TAWANAN GAIRAH CINTA SANG DUDA

TAWANAN GAIRAH CINTA SANG DUDA
Part 71. Putri Yang Berbakti 1


__ADS_3

POV Tata.


Aku melihat Papa duduk sendiri di taman belakang saat aku  kembali, Tante Yun Lan bilang dia menemui temannya. Papa ternyata sudah pulang, aku tahu dia hari ini menemui Cherrie untuk membujuknya, entah apa hasil pembicaraannya. Tapi nampaknya tak bagus, dia terlihat sedih.


“Pa, udah makan?”


“Oh udah, kamu udah makan?”


“Udah tadi di kantor, sekalian ama anak-anak yang  lembur. Gimana ketemuan ama Cherrie, dia gak mau damai?”


“Papa gak tahu dia mau damai atau engga, tapi seharusnya yang disalahkan Papa.”


“Kenapa Papa yang disalahkan?”


“Karena dia begitu karena merasa ditinggalkan, dibuang, mungkin sama dengan bagaimana kau membenci Papa... “ Papa menceritakan apa yang terjadi tadi sore, apa yang sebenarnya saat perceraiannya  dengan istri pertamanya. Merasa bersalah karena telah membuatnya merasa dibuang begitu lama. Cherrie menyalahkannya, membencinya dan bertengkar dengannya. Tak heran dia sedih sekarang. Dia tahu perasaan Papa-nya, tapi sebagai anak dia juga  tahu perasaan Cherrie. Semuanya terluka, masing-masing punya air matanya sendiri.


“Mungkin dia mau mendengar. Kata Derrick dia belum menemukan orang yang disuruh mengikutinya. Mungkin dia mendengarkan Papa.”


“Mungkin, baguslah. Papa benar-benar berharap dia mengurungkan niat mencari masalah dengan Derrick.”  Tata melihatnya, melihat apa yang terjadi tak mungkin Keluarga Lam dan Keluarga Wong berdamai. Tapi bukan itu yang diinginkan Ayahnya, dia hanya ingin Cherrie tak memendam dendam lagi padanya.


“Begini saja, nanti ku bilang ke Derrick untuk tak terpancing melakukan apapun dulu, mereka tak akan berkelahi. Papa tenang saja.” Papanya tersenyum sekarang.

__ADS_1


“Terima kasih, kamu mau minta mereka berdamai.” Melihat Papa seperti itu aku kasihan juga. “Kamu mau istirahat Papa disini  tak apa, Tante Yun pulang tak lama lagi.’


“Papa sebentar lagi ulang tahun kata Tante Yun, bagaimana kalau tahun ini kita merayakannya di Bali.”


“Ohh, akhir minggu ini ternyata. Ya baiklah, terserah kalian saja. Kalau Tantemu setuju, Papa ikut saja.”


“Nanti  aku ngomong ke Tante Yun kalau begitu. Tata naik dulu.”


Aku bicara ke Ko Derrick untuk tidak terprovokasi dulu  akhirnya, yang untungnya di-iyakan oleh dia. Kasihan juga melihat Papa lebih merasa bersalah Cherrie. Paginya aku hanya melihat Tante di meja makan.


“Tante? Papa mana, tak biasanya Tante  sarapan sendiri?”


“Gara-gara kemarin  ketemu ama Cherrie.”


“Iya, lagi down dia karena bertengkar sama Cherrie kemarin. Ga pa-pa lah nanti dia baik, yah sudah dikatakan semuanya, Cherrie juga sudah tahu bukan Papamu yang ngebuang dia selama ini.”


“Padahal mau ngajak Papa ke Bali ama Tante buat ngerayain ulang tahunnya Papa akhir pekan tapi Papanya malah gak enak badan.”


“Ohh ke Bali, akhir pekan ini, tak apa nanti mungkin dia baik, cuma perlu istirahat Papamu.”


Berhari-hari kemudian keadaan Papa belum membaik walau Tante sampai membawanya  ke dokter untuk diperiksa bahkan menelepon dokter pribadinya di Hongkong, sekarang aku khawatir, bagaimana jika terjadi sesuatu tiba-tiba seperti Mama. Aku trauma, sangat takut dengan hal-hal seperti itu sekarang.

__ADS_1


“Ada apa. Kenapa kamu  diam sekali.”  Aku sedang di rumah Koko malam ini, duduk bersamanya setelah pulang kerja. Papa  masih sakit, tidak keluar rumah sudah tiga hari, walau ada Tante Yun di sampingnya sekarang.


“Papa kok belum baik-baik ya, kepikiran... takut.”


“Takut?”


“Gimana kejadiannya kalo kaya Mama, walaupun dokter bilang ga pa pa- Mama juga gak ada sakit apa-apa kelihatannya, tahu-tahu lewat aja. Papa itu kepikiran Cherrie benci dia sampe sekarang. Walaupun dia mungkin gak ngawasin Koko lagi tapi tetep saja dia gak nelepon Papa atau apapun sekarang. Kalo Papa kenapa-kenapa belum sempet ketemu dia... aku trauma tiba-tiba ada kejadian kaya Mama tiba-tiba.” Koko diam, aku tak tahu apa yang harus aku lakukan sekarang. Meminta Cherrie datang? Siapa aku, kenal akupun  dia tidak, jika tahu aku putrinya sekarang bagaimana tanggapannya.


“Bagaimana kalau kita minta maaf, berdamai saja ke Cherrie demi Papa, dia mau dengerin Papa kamu, seenggaknya laporan orang aku sampai hari ini memang gak ada orang yang ngawasin aku.  Ngomong aja ke dia terus terang kalo Papa sekarang sakit.  Ada dua kemungkinan hasil, dia masih marah sama Papa, dan tetap menolak datang, kita juga gak bisa ngapa-ngapain. Tapi kalo dia punya hati, dia akan tergerak dia akan datang, daripada sama sekali gak dicoba, dia juga mungkin gak tahu Papa  lagi sakit sekarang... ”


Benar juga, daripada jika ada apa-apa aku menyesal. Lebih baik aku bertaruh sekarang apa saja yang bisa kulakukan akan kucoba.


“Ya udah Ko, kita coba saja ngomong baik-baik. Ga pa-pa aku minta maaf  duluan ke dia. Yang penting dia ada kemungkinan mau nemuin Papa.”


“Besok kita ke kantornya kalau begitu.”


“Besok siang ya.”


“Iya.’ Dia merangkul bahuku. “Papamu pasti senang  punya putri sulung perhatian seperti kamu, mau minta maaf duluan demi dia.” Aku tersenyum.


“Asal aku gak nyesel seumur hidup. Takut kenapa-kenapa, harus dicoba...”

__ADS_1


__ADS_2