
POV Sandra
"Andy, aku boleh mengajar di kelas train*ing se*njata."
"Bisa, tapi masalahnya kau tak bisa bahasa, banyak orang lokal yang hanya mengerti bahasa. Tapi belakangan banyak expatriates. Coba nanti ku switch ke kelas itu oke."
"Fine."
Hidupku tenang belakangan, tugas mengawal Nyonya Philip kemarin cukup mudah, gadis cantik itu baik hati, tapi dia bukan gadis sembarangan, kudengar untuk menjadi istri Philip banyak yang dilaluinya, termasuk melewati scen*e penculik*an yang menghebohkan. Dia terlatih dengan baik, bisa bekerjasama sesuai dengan protokol keamanannya, Nyonya yang baik hati, senang bisa berkenalan dengannya, tampaknya setiap dia kesini aku akan selalu ditugaskan bersamanya.
"Sandra, Kent bertanya kapan kau ke Hongkong lagi. Dia menitip salam untukmu." Ten*gkukku mendingin, aku tak suka nama itu disebut didepanku.
"Dia masih memegang Hongkong bukan? Masih berkantor di Kowloon?"
"Iya, jaringan night cl*ub dan keamanan masih dia yang memegang, belum ada yang bisa mengalahkannya secara fis*ik dan kharisma kurasa di Hongkong. Seumur denganmu kan?"
Terakhir kalinya aku bertemu dengannya, itu kenangan buruk yang ingin kulupakan. Saat aku mendengar ada lowongan di negara lain, tanpa pikir panjang aku langsung mengiyakannya. Kent alasan aku meninggalkan Hongkong, bahkan alasan aku tak tertarik pada hubungan apapun sekian lama. Ko Derrick meninggalkanku di tangannya saat dia dipindahkan ke Singapore, awal mimpi burukku dimulai disana.
"Hmm... ya begitulah."
"Katanya dia akan ke Jakarta dalam waktu dekat, ada orang yang mengambil nama klubnya di Hongkong. Dia kesini untuk tanda tangan kerjasama bisnis atas nama boss besar."
"Andy, aku boleh minta tolong..."
"Ya?" Andy melihatku dengan heran. Aku bicara sambil mere*m*as tanganku.
"Jika dia menanyakanku nanti, bilang saja aku bertugas di luar kota, apapun asal kami tidak bertemu. Aku sama sekali tak mau bertemu dengannya lagi." Andy melihat padaku, dia menghela napas, nampaknya dia tahu gambaran besar apa yang terjadi.
"Aku pernah mendengar, gossip tak enak tentang Kent dari temanku di sana, dia bekerja dengan tangan besi, termasuk ke wanita bawa*hannya, bekerja di bawahnya, terutama bagi wanita tidaklah mudah, yang kutahu kau bahkan manager salah satu club terkenal di Hongkong dulu... Kau teman Boss Derrick, dia tak tahu masalah ini?"
"Buat apa." Aku akan menyulitkan Ko Derrick, aku berpikir begitu dulu.
"Jika dia mencari masalah lagi denganmu, kau harus bilang ke Derrick, Kent tak akan berani macam-macam jika dia berhadapan dengan Derrick. Dia bukan lawan selevel Derrick, jika dia mencari masalah, jika kalian tidak bertemu ya tidak akan ada masalah kurasa."
"Syaratku masuk ke sini adalah aku tidak ingin mendapatkan pekerjaan di HK. Aku tak ingin bertemu dengannya lagi."
__ADS_1
"Sudah lima tahun, mungkin dia sudah punya maina*n baru... Tenanglah aku dibelakangmu, bukan hanya kau yang tidak suka arogansinya."
"Thanks Andy."
Kent ke Jakarta. Aku sangat berhati-hati untuk tidak bertemu dengannya. Tapi dengan bantuan Andy kurasa aku akan berhasil menghindarinya.
\=\=\=\=\=\=
Karena aku cukup fasih Korea, sekarang aku punya tamu VVIP seorang wanita yang adalah pengusaha dari Korea, yang berarti aku akan menemaninya juga sebagai perwakilan dari Philip di Jakarta.
Hari ini terakhir aku menemaninya. Pagi ini aku membawanya ke salah satu kantor perusahaan Group Hong Lung, Derrick akan ada disana menerimanya sebelum sore ini dia kembali ke Seoul.
"Ini Tuan Derrick, Nona Song, ..." Aku sudah menyerahkannya ke Derrick sekarang. Sekarang waktunya istirahat, sementara mereka masih ngobrol. Aku punya mungkin dua jam untuk istirahat atau tiga jam karena nampaknya Derrick akan menjamu makan siang.
Aku duduk di lobby, dengan ponsel dan minuman di tanganku menunggu. Seseorang duduk di sampingku agak jauh, aku tidak melihatnya. Cuma aku tahu itu laki-laki dari bayangan sepatunya di ekor mataku.
"Rasanya lama sekali aku tak melihatmu." Dan sekarang aku seperti tersengat begitu saja mendengar suara itu. Aku mendongak melihatnya, melihat orang yang kubenci, alasan aku meninggalkan Hongkong. Seulas senyum kecil dibibirnya, senyum yang sepertinya sama antara dia sedang bersikap baik hati atau jika dia mengancammu. Bertahun-tahun aku menyamakan senyumnya dengan sebuah ancaman.
"Kent..." Wajah angkuh itu masih sama seperti yang dulu, kemeja hitam dengan kalung emas terlihat diantara ke*mejanya. Rambutnya yang agak panjang di kuncir kebelakang rapi kali ini. Jika kau bisa membayangkan Tria*d di film Hongkong, begitulah tampilannya. Hanya kengerian itu tertutup dengan wajah tampan dan jas rapinya.
"Ya ini aku. Bagaimana kabarmu, kau masih sama seperti lima tahun yang lalu, dan kau tambah cantik, nampaknya lebih bahagia berada jauh dariku." Lidahku kelu, tak tahu apa yang harus kujawab. Aku hanya menatapnya sebagai bagian dari mimpi buruk yang tak ingin kutemui lagi.
Kemarahan itu, masih sama, setiap kata baginya adalah sebuah perintah tanpa kau bisa menolaknya. Bicara dengannya harus dengan kepatuhan penuh, tapi dia tak suka jika kau terlalu manja, dia ingin kau melawannya lalu dia menunjukkan kekuasaannya padamu dan menyerah.
"Kita tak ada hubungan apapun lagi. Aku bukan orang yang bisa kau perintah lagi sekarang."
"Dimana kau tinggal sekarang." Dia memilih tak mengindahkan pernyataanku.
"Sudah kubilang kita tak ada hubungan lagi."
"Kau tetap sama, senang melawan, aku memang suka itu darimu. Kau tak pernah jadi kekasih yang membosankan." Bulu kudukku meremang, ter*or yang sama rasanya kembali padaku setelah lima tahun aku berhasil pergi darinya.
Aku tak menjawabnya tapi pergi dari depannya. Tapi gerakanku kalah cepat. Pundakku di rangkulnya dari belakang sementara dia mengikuti aku berjalan.
"Sayang, jika kubilang duduk maka kau harus duduk, kau lupa aturan bicara denganku setelah sekian lama. Bagaimana jika kita makan siang, tamuku baru datang jam dua, kau masih suka makanan Jepang bukan? Jangan membuat keributan denganku, aku bersikap baik padamu sekarang. Ini hanya makan siang..."
"Aku punya tamu VVIP,..."
__ADS_1
"Aku tahu siapa tamumu, dia masih bersama Derrick. Mereka akan makan siang lagi pula." Aku bertekad aku tak akan kembali lagi mematuhinya, satu tahun cukup jadi tahun terburukku, butuh bertahun-tahun untuk melupakannya, mungkin sampai sekarang aku masih berusaha keras melupakannya, kesempatanku ini masih di tempat umum. Kulepaskan ra*ngkulannya dengan cepat, tapi dia merang*kul tengkukku dengan lengan dalamnya. Jika orang melihatnya kami seperti kekasih me*sra tapi aku hampir tercekik rasanya.
"Sandra?! Kau tak menunggui tamumu?" Suara Andy menyelamatkanku. Aku sudah terbatuk karena tikungan lengannya.
Dia kadang berada disini, karena ini pusat semua bisnis Hong Lung di Jakarta.
"Ahh rupanya Kak Kent, senang bisa bertemu denganmu lagi." Andy menyapanya dengan santai.
"Aku memang mau menungguinya, ..." Kulepas rangkulan lengannya padaku. Aku seperti terlepas dari mulut buaya. Dan dengan cepat aku berjalan ke belakang Andy, aku meminta perlindungannya.
"Andy, mereka masih makan, aku mau mengajak Sandra makan sebentar. Kau tahu kami teman lama." Dia mencoba bersikap biasa.
"Standard Operation Procedures VVIP Quest hanya mengizinkan pengawal membeli makanan dengan cepat dalam 15 menit dalam area yang bisa dijangkau Bro Kent, jika tidak ini akan jadi pelanggaran prosedur. Maaf tapi harusnya Sandra tak bisa menemanimu makan dengan SOPnya." Andy dengan berani melawannya memakai aturan standart pekerjaan VVIP Quest, jika dia berani membuat masalah dia yang akan dipertanyakan.
Kent sekarang diam, Andy berdiri tanpa takut di depannya dengan wajah datar. Sebenarnya jika dia dan Kent diukur dalam struktur organisasi maka mereka di level yang sama. Hanya saja, nilai investasi yang dikelola Andy tidak semassive kelolaan di Hongkong.
"Anak muda, kau sangat berani..." Andy menyinggingkan senyum sinisnya. Dia melipat tangannya di depan aken
"Bro Kent, jadi maksudmu Sandra harus mengabaikan SOPnya demi makan siang bersamamu? Begitu? Aku tak akan melarangmu, tapi Sandra dalam jam kerja sekarang. Jika kau memaksa berarti kau mau mengambil alih tanggung jawabnya jika tamu VIPnya mencarinya? Apa benar begitu? Dengan apa kau bertanggung jawab... Aku dengan senang hati menunggu jawabanmu?" Sekarang Andy terang-terangan menentangnya.
Kent tersenyum kecil. Sikapnya tiba-tiba berubah.
"Andy kau terlalu serius, bagaimana mungkin aku membuat masalah begitu besar untukmu. Jika begitu aku pergi dulu. Lain kali saja aku mengajaknya makan malam. Benar bukan Sandra..."
Aku tak bersedia menjawabnya sekarang.
"Baiklah aku pergi dulu jika begitu. Sandra, akan kutelepon kau lain kali." Aku melihat punggungnya yang menghilang dari lobby, naik ke kantor di atas, rasanya sangat lega.
"Thanks Andy."
"Dia memang seburuk gosipnya. Untungnya aku tak pernah bekerja bersamanya."
"Ya kau tahu sendiri sekarang."
"Dia tidak akan lama disini, cuma dua hari. Tapi jika dia menyulitkanmu lagi, kau harus bicara dengan Boss Derrick untuk membuatnya diam. Orang seperti itu jika tidak dilawan dia akan terus mencoba. Jika perlu kau lawan dia dimuka umum, kau bukan bawahannya lagi berani saja tunjukkan padanya. Jika kau sekali tak bisa melawan dia akan menganggapmu man*gsa yang mudah untuk seterusnya."
"Iya, aku kaget tadi. Harusnya memang kulawan saja dia saat ada di lobby."
__ADS_1
"Ya sudah, hati-hati dengan tamumu, aku harus ke atas dulu."
Kali ini aku selamat, dua hari. Aku tak ingin bertemu mimpi buruk itu lagi. Sudah cukup, besok aku ke sho*oting range saja sementara tak ada tamu.