
Dari pertemuan pertama itu, Sayuri kadang mengobrol denganku jika aku sudah bilang aku sudah tak sibuk. Seperti akhir pekan ini dia mengajakku berjalan-jalan dan makan siang.
"Kakak, kau dan Ayah hanya berteman?" Suatu saat dia bertanya padaku saat dia mengajakku makan siang bersama
"Tentu saja kami teman bisnis, kami bertemu beberapa bulan lalu di sebuah proyek di Hanoi."
"Ohh... teman bisnis." Entah kenapa dia bertanya begitu, mungkin menyangka aku dan Ayahnya punya hubungan spesial. Padahal yang terjadi adalah Ayahnya merasa bertanggung jawab atas insiden pemukulan yang dilakukan pacarnya.
"Iya, kakak tak pernah jadi pacar Ayahmu, jangan salah. Yang jadi pacarmu Ayahmu sebelumnya adalah Yuna Aize itu bahkan saat kemarin kami ke Hanoi dia masih membawa Yuna. Ya walaupun sekarang mereka putus." Kujelaskan dengan jelas padanya. Kurasa wanita yang menarik perhatian seorang Ryohei Matsumoto haruslah seperti seorang Yuna Aize, cantik, modis dan punya aura bintang.
Dengan latar belakang memadai seperti sekarang, dia bisa mendapatkan bintang-bintang itu.
"Bukankah Papaku tampan? Kakak tidak menyukainya." Aku tertawa mendengar pertanyaan gadis itu. Nampaknya gadis ini berpikir sudah terlalu jauh.
"Sayang, kami hanya teman bisnis. Tidak ada yang lain oke. Setelah tandatangan perjanjian di Hanoi nanti otomatis kami akan jarang bertemu. Karena urusannya sudah selesai."
"Hmm..." Dia hanya mengumam. "Aku masih boleh mengundang Kakak makan bukan atau sekedar berkirim pesan."
"Tentu saja boleh, kenapa tidak boleh." Dia tersenyum padaku. Sementara aku menyelesaikan makanan di piringku dia mengambil ponselnya.
"Papa bilang dia akan datang menjemput kita. Dia juga sudah selesai makan siang dengan temannya di dekat sini.
"Ohh baiklah."
__ADS_1
"Maksudku nanti Papa juga akan mengantar kakak juga kerumah."
"Tak usah, kenapa harus merepotkan Papamu seperti itu Kakak bisa pulang sendiri."
"Tidak, itu tidak merepotkan. Tak jauh bukan."
Aku menyerah mendebatnya. Ini cuma mengantar, silakan kalau dia ingin.
"Kalian sudah selesai?" Ryohei datang menghampiri kami di sebuah kedai es-krim. "Mau beli yang lain."
"Tidak. Ayo kita kembali."
"Papa tidak membelikan sesuatu untuk Kak Shiori?"
"Tidak usah, membelikan apa."
"Papa di situ ada Edomae Sushi, aku beli paketnya take awaynya bagaimana. Kalian tunggu di sini."
"Ohh oke. Ini belilah paketnya." Papanya dengan murah hati memberikannya kartu.
"Kak Shiori, Kakak duduk disini dengan Papa saja, tunggu aku." Dan dia langsung saja pergi begitu saja meninggalkan kami berdua.
"Dia gadis yang cerewet, dia tidak menyusahkanmu bukan." Ryohei-san duduk dan memberikan senyumnya di depanku sebagai ganti anaknya. Membuatku teringat pertanyaan Sayuri, apa Ayahnya tampan? Ya dia tampan tentu saja. Tak ada yang menyangkalnya. Apalagi jika dia tersenyum, mungkin itu bisa mengalihkan duniamu. Tapi gadis berkacamata yang suka menganalisa angka mungkin bukan tipenya sama sekali.
__ADS_1
Tapi seperti yang kubilang kami hanya teman, dan aku yakin dia menghargaiku sebagai teman anaknya saja, seseorang yang bertindak sebagai mentor. Ya dia royal pada temannya.
"Tidak, dia anak baik dan rajin. Dia mungkin melihatku sebagai kakak yang tidak dia punyai."
"Hmm, ya mungkin kurasa dia senang punya seseorang yang rasanya bisa dia contoh."
"Dia suka membicarakanmu, Kak Shiori bilang begini, kak Shiori bilang begitu. Jika di masa depan aku bertengkar beda pendapat dengannya, mungkin kau bisa sedikit bicara padanya." Aku tersenyum.
"Nampaknya sekarang aku bisa jadi psikolog anak."
"Maafkan aku, nyatanya dia membicarakanmu seperti membicarakan idola." Aku hanya tersenyum padanya.
"Kau sudah menerima tiket ke Hanoi?"
"Assistenku bilang, mereka sudah mereka sudah mengirimkannya dua hari lalu."
"Kalau begitu Kamis ini kita bertemu di bandara."
"Iya." Beberapa detail proyek kami bicarakan kemudian sambil menunggu Sayuri kemudian. Cukup membantu mengalihkan pikiranki dari pertanyaan Sayuri tadi.
"Baiklah, ayo kita pulang."
"Ayo Kakak." Sayuri yang mengandeng tanganku seakan aku memang Kakaknya, sementara Ayahnya berjalan di belakang.
__ADS_1
Setelah dia masuk ke Harvard nanti. Dia akan menghilang dan otomatis akupun jarang bertemu lagi dengan Ayahnya yang tampan. Itu saja.
\=\=\=\=