanya dan beri uang Mama ke cucu Mama." Mama tertawa sekarang.
"Kau benar juga. Dia tidak akan berani." Mama tertawa sekarang. "Oliver kapan kalian menik*ah, mungkin Mama akan punya cucu baru untuk di lihat." Aku melihat ke Oliver, pertanyaan soal anak, dia tidak mengingin(kan anak, entahlah apa dia bisa merubah pendapatnya soal anak.
"Kami belum memutuskan Bibi." Dia menjawab dengan diplomatis pertanyaan Mama.
"Bibi hanya bertanya, jangan dijadikan beban. Tapi jika kau mau mengundang Ayah Ibumu dan saudaramu ke Shanghai atau Hongkong, kita punya banyak kam*ar untuk tamu, cuma sayangnya bahasa Inggris Bibi agak terbatas..."
"Suatu saat aku akan mengajak mereka Bibi. Sandra bisa menerjemahkan."
__ADS_1
Aku tersenyum, entah kapan dia mengatakan 'would you marry me', atau apakah mungkin aku bisa membujuknya untuk punya seseorang anak nanti.
Entah, kurasa ide memiliki seorang anak yang kau sayangi tidak buruk.