
POV Author
Sementara itu Tommy dan Kimberly pergi ke kantor polisi, polisi menemukan sebuah video yang menunjukkan seorang pergi ke luar sebuah gedung yang agaknya jadi tempat tembakan itu diarahkan.
Itu tembakan sniper, beruntungnya dia tidak menargetkan kepala, jika itu kepala mungkin Kimberly akan menghadapi upacara pemakaman kedua hari ini. Begitu Kimberly selalu berpikir.
"Ini peluru yang sama kalibernya dan jenisnya dengan yang digunakan untuk menembak Chelsea!" Kimberly tidak menyangka dia akan menemukan ini lagi.
"Orang ini, apa kalian mengenalinya. Wanita." Sebuah gambar di tampilkan oleh penyidik gabungan dari IRS dan polisi. Beberapa cukup jelas karena ini masih siang, seorang wanita berambut gelap nampak membawa tas cukup besar, dengan kacamata hitam. Kimberly menggeleng dia tidak pernah melihat wanita itu.
Sementara Tommy tidak yakin, perasaannya mengatakan dia pernah melihatnya dimana? Tiba-tiba dia ingat pria itu. Yang mengaku keponakan Alberto, pria itu. Mungkinkah dia menyamar jadi wanita.
"Harrison, aku ingin rekaman dan foto tamu boss tanggal 16 sore bulan lalu."
"Maksudmu yang menimbulkan keributan Boss?"
"Iya, foto jelas ketiganya terutama yang paling muda."
"Akan dikirimkan segera boss."
"Siapa maksudmu? Kau pernah menemuinya?"
"Kalau tak salah dia bukan wanita tapi laki-laki, perawakannya sama, tapi dia mungkin memakai make up, tapi profil wajahnya mirip. Aku tidak mungkin salah." Pantas saja, apa ini orang yang sama yang menembak Chelsea, Kimberly sampai di pikiran itu. Tak lama kemudian mereka membandingkan foto phofil wajahnya. Hasilnya ternyata sama.
"Kau benar, jadi mungkin juga pria ini yang menghabisi Chelsea?" Jenis pelurunya sama.
"Itu sangat mungkin."
"Namanya adalah Alvarado Tosar, latar belakangnya bahkan militer. Langsung buat surat penangkapannya dan pengeledahan kita akan langsung periksa di disini." Penyidik itu bergerak cepat memastikan penangkapannya.
Mereka menunggu dan ikut dalam rombongan mobil SWAT karena latar belakang orang ini. Komplek apartment yang mereka tuju adalah apartment mewah.
"Ketuk pintunya." Salah seorang petugas mengetuk pintunya. Tak ada jawaban, mengetuk sampai tiga kali juga tetap sama.
"Dobrak pintunya." Sekarang dia besi pendobrak yang bekerja. Pintu terbuka, tapi tak ada orang disana, gambar denah gedung pengadilan di temukan di sebuah meja. Peluru yang berserakan di sebuah laci, dan tas besar yang sama yang dibawa wanita dalam video itu." Jadi memang dia pelakunya.
__ADS_1
"Penerobosan perimeter keamanan di pintu keluar 3." Mereka sudah bersiap memblok akses keluar.
"Pengejaran oleh mobil patroli, BMW sedan hitam, no polisi..." Keadaan kacau, pengejaran diambil alih oleh traffic controller, polisi yang mengejarnya sementara yang lain mengumpulkan bukti dari apartmentnya.
Akhirnya, sebuah coat dan topi menutup rambut yang sama yang diingat Kimberly tentang seorang wanita mencurigakan yang sangat diingat oleh Kimberly saat penyedikan kematian Chelsea di temukan.
Orang yang menembaknya ditemukan. Dia duduk diam di sana beberapa saat. Bahkan Louis perlu tertembak dulu untuk menemukan ini. Semuanya sekarang terbuka. Chelsea dapat menemukan keadilan untuk dirinya sendiri.
Pembunuhnya adalah keponakan Alberto Tosar, orang yang harusnya dihukum dengan berat adalah mereka berdua.
Sekarang dia menyerahkan semua buktinya kepada penyidik. Alvarado Tosar berhasil ditangkap setelah kejar-kejaran dengan polisi NYC selama kurang lebih setengah jam dan menyebabkan kekacauan lalu lintas parah.
Hari ini berakhir. Kimberly pulang ke rumah, hari ini dia lelah sekali. Dia merasa sudah menyelesaikan sebuah hal besar hari ini, sebuah ganjalan yang masih mengganjal. Dia berhasil menangkap pembunuh temannya.
Untuk pertama kalinya dia tidur dengan sangat lelap hari itu, setelah hari sebelumnya dia hampir tak bisa tidur.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Nathan meneleponnya pagi-pagi setelah membuka ponselnya.
"Benar Sir Nathan, orang yang sama yang menembak Louis. Tidak usah diragukan lagi, aku bahkan mendapatkan buktinya? coat dan topi yang digunakannya saat itu. Kami saat itu mencari wanita, ternyata dia adalah pria. Bahkan dia memakai lipstick dengan bentuk.bibir yang berbeda untuk mengelabuhi kami."
"Keponakan Alberto Tosar?"
"Yes, orang yang sama. Rupanya keponakannya itu sniper dengan latar belakang militer."
"Tommy belum memberitahunya. Kau harusnya yang mengatakan ini padanya."
"Aku akan mengatakan padanya. Semua orang akan lega setelah ini Sir."
"Baguslah, ohh ya, jika kau bosan dan kau ingin bekerja denganku tawaran masih terbuka." Sekarang Kimberly tertawa.
"Saya masih senang melihat angka-angka teman saya sebenarnya. Mungkin jika saya bosan di IRS Sir." Nathan yang divisinya terus berkembang butuh banyak orang cakap mengawasi untuknya. Alan sudah tua, cepat atau lambat dia akan pensiun, walaupun dia belum ingin pensiun, tapi alasan kesehatan ada kalanya tidak bisa diprediksi dan dia tak punya tandem yang bisa dia percaya selain Louis. Nathalie mengajukan diri dari dulu tapi sekali lagi dia takut memasang Nathalie. Wanita itu harusnya terlindung, bukan malah menjadi titik lemahnya.
"Baiklah terserah padamu, aku sangat berharap kau bergabung dengan Louis. Lagipula gaji yang kutawarkan jauh lebih baik dengan perjalanan jauh lebih menantang, aku punya perusahaan di Eropa Timur malahan." Jika dipikir-pikir benar juga selama ini dia tertahan karena masih memikirkan kasus Chelsea tapi sekarang bisa dikatakan sudah selesai. "Selesaikan apa yang harus kalian selesaikan, bilang pada Tommy jika kalian butuh bantuan lebih."
__ADS_1
"Terima kasih Sir. Aku akan memikirkan tawaranmu nanti. Tapi sementara mungkin ada yang harus kuselesaikan lagi."
"Rupanya kau tergerak juga." Nathan tertawa, "tawaran gaji yang jauh lebih baik rupanya menggoda juga. "Baiklah kutunggu kabar baik darimu."
"Yes Sir."
Dia akan memikirkan dengan serius tawaran Nathan. Sementara hari ini dia akan menghadiri interogasi keponakan Alberto Tosar itu. Louis masih beristirahat, setelah mereka selesai dengan interogasi dia akan memberitahunya. Lagipula dia punya gadis cantik yang setia menemaninya.
Seseorang meneleponnya kemudian. Ternyata Thomas Jefferson, tandemnya untuk menjatuhkan Alberto.
"Thomas, apa kabarmu."
"Kudengar kau kemarin hampir ditembak, kau baik-baik saja?"
"Ohh aku baik, aku memang berada di samping Louis. Aku hampir menghadiri pemakaman kemarin lusa untungnya ternyata itu tidak terjadi. Bahkan sekarang siapa yang menembaknya sudah ditemukan. Kami bisa mendakwa Alberto Tosar dan keponakannya dengan dakwaan yang setimpal."
"Kau sudah selesai dengan dakwaanmu?"
"Sudah, aku sudah menyerahkannya kepada jaksa. Aku mau menagih janji makan malam antar benua. Karena minggu depan aku ada di New York untuk kasus baru." Kimberly tertawa.
"Baiklah, datanglah. Konfirmasi jadwalmu. Aku menunggu. Restorannya pilihanku karena aku yang membayar."
"Bagaimana kalau pilihanku saja, aku yang membayar."
"Ohhh, ada yang ingin membayar rupanya."
"Kau tinggal katakan ya saja, tidak usah berdebat."
"Baik-baik, terserah padamu saja. Minggu depan, pilihanmu."
"Minggu depan. Sampai jumpa kalau begitu."
Dia tertarik menemui Thomas ini. Suara baritonnya manly dan Julie pernah bilang dia tampan. Sekarang Kimberly jadi tak sabar.
...****************...
__ADS_1