
POV Cherrie.
Aku membuka mata dan kepalaku pusing, dimana aku, yang terakhir aku ingat aku di klub.
Melihat sekeliling, ini adalah kamarku di rumah Mama, bajuku bahkan sudah di ganti. Apa Koko datang tepat waktu kemarin. Aku bangun, mencoba mencari Mama di ruang tengah. Dia pasti tahu apa yang terjadi.
"Cherrie." Mama langsung memanggilku dengan khawatir.
"Mama, apa yang terjadi?"
"Apa yang kau ingat? Tapi sebelumnya kau harus minum banyak susu dan air putih." Mama mengambilkan susu untukku dengan sarapan yang sudah disiapkannya. "Makan ayo. Untunglah kau tak apa karena Kokomu itu datang tepat pada waktunya, apa yang kau ingat."
"Yang kuingat,... Aku mencakar Nathan Chow, dia mengatakan sesuatu tentang banyak yang harus dilepas, tapi aku sempat minta tolong ke Koko sebelum itu, karena dia bilang mau menjemputku, aku juga sudah memberitahunya dimana aku berada."
"Si bangsat Nathan Chow itu memang harus di cakar. Kata Anthony mereka sudah membuka setengah kancing blousemu waktu dia masuk. Lalu Anthony menghajar mereka semua...." Mama menceritakan padaku apa yang didengarkannya, lalu apa yang terjadi setelah Paman datang.
"Jadi mereka berhasil mendapatkan kesepakatan dengan mengancam akan membawa Nathan Chow ke polisi?"
"Iya, diatas kertas kau dan Pamanmu sudah memenangkan pertarungan ini, kau tak usah bersusah payah lagi."
"Kita menang Mama?"
"Bisa dikatakan begitu karena mereka setuju syarat pamanmu untuk memberi suara."
"Baguslah berarti entah bagaimana usaha licik mereka menjadi bumerang bagi mereka sendiri." Dan untungnya Koko tiba tepat waktu.
"Kau benar, plus Nathan Chow itu tidak akan menginjakkan kakinya lagi di kantor Papamu." Aku tersenyum, bagaimana dia berani menginjakkan kaki di Shing Heng lagi, Paman akan menendangnya keluar untukku.
"Koko Anthony ikut mengantarku kemari Mama?"
"Iya, nanti pergilah mengucapkan terima kasih padanya. Jika tak ada dia entah bagaimana kita sekarang."
"Iya." Aku memang harus mengunjunginya. Entah apa dia memperbolehkanku pergi ke kediaman pribadinya atau tidak.
Aku berniat pergi ke rumahnya, tapi teryata jam 10 dia sudah ada di apartment Mama. Mama malah tengah pergi berbelanja groceries.
"Koko, kau disini." Aku tersenyum melihatnya. Dia selalu ada saat kau membutuhkannya, dan dia yang menghajar semua penjahat itu. Apa yang bisa ku katakan lagi. Dia yang terbaik.
"Bagaimana perasaanmu? Ada yang salah?" Dia tiba di depanku dengan kaus polo gelapnya, dia menghajar semua pria-pria itu? Boleh di bilang definisi kesatria pembelaku.
"Hmm tidak kurasa, aku hanya merasa masih setengah pusing. Tapi kata dokter tak akan lama, tubuh perlu sedikit waktu untuk membersihkan pengaruhnya obatnya besok aku sudah baikan."
"Kubawakan kau banyak buah, makan yang banyak." Dia manis bukan, tidak pernah mengatakan apapun tapi apa yang dilakukannya mengatakan segalanya. Dia meletakkan kantong belanjaan yang dibawanya ke meja marmer dekat dapur. Aku mengikutinya dari belakang.
__ADS_1
"Kau mau kupotongkan." Mengeluarkan isinya, yang terdiri dari beberapa buah yang terlihat menggoda, tentu saja dia lebih menggoda. "Dimana pisaunya?"
"Terima kasih." Aku memeluknya dengan tiba-tiba, menyusupkan tanganku ke pinggangnya dan memeluknya seperti aku memeluk sebuah boneka besar yang hangat.
Dia kaget tiba-tiba aku memeluknya tiba-tiba, berdiri kaku tak bergerak sementara aku menyembunyikan senyumku di pundaknya.
"Terima kasih sudah ada untukku." Akhirnya dia membalas pelukanku dengan menepuk bahuku kaku. Aku menatapnya sekarang. "Katakan sesuatu padaku."
"Mengatakan apa..." Badannya masih kaku. Tapi aku tak ingim membiarkan kehangatannya pergi dariku. "Nanti ada orang yang lewat. Ini tak sopan. Jika Bibi melihat ini aku akan di cap tak sopan." Jawapan yang aneh bukan. Dia malah takut Mama pulang. Dia sangat tak romantis.
"Mamaku sedang belanja groceries, dia baru pergi, belanja groceries itu lama, karena itu berarti mengobrol juga dengan teman-temannya, tak ada siapa-siapa disini. Kemari." Aku tersenyum lebar, mungkin dia memang malu, aku menariknya ke tempat di mana tak mungkin kami diganggu.
"Kemana?" Dia langsung bertanya ketika aku menarik tangannya ke sebuah pintu yang merupakan kamarku.
"Masuk saja."
"Ini kamarmu?" Dia melihat kamar yang dimasukinya.
"Iya." Aku menariknya duduk ke sofa, dan membuat diriku mendekat padanya, wanginya yang menggoda itu membuatku ingin memeluknya lagi. Aku mendekat seperti ngengat melihat api.
"Apa yang kau lakukan disini?"
"Membuatmu milikku." Dan kali ini aku hanya bersandar ke bahunya. "Boleh?" Aku memandang matanya. Dia tak menjawabku sesaat.
"Kau membuatku takut semalam."
"Takut bajingan itu menyentuhmu dan melukaimu. Aku tak jamin aku tak balik melukai mereka..."
Aku tersenyum mendengar kata-katanya, dia punya cara khusus mengatakan dia memperhatikanku, nampaknya dia tak bisa berkata-kata manis, sejak ciuman yang kucuri darinya itu aku belum punya kesempatan lagi. Sekarang aku mengambil ciuman ksatriaku lagi. Jadi kukunci saja dia dengan duduk di pangkuannya, tanganku meraih tengkuknya dan kukunci ciuman keduaku dengan cepat.
Kali ini dia membalas ciumanku. Akhirnya, dia memeluk pinggangku membawaku lebih dekat padanya. Aku berdebar bahagia akhirnya dia mengambil tindakan yang kutunggu.
"Katakan apa aku kekasihmu Koko?" Katakan padaku kumohon.
"Apa cara ini cukup untuk mengatakannya." Sekarang duda tampan ini menciumku lagi, kali ini dia benar-benar yang menciumku, bukan aku yang mencuri ciumannya lagi. Berada di pelukannya sepenuhnya, membenamkan diri dalam kehangatan lengan penyelamatku.
"Kau kekasih yang bisa diandalkan selalu. Kau sudah memukulnya mereka semua bukan? Sayang aku tak melihatnya."
"Kurasa kasih kurang, lain kali aku akan sengaja mencari masalah lagi dengan Nathan keparat itu." Aku tertawa.
"Tukang berkelahi rupanya. Tapi aku menyukai tukang berkelahi."
"Karena kau juga tukang berkelahi." Koko malah membuatku tertawa.
"Tak diragukan." Aku tersenyum lebar padanya.
"Turunlah dari pangkuanku."
__ADS_1
"Kenapa?" Aku mengodanya.
"Turun saja."
"Kau takut Mamaku datang?" Aku tak melakukannya. Masih senang memeluknya dan duduk di pangkuannya, sekarang dia tak sabar dan mengeserku duduk di sampingnya.
"Ayo duduk saja." Kau
"Koko..." Dia melihatku yang memanggilnya begitu rupa.
"Apa yang kau mau. Aku kesini melihatmu apakah kau baik-baik saja. Pamanmu sudah menang harusnya, kau sudah mendengar ceritanya dari Ibumu."
"Iya sudah, tapi apa yang mereka lakukan padaku saat kau datang?"
"Tak usah kau pikirkan." Dia langsung menjawab cepat.
"Nathan bangsat itu bilang dia punya banyak yang di lepas, dia sudah melepas pakaianku?" Aku mau tahu apa yang terjadi sebenarnya. "Koko katakan apa yang mereka lalukan."
"Akan kuhajar mereka di depanmu untuk apapun yang mereka lakukan."
"Jadi benar? Mereka sudah melepas semua pakaianku?"
"Tidak, baru blousemu. Aku tiba tak lama setelah kau mengirim pesan." Nathan dan Stephen bangsat itu satu saat kami bertemu akan kupermalukan mereka di hadapan orang banyak. Tunggu saja saatnya.
"Tak usa dipikirkan. Setelah tiga bulan ke depan akan kucari masalah dengan mereka. Entah dengan Nathan atau Stephen sialan itu."
"Thanks. Aku tak tahu berapa banyak aku harus mengucapkan terima kasih, untuk sudah selalu ada tanpa harus kuminta."
"Kau memang tak pernah meminta. Kau melakukannya sendiri, tahu langkah apa yang kau ambil, aku hanya jaring pengamanmu." Aku tertawa kecil.
"Jaring pengaman? Sepertinya itu keterlaluan, aku tak pernah menganggapmu seperti itu."
"Tak apa, itu kehormatan."
"Kenapa kau jadi manis sekali sekarang Koko." Dia tertawa, sekarang telinganya menjadi merah, dia malu, nampaknya dia memang bukan orang yang bisa mengatakan perasaannya terus terang atau suka mengumbar kemesraan walaupun dia perduli, sebagai gantinya dia hanya akan selalu berusaha berada di sampingmu . Tapi saat dia mengatakannya dia akan jadi manis sekali.
Kokoku yang pemalu ini manis sekali.
"Ayo kita keluar saja, ini rumah Mamamu. Aku tak ingin dia mengatakan aku tak sopan."
"Koko, Mamamu malah mengurung kita berdua di kamar. Dan Mamaku biasa saja."
Dia mengaruk kepalanya.
Duda pemalu ini lu sekali, kucium pipinya dengan gemas sekarang. Kenapa dia membuatku selalu ingin tersenyum.
๐๐๐๐
__ADS_1