TAWANAN GAIRAH CINTA SANG DUDA

TAWANAN GAIRAH CINTA SANG DUDA
SEASON 5 Part 9. Gala Premier Tokyo 2


__ADS_3


POV Julie Harris.


Beberapa hari kemarin aku sibuk dengan urusan bisnisku sendiri dan hari ini aku menghadiri premier yang sudah direncanakan sebelumnya.


Premier kebanyakan di hadiri oleh pendukung produksi, dan juga kebanyakan di isi oleh orang-orang berpengaruh yang ingin liputan dan bisa dianggap mendukung promosi oleh tim marketing, tapi mungkin ada beberapa fans yang punya pengaruh bisa masuk, seperti orang yang Kelly peringatkan padaku Mark Ivanir, politisi kaya yang ternyata bossnya scammer.


Kali ini gala premier dan makan malam galanya diadakan di Toho Roppongi, aku berkenalan dengan beberapa artis Jepang yang ikut dalam premier, berfoto bersama mereka, mengobrol bersama mereka dalam bahasa Inggris mereka yang kadang terpatah-patah, walaupun aku juga mencoba belajar beberapa patah bahasa Jepang sebagai pendukung promosi, mereka ini didahulukan dalam event ini sebagai bentuk promosi.



"Selamat malam Nona Julie, senang bertemu denganmu lagi." Aku ingat tentu saja siapa laki-laki Kaukasian dengan jas rapi ini, karena Julie baru saja mengirimkan fotonya kemarin. Mark Ivanir.


"Selamat malam Tuan . Maaf, aku sangat buruk mengingat nama... Tuan?" Dan tentu saja aku tak akan mengatakan aku mengenalnya. Nanti dia akan besar kepala.


"Mark Ivanir, kau bisa memanggilku Mark."


"Tuan Mark, senang bisa bertemu denganmu lagi. Dimana kita pernah bertemu, apa di London?"


"Iya, aku salah satu penggemar besarmu, dulu kita bertemu dalam salah satu premier filmmu juga." Dia mengamit tanganku dan hendak mencium punggung tanganku. Aku dilema antara menolaknya dan membuat dia tersinggung. Sudahlah, hanya ciuman tangan, teringat Kelly bilang orang ini berpikir mesum tentangku dan membuat aku merinding ketika bibirnya dan brewoknya menyentuh kulitku. Dia tampan, jika wanita lain yang didekatinya mungkin mereka akan langsung tersanjung, tapi aku tahu lebih dalam dari itu, membuatku berpikir paling buruk padanya. Aku reflek tak bisa menahan diri menarik tanganku dan tersenyum canggung.


"Saya sangat berterima kasih Anda menyempatkan hadir ke sini. Anda punya bisnis di sini." Hanya tiga menit, aku sudah berpesan agar assistenku memberi tanda aku harus ke tamu berikutnya, sehingga aku tak perlu berlàma-lama dengannya. Tapi dimana dia, tak terlihat sama sekali.


"Iya, tepat sekali waktunya saat kedatanganku ke sini. Kebetulan aku mengenal beberapa orang yang bisa memberiku tiketmu. Yang belum ku dapatkan adalah undangan makan malam bersamamu. Bagaimana jika aku membawamu berjalan-jalan di Tokyo, aku cukup familiar dengan Tokyo."


"Kebetulan jadwalku padat di Tokyo, besok aku harus bertemu beberapa orang dan dalam empat hari sudah kembali ke London. Aku tak bisa berjanji apapun Tuan Mark."


"Aku mengerti. Jika begitu, kita bisa bertemu di London, mungkin aku bisa mendapatkan nomor telepon pribadimu. Akan sangat menyenangkan kita bisa makan malam di London, kota tinggal kita sendiri. Berapa nomormu?" Gigih sekali. Dimana assitenku itu, aku sedang kesulitan di sini, dia tidak muncul.

__ADS_1


"Aku pelupa, nomorku sendiri aku tidak ingat, nanti kau bisa tanya assitenku entah dimana dia. Ponselku juga dia yang bawa." Aku setidaknya bisa mencari alasan.


"Sayang sekali, aku ingin sekali mengajakmu makan malam, tak apa aku menunggu assitenmu sambil bicara denganmu. Ohh ya, sekalian sudah bertemu aku ingin memberimu hadiah kecil, aku jarang punya kesempatan untuk bertemu denganmu." Dia memberikan satu kotak yang seukuran dompet wanita dibungkus rapi.


"Ohh, hadiah? Kau baik sekali sampai membawakanku hadiah..."


"Untuk kau ini hadiah kecil. Tapi aku berharap kau suka." Dia memberikan kotak itu, yang terpaksa aku harus terima.


"Ehm, terima kasih."


"Boleh aku mengantarmu pulang. Hanya mengantar pulang, mungkin mengobrol...."


"Kau tak usah repot, panitia sudah menyiapkan semuanya." Dia masih memaksa bahkan kali ini mendekatkan dirinya padaku. Entah kenapa aku tak suka kehadirannya sama sekali. Gayanya bicara sangat sekat denganku membuatku terganggu.


"Aku berjanji ini hanya mengantarmu pulang." Dia bicara dan menyenderkan bahunya padaku, menyentuhkan lengannya. Kurang ajar sekali, apa dia pikir dengan memberiku hadiah dia punya hak untuk berdekatan seperti ini. Aku tersenyum canggung dan bergeser menjauh.


"Aku bisa..."


"Julieeee." Seseorang memanggilku dengan antusias, aku menoleh, satu lagi kejutan malam ini. Louis Allen?! Bagaimana dia bisa disini.


Dia tersenyum lebar padaku sambil merentangkan tangannya. Aku menyambut rangkulannya singkatnya. Lagipula pertemuan terakhir kami cukup akrab.


"Kau nampaknya kesulitan, perlu bantuan?" Dia berbisik padaku. Ternyata dia mengawasiku, agen pemerintah ini benar-benar sesuatu nampaknya. Kenapa dia muncul di sini?


"Iya." Aku berbisik singkat. "Louis? Kau disini? Lama sekali kita tidak bertemu..." Mungkin dia bisa dipakai sebagai penyelamat daripada aku harus mengobrol dengan pria ini. .


"Aku kebetulan di Tokyo, aku juga melihatmu kemarin saat di Kukinoi, ternyata sekertarisku bisa mendapatkan tiket gala ini, jadi disinilah aku." Oh dia melihatku kemarin di Kukinoi. Semoga dia tidak berpikir aku sedang mengikutinya. Kebanyakan kebetulan tidak bagus, orang seperti dia akan langsung berpikir ini bukan kebetulan.


"Kenapa kau tidak menyapaku."

__ADS_1


"Aku sedang bersama teman kau juga nampaknya sedang sibuk."


"Ahh iya, kemarin aku bertemu calon investor." Walaupun begitu tidak seperti Mark dia tidak berusaha menyentuhku setelah rangkulan singkat.


"Ahh maaf Tuan Mark, ini teman lamaku yang sudah lama tak bertemu dia di NY. Aku senang dia menyempatkan diri kesini sebagai kejutan." Nampaknya dari kasus kami terakhir dia tidak curiga padaku. Kudengar akhirnya dia bersedia bekerja sama dengan Thomas dan kasus itu selesai dalam waktu singkat. Thomas menjamin dia tidak menyebutkan sama sekali pertemuan kami.


"Tuan Mark, senang bertemu denganmu." Dia memperkenalkan dirinya secara formal, tapi kemudian beralih padaku lagi.


"Kau lama di Tokyo Louis? Aku kebanyakan di LA jika ke US, aku hanya transit ke NY belakangan." Aku mengobrol padanya, setidaknya memunggu assistenku datang.


"Mungkin sampai pertengahan minggu depan. Kau sampai kapan?"


"Aku hanya tiga hari lagi kukira. Acaraku cukup padat di Tokyo." Mark Ivanir tampak tersingkir karena aku terus bicara dengan Louis tapi, aku tak perduli, lebih bagus dia merasa tersingkir.


"Nona, kau harus menemui Tuan Hiro sekarang."


"Ahh Nona Julie assistenmu sudah datang, boleh kuminta nomor teleponmu supaya aku bisa meneleponmu."


"Kau masih punya penyakit pelupa, sampai nomor teleponmu sendiri kau lupakan? Tapi aku heran kau bisa lancar menghapal skenario."


"Skenario itu sumber penghasilanku, jelas aku harus menghapalnya." Kali ini dia sengaja. "Alice, tolong berikan nomor teleponku ke Tuan Mark." Nomor telepon di Alice memang no teleponku tapi untuk pekerjaan, hanya aktif selama Alice di sampingku. Jadi aku bisa menghindari siapapun yang ingin kuhindari. Alice dengan cepat tahu maksudku.


"Aku pergi dulu Tuan Mark, terima kasih atas hadiahmu. Louis nanti telepon aku oke." Aku bisa pergi karena di selamatkan oleh assistenku.


Kenapa Louis muncul disini itu masih jadi pertanyaan dalam benakku setelah sekian lama dia menghilang. Tapi bagaimanapun kasusnya sudah selesai.


Kurasa tak apa bicara dengannya lagi nampaknya dia tidak berbahaya lagi. Lagipula dia dan aku berbeda kota.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=

__ADS_1


__ADS_2