TAWANAN GAIRAH CINTA SANG DUDA

TAWANAN GAIRAH CINTA SANG DUDA
SEASON 4 Part 16. Koenji 4


__ADS_3

"Tidak, maaf aku kadang pusing jika bergerak terlalu cepat tadi, tadi aku bekerja terlalu panjang. Tidak apa. Ryohei-san kau bisa pulang, aku tak apa aku hanya butuh duduk dan makan sebentar. Lalu aku akan istirahat..." Dia bahkan mengantikan aku memasukkan buah ke kulkas.


"Kau belum makan? Kuambilkan untukmu." Dia melangkah ke belakangku. "Dimana mangkok nasinya nya kuambilkan untukmu."


"Di situ, lemari ke dua dari kananmu..." Kepalaku benar-benar masih pusing. Aku perlu beberapa saat jika pusing seperti ini untuk memejamkan mata dan berhenti bergerak saja.


"Ada sop miso, kau harus makan ini." Dia malah memanaskan sup untukku. Astaga kenapa boss besar ini tersesat disini dan memanaskan sup untukku.


"Rhohei-san, kenapa kau harus mengerjakan itu." Aku masih memejamkan mata.


"Duduk saja. Ini nasimu. Tunggu supnya sebentar lagi." Dia beralih ke sisiku. " Kau ingin makan apa?"


"Yakiniku saja, yang lainnya tidak, taruh saja." Dia bahkan membukakan mangkuk saji makanan itu ke depanku, lalu kembali ke kompor.


"Ryohei-san, kau tak harus melakukan ini. Kenapa kau malah memanaskan sup disini. Ini bukan pekerjaan direktur. Tidak ada poin kredit berkurang karena kejadian ini." Dia tertawa di belakangku.


"Kau hampir mati dipukuli gara-gara masalahku. Berhentilah mengusirku." Suara mengambil mangkok, panci sup yang terbuka, dan sup panas itu ada di depanku.


"Makanlah,..." Itu belum cukup dia mengambilkan air minum untukku. Tapi dia belum cukup dia menuju kulkas, mengambil pear dan apple yang tadi ada di sana, menyingsingkan lengannya dan duduk disana mengupaskannya untukku.


"Makanlah. Kenapa kau melihatku." Aku melihatnya seperti Papaku yang duduk mengupas buah disitu sementara Mama membereskan peralatan makan.


"Kau tak perlu melakukan ini."


"Ada ebi furai, mau?" Dia mendengarku tapi mengabaikan perkataanku.


"Tidak ini saja." Aku makan mencoba menyelesaikan makanku dengan cepat, tak mau menahannya terlalu lama dia disini.


"Bagaimana kau tahu rumahku?"


"Bertanya pada bossmu. Aku cerita aku dimarahi habis-habisan oleh Ayahmu." Aku meringis.


"Kau tak makan?"

__ADS_1


"Aku boleh makan di sini? Jika Ayahmu tahu aku akan dimarahi lagi."


"Boleh, habis makan kau yang cuci piring."


"Baik." Aku tertawa mendengar jawaban cepatnya, rupanya direktur utama ini sedang kelaparan. Dan aku menyuruhnya mencuci piringpun dia tak keberatan.


Dia dengan cepat mengambil nasi dan sup miso, makan makanan yang sama denganku.


"Itu bukalah, kau membawa begitu banyak makanan."


"Tidak, buat kalian saja. Ini cukup."


Kubuka ebi furainya, dan kuberikan di piring lauknya. Dia memakannya akhirnya. Aku mencari lauk lainnya, direktur ini duduk di dapur rumahku yang sederhana dan makan seperti dia sudah terbiasa disini. Kejadian siang ini benar-benar tak masuk akal.


"Ini saja, tak usah buka lagi, nanti buat makan malam kalian saja." Sekarang aku berhenti dan melihatnya makan. Melihatnya makan membuat sakit kepalaku hilang. Aku sama sekali tak mengharapkannya muncul disini.


"Kenapa kau melihatku? Makanlah." Aku mengulum senyumku, mungkin dia sangat takut aku mengurangi poin skor kreditnya sampai dia berusaha sejauh ini.


"Okaeri...(Welcome)." Aku menjawabnya singkat.


"Itu Mamaku. Tak apa, dia tak akan memarahimu." Makannya terhenti aku melihat jejak kekhawatiran di matanya.


"Shiori kau sudah makan, Mama bawakan makanan." Dia masuk ke dalam. Lalu terhenti ketika melihat ada seseorang di dapur. "Kau..."


"Mama, Ryohei-san membawakan makanan dan buah-buahan ke sini. Tadi aku tiba-tiba pusing, dia berakhir mengambilkan makanan untukku dan akhirnya aku menawarinya makan di sini. Ryohei-san membawa banyak sekali makanan." Aku menjelaskannya dengan cepat.


"Nyonya maafkan saya sudah datang ke sini. Semoga Anda tidak keberatan." Mama melihatku dan Ryohei bolak balik, dia sama herannya kenapa direktur ini bisa ada di meja makan rumah kami kurasa.


"Kau sudah membayar tagihan rumah sakitnya, kau sangat baik. Duduklah, ayo makanlah lagi. Lanjutkan makannya, kenapa kau hanya makan itu? Itu sop rumahan." Akhirnya dia menguasai dirinya.


"Ini sudah cukup Bibi,..."


"Ini Bibi membawa Salmon Teriyaki, Mapo Tofo, Ayam Madu. Makanlah, kenapa kau tak keluarkan lauknya tadi?" Malah aku yang salah karena tak mengeluarkan lauk yang dibawanya.

__ADS_1


"Ryohei-san tak mau. Katanya itu cukup."


"Kau ini. Ayo kemarikan piringmu ." Mama mengambilkannya makanan.


"Bibi terima kasih. Aku merepotkan Bibi."


"Kau membawa begini banyak makanan dan buah. Terima kasih. Maaf kemarin kau dimarahi Paman, dia hanya sedih putri kesayangannya terluka."


"Tak apa aku mengerti Bibi. Ayo makan bersama."


"Kau mau teh? Bibi buatkan teh hangat."


"Tidak Bibi, tidak usah. Ini saja. Bibi ayo makan, aku membawa beberapa lauk mungkin kau suka." Dia menunjukkan pocari yang kuberikan.


Dia malah makan siang bersama kami. Membantu Mama membereskan piring makannya, walaupun Mama sekarang berkeras menolaknya, sungguh laki-laki yang sopan.


Dia bertanya tentang keadaanku ke Mama, apa yang bisa dibantunya, serta dia bilang dia sudah mencari bantuan orang lain untuk mencari orang-orang yang memukulku. Tapi dia tak lama setelah itu dia pulang.


Mama melihatku dengan pandangan aneh.


"Shiori, apa kalian semacam berteman dekat atau akrab sebelumnya." Aku tahu maksud Mama menanyakan itu.


"Mama, dia hanya mengkhawatirkan skor kreditnya. Bukan berusaha akrab denganku. Kau jangan salah sangka."


"Ohh ..." Perkataanku membuat Mama berpikir. "Dia sangat baik membuat kunjungan pribadi seperti ini. Padahal kalian hanya punya bisnis."


"Entahlah mungkin dia merasa bersalah dimarahi Papa. Mama aku ingin istirahat sebentar. Kepalaku sakit. Bukankah kau ada kelas jam 2?"


"Ahh iya Mama kembali sebentar mengecekmu, nanti mama kembali lagi oke, pulang jam enam. Istirahatlah."


Aku tak menganggap serius kunjungan hari ini. Ini hanya untuk skor kredit.


\=\=\=\=\=💚💚💚\=\=\=\=\=

__ADS_1


__ADS_2