
POV Sandra
Senin yang nampaknya sibuk bagi Oliver, nampaknya dia hari ini mempersiapkan segala sesuatunya untuk keberangkatan ke Hanoi besok pagi, ada tujuh orang dari kantornya yang akan kesana, ada pimpinan dan wakil proyek yang akan stay seterusnya disana sampai proyek , beberapa yang lainnya akan membantu menyelesaikan cetak biru secara keseluruhan.
Penerbangan besok pagi, tapi hari ini dia baru keluar kantor hampir jam 11 malam.
"Kau baik-baik saja." Dia membaringkan dirinya dengan mengatur kursi depan langsung ke belakang. Matanya terpejam.
"Ini melelahkan, aku bahkan belum packing untuk besok."
"Besok penerbangan jam 10, kita harus sudah berangkat jam 8 paling lambat. Kau ingat perjalanan kita ke daerah proyek makan waktu hampir tiga jam, mungkin sore kita baru sampai, aku sudah menelepon nguyen, mereka menyiapkan sebuah rumah singgah disana untuk kita."
"Aku tahu."
"Nanti kubantu kau packing oke."
"Hmmm... Aku memejamkan mata dulu sebentar."
Aku tak mengganggunya saat dia istirahat, nampaknya dia lelah, lima belas menit kemudian kami sampai. Aku menepuk lengannya.
"Oliver..."
"Ohh sudah sampai."
"Ayo kubantu packing dan setelah mandi, tidurlah."
"Aku merasa punya istri yang memperhatikanku sekarang."
"Aku dibayar untuk membantumu oke, bukan istrimu."
"Kau memang tak pernah membuatku senang sedikit saja." Aku tersenyum kecil menanggapi candaannya.
Tidak, aku tak ingin membuatnya senang. Aku disini untuk bekerja dengan baik. Tidak mau terlibat affair singkat dengan Don Juan ini.
Targetku adalah 30 hari, 4 bulan bonus gaji. Sederhana, aman, dan pasti tercapai. Jadi 'teman tidur' adalah bonus yang tidak dapat kutanggung akibatnya. Aku tidak menyukai ide teman tidur.
Sekarang untuk pertama kali aku masuk ke kamarnya. Kamar rapi dengan dominan warna abu-abu, hitam dan coklat itu terasa nyaman, dia menunjukkan apa yang harus kususun dalam koper, bawaan pria lebih sederhana, lagipula nampaknya dia sering berpergian untuk urusan proyek, ada satu lemari yang disusun dan sudah di pak dalam paket lebih kecil, semua yang diperlukannya dari kemeja, celana, dalaman, sudah dipak di masing-masing kontainer dan pas di kopernya, rupanya imi memang untuk berpergian. Pria ini memang arsitek yang rapi, sampai lemari bajunya pun rapi dan terorganisir.
Selesai dia mandi dia melihatku sudah menyelesaikan memasukkan semuanya dengan rapi. Hanya dengan kaus pendek, celana pendek rumahan dan rambut berantakan dia keluar dari kamar mandi. Aku sudah pernah melihatnya bahkan lebih polos dari itu seperti yang dia bilang.
Dia berdiri di depanku memeriksa isi kopernya.
__ADS_1
"Sudah?"
"Sudah selesai, ada lagi." Dia melihat lemarinya. "Sudah, kita tak pergi ke antah berantah, masih ada toko tempat berbelanja disana. Rupanya pak lainnya bahkan ada toiletries pria lengkap. "Ini saja masukkan." Dia membawa satu pak kecil.
"Done. Aku bisa tidur sampai jam 7 sekarang."
"Mau kupijat sedikit." Dia melihatku.
"Kau serius? Maksudmu pijat seperti apa?" Memangnya pijatan apa yang dipikirannya. Dasar me*sum.
"Telungkupkan badanmu." Lebih baik tak membahasnya tapi lakukan saja.
"Apa perlu pakaian yang agak terbuka dan mes*um untuk melakukannya dengan tepat. Maksudku apa aku perlu topless." Dia meringis sendiri.
"Otakmu yang mesu*m. Cepatlah telungkupkan badanmu!" Dia tertawa sekarang setelah aku mengomelinya.
"Tidak perlu membuka baju, skin to skin sepertinya lebih mengena." Si me*sum ini memang perlu dihajar. Dia masih bicara menyerempet seenaknya.
"Ini bukan pijat yang biasa kau lakukan. Kau akan di charge 20x jika sampai skin to skin. Bersedia? Kau perlu kesebutkan pasalnya. "
"Wanita kejam." Aku meringis saja, dia akhirnya menelungkupkan badannya. Aku naik dan duduk di bednya.
"Kenapa kau jadi tiba-tiba baik padaku?"
"Ini untuk membayar gaji butaku empat hari ini, kau jangan terlalu tersanjung." Dia tertawa.
"Boleh, tidur saja."
"Bagaimana bisa kau bisa memijat?" Dia menelungkupkan badan. Aku mulai mengosokkan kedua telapak tanganku untuk memberi sensasi hangat.
"Aku pernah belajar jadi terapis di masa muda." Itu pekerjaan yang tidak memerlukan pendidikan tinggi.
Dan memulai mepraktekkan teknik yang pernah kupelajari saat muda, aku pernah bekerja menjadi terapis beberapa saat. Teknik Chinese Massage yang mengabungkan tekanan, putaran tangan, kadang juga mencubit, bahkan menginjak.
"God, ini enak sekali." Dia membuat suara serupa erangan yang membuatku merinding begitu aku memulai.
"Tidak bisakah kau diam."
"Kenapa? Apa aku membuatmu teringat sesuatu?" Si me**sum XXXL ini memang perlu dihajar, dari tadi dia selalu mencari masalah. Kubuat tekanan dengan kedua tangan yang menyebabkan tulang punggungnya berbunyi.
"Fu*ck, God that so good." Dia malah bersyukur kuhajar.
"Kau memang berisik."
"Ini enak sekali, bisakah kau melakukannya lagi lain kali. Fu*ck." Tekanan kedua membuatnya mengeluarkan kalimat sakti itu lagi.
__ADS_1
"Jangan berisik diamlah."
"Aku memujimu sweetheart. Ini enak sekali."
"Aku bukan sweetheartmu."
"Kalau begitu jadilah sweetheartku."
"Itu melanggar kontrak." Dia tertawa dengan mata terpejam. Dikomentari dia malah tambah menjadi. Sudahlah tak berguna mengomentarinya, aku meringis sendiri, mengomentarinya dia malah akan tambah menjadi, sekarang kutidurkan saja dia, pijatan yang merelaksasi otot mulai berjalan.
"Kenapa kau begitu kejam padaku Sandra."
"Aku memang kejam, jangan mengharapkanku. Lebih baik kau ke Anna, dia memberimu apa yang kau butuhkan dengan sukarela."
"Wanita seperti Anna tidak punya sesuatu yang dinamakan sukarela Sandra. F*uck...that spo*t is heaven." Dia masih senang bicara sambil kupijat.
"Unconditional love itu hanya Ibu ke anaknya, itupun tak semuanya beruntung. Tapi untungnya ada teman teman yang menganggap kita keluarga dan bersedia membantu kita. Jika kau mencarinya pasti ada mungkin." Dia mendengus.
"Teman, apa Ko Derrick menganggapmu teman baiknya, kau menganggap dia apa?"
"Kakak..."
"Kau ingin memilikinya?"
"Tidak, aku hanya bersyukur dia menganggapku adiknya. Mungkin aku tak punya keluarga, tapi ada yang masih menganggapku adik, itu sebuah keajaiban. Daripada orang yang katanya mencintaiku, tapi kemudian menyiksaku demi cintanya pada dirinya sendiri."
"Maksudmu Kent, ... Kau harus melupakan itu. Kau menasehatiku tidak membawa masa lalu kau juga membawanya sampai sekarang. Kau juga menyamakan semua orang." Ini sepertinya jadi sesi sharing.
"Aku tak tahu Oliver, aku hanya sudah puas dengan apa yang kujalani, menjadi bahagia dengan diri sendiri itu sudah cukup. Wanita bisa melakukan itu, wanita bisa hidup tanpa pria, tapi pria tidak bisa hidup tanpa wanita, kau pernah mendengar peribahasa itu." Akhirnya kukatakan juga, aku bahagia dengan diriku sendiri tak ingin punya hubungan dengannya. Semoga dia mengerti yang satu ini.
"Hmm... kau salah, manusia tidak ada yang bisa hidup sendiri." Dia memang tidak pernah mengerti.
"Aku lima tahun sendiri dan baik-baik saja."
"Baik-baik saja? Kau bahkan tak berani kembali ke Hongkong. Kau tidak baik-baik saja." Dia bersikeras mengatakan aku salah. Sudahlah aku tak ingin berdebat dengannya sekarang.
"Tidurlah, kau harus bangun pagi besok. Jangan berdebat denganku lagi."
"Kau nampaknya senang menghindari masalah, tak punya nyali menghadapinya, tapi kau punya pijatan yang enak. Lain kali boleh minta ini lagi lain kali."
"Iya, nanti kau kupijat lagi. Sekarang jangan bicara lagi." Pijatan yang hanya sampai pinggang, dia mengerang panjang pendek, tapi hanya dalam waktu lima menit aku berhasil menidurkannya akhirnya. Napasnya terlihat tenang.
Aku mengelapkan lampu dim kamar dan meninggalkannya. Oliver yang manis itu tetap berusaha membuatku jadi teman tidurnya, walaupun bedanya dia melakukannya dengan cara yang sopan.
Kembali ke Hanoi, melihat bintang jatuh lagi. Hari ke 4, dia mengatakan jadilah sweetheartku, walau dengan bercanda, mengatakan aku kejam tak mau menerimanya. Aku sudah mengatakan alasanku padanya.
__ADS_1
Mungkin hanya keajaiban bintang jatuh yang bisa mengubahnya.