TAWANAN GAIRAH CINTA SANG DUDA

TAWANAN GAIRAH CINTA SANG DUDA
Part 79. Teman Lama 2


__ADS_3

"Meneleponmu? Aku tak tahu! Kau di wilayah berbeda, tangan kanan boss, mana mungkin aku menyusahkanmu." Nampaknya dia tak tahu aku orang terlibat di pemukulan Simon. Si bodoh itu benar-benar tak mencari tahu siapa aku?


"Kau di Jakarta sekarang? Bukankah kau terakhir di Singapore?"


"Aku beberapa tahun ini di Jakarta. Kasus apa yang kau tangani sekarang, ohh ya kau bekerja untuk siapa akhirnya, nama bossmu?" Dia diam, dia tahu Wong dan Leung tidak punya hubungan bagus. Dia menyeberang pihak ... begitu jauh.


"Ehm, kau tidak mengenalnya."


"Ohh, bossku kebanyakan di perhotelan, bukan orang Hongkong asli, namanya Simon Liu." Dia memelesetkan nama bossnya sendiri sekarang.


"Kau benar aku tak mengenalnya, aku ya tetap di keluarga Leung selama ini. Coba kau telepon aku, kau ingin kerjaan lapangan kenapa tak menelepon, aku juga bisa mendapatkanmu pekerjaan seperti itu."


"Begitukah."


"Aku benar-benar serius, kenapa kau tak meneleponku, aku bisa mengusahakannya. Aku kecewa kau menganggapku orang lain. Kau belum berkeluarga?"


"Aku lebih suka bekerja. Aku tak cocok dengan hidup berkeluarga kurasa. Setidaknya aku memutuskan begini." Kami berdua punya latar belakang keluarga sama-sama tak bagus, makanya kami bisa berteman dekat, tapi rata-rata anak geng punya latar keluarga yang jelek.


Aku berusaha sekarang, membuatnya merasa nyaman padaku. Mengajaknya ngobrol banyak hal mengenang masa lalu kami. Untuk menariknya kembali ke sisiku.

__ADS_1


"Disini aku punya sasana, kau mau latihan bersama? Kau masih jago kan? Sekaligus group boss punya shooting range. Ayo latihan denganku, bagaimana kalau akhir pekan, kau punya pekerjaan?"


"Ehm tidak..."


"Kalau begitu ayo, sudah lama kita tidak tanding." Dia tertawa.


"Bagaimana aku bisa menang melawanmu, jangan membuatku tertawa."


"Bandit licik, kau selalu merendah heh, hanya kau satu-satunya yang bisa lolos tanpa luka setiap kali kita berantem dengan geng lain."


"Aku mencari aman dengan semprotan lada." Dia tertawa ngakak sekarang.


Akhirnya dia setuju. Diam-diam aku menghela napas lega, aku tak ingin melawan teman lamaku. Kuharap dia mau mempertimbangkan bergabung denganku dan meninggalkan bossnya.


Malam Tata kerumah, kami makan dirumah hari ini. Sama-sama bisa pulang cepat.


“Ko, Papa jadi invest di perusahaan aku." Dia memberitahu saat kami sudah duduk berdua.


"Ohh baguslah, berarti kau bisa punya andil di perusahaan kamu sendiri,..."

__ADS_1


"Iya, memang bagus. Senang juga tapi ternyata aku akan pindah posisi ke manajeman, tapi mungkin aku masih bisa mengambil kerja kreatif."


"Bisalah, kamu bisa kasih ide buat brainstorming. Tapi kerjaan lapangan ya jangan handle kamu lagi, posisi kamu sudah beda." Dia diam sesaat.


"Tadi aku lihat koko ngobrol di mall. Kayanya asyik banget, teman lama ya Ko?Sama cewe yang kayanya umurnya gak jauh dari Koko, rambut pendek."


"Iya, udah bertahun-tahun gak ketemu dia ngobrol, dulu anak geng juga kaya saya, teman dekat, besok mau ngajak dia ke sasana, ohh ya besok kita gak jalan dulu ya, mau ajak dia latihan lagi, sebenarnya tujuannya mau ngajak dia masuk ke kita lagi."


“Ohh, ... gitu. Aku gak boleh ikut kah?"


"Ngapain itu tempat orang latihan, kamu kan gak pernah latihan martial art apapun. Gak usah ikut ya. Sore udah pulang gak sampe malem."


"Oke sayang." Dia diam saja. Aku melirik, cemberut. Gara-gara gak dikasih ikut? Apa cemburu ngeliat aku ngobrol sama temen lama?


"Kamu lagi jealous ya?"


"Engga."


"Terus kenapa manyun."

__ADS_1


"Kaga-kaga nih senyum-senyum nih." Aku emang ingin ngobrol full dengan Sandra untuk bisa menariknya. Kuabaikan saja dia, nanti juga baik sendiri kalo dikasih kue.


__ADS_2