TAWANAN GAIRAH CINTA SANG DUDA

TAWANAN GAIRAH CINTA SANG DUDA
SEASON 5 Part 33. We're Just Friend Now


__ADS_3

"Hallo Kim." Aku menyapa Kim yang masuk sementara aku sibuk dengan ponselku.


"Kubawakan kalian makanan. Bagaimana pasien kita."


"Dia belum bisa makan selain makanan rumah sakit, dokter belum mengizinkannya. Dia sedang kesal tak bisa makan makanan selain sup dan kentang goreng." Sekarang Kim tertawa.


"Ini buatmu dan Bibi saja berarti. Ini restoran kesukaanmu tapi berarti tidak boleh. Bersabarlah."


"Kalian memang senang melihatku tak berdaya, kau dan Tommy tidak memberi kabar sedikitpun kemarin." Kimberly datang malam itu, tapi Tommy masih digantikan antara John dan Henry.


"Aku dan Tommy kemarin mengejar penembakmu. Dia dikenali Tommy, orang yang pergi bersama Alberto Tosar, Alvarado Tosar, keponakannya, punya latar belakang militer, dia menyamar seperti wanita waktu keluar dari gedung."


"Ohh, dia menyamar sebagai wanita? Bukankah..."


"Kau benar pembunuh Chelsea juga wanita. Aku mendapat buktinya, coat dan topi yang dipakainya masih ada di lemari bajunya. Plus peluru dan senjata yang dipakai sama. Sekarang kita punya bukti siapa pembunuh Chelsea. Aku akan pastikan dua orang itu membayar."


"Jadi begitu." Louis sedikit terdiam. Pembunuh istrinya, nampaknya setelah sekian lama akhirnya mereka mendapatkan bukti juga.


Nampaknya semua terbuka sekarang. Senang melihat mereka akhirnya mendapatkan keadilan.


"Penyidik sedang mengumpulkan lebih banyak bukti untuk mendukung dakwaan di susun oleh jaksa. Kita akan mendapatkan keadilan sekarang."


"Aku ke sini hanya mengatakan itu. Tommy dan aku akan jadi saksi nanti. Tapi kau karena pekerjaanmu tidak akan dilibatkan."


"Oke." Louis hanya menjawab pendek.


"Aku harus kembali ke kantor oke. Aku kesini membawakan kalian makanan saja. Julie kau belum bekerja?"


"Jadwalku baru mulai Minggu depan."


"Ahh ternyata kau punya perawat gratis." Aku meringis saja, sampai sekarang dia belum mengatakan apapun padaku.


"Oke aku kembali. Sampai jumpa lagi."


Louis terlihat diam saja kemudian. Mungkin memikirkan kasus istrinya. Aku mendekatinya dan duduk bersamanya.


"Akhirnya kasus istrimu dapat di sidangkan, kau pasti lega."


"Aku sudah tahu, cuma aku tidak punya bukti."


"Sekarang apa yang akan kau lakukan?"


"Melanjutkan hidup kurasa. Sudah selesai, mereka akan dihukum. Aku sudah selesai melakukan apa yang harus dilakukan."


"Melanjutkan hidup." Aku mengulang kata-katanya. Masa depan yang berbeda setelah ini, apa ada aku di masa depannya. Aku ingin bertanya begitu, tapi dengan dia menerimaku di sini, kurasa kami akan mulai terlibat satu sama lain, dia sudah membiarkan aku di sini. "Apa kau masih punya penyesalan."

__ADS_1


"Setelah melakukan sesuatu, bebanku berkurang. Penyesalan, entahlah mungkin. Tapi aku juga tahu aku sudah melakukan yang bisa kulakukan. Mungkin sekarang setelah semuanya terbuka aku bisa memaafkan diriku sendiri."


"Hmm... kurasa itu hal yang baik bukan."


"Iya kurasa." Dia melihatku. "Kau tak udah menungguiku begini, aku tak perlu ditunggui."


"Tak apa. Pekerjaanku baru dimulai Senin. Aku memang bebas sekarang."


"Kau tahu aku belum bisa menjanjikan apapun padamu sekarang."


"Iya, aku juga tak memaksamu mengatakan sesuatu, aku hanya ingin kau tahu aku ada di sampingmu."


Dia tersenyum padaku.


"Kau tak punya pacar? Aku sudah melakukan hal yang jahat padamu. Kita sudah cukup lama tidak bertemu." Aku meringis. Kenapa dia tahu dan bagaimana aku menjawab itu.


"Punya, tapi aku tetap ada disini akhirnya. Aku memang sebodoh itu." Giliran dia yang meringis. "Kau ingin aku memutuskannya sekarang?"


"Itu urusanmu. Mungkin kau merubah pikiranmu lagi nanti. Terserah padamu."Dia sama sekali tidak cemburu, mengesalkan, dia malah tersenyum padaku. Mungkin itu ujiannya.


"Kau memang kejam padaku." Aku merajuk dia melihat padaku lagi.


"Aku baik padamu, membiarkanmu memilih apa yang kau inginkan. Kau punya banyak pilihan yang lebih baik dan aku memberimu waktu yang kau perlukan untuk berpikir." Sekarang dia melakukan satu hal yang kusuka menyentuh rambutku dan menyisipkannya. Entah kenapa dia suka melakukan itu.


"Aku sudah memilih." Dan kembali dia tidak mengatakan apapun soal itu.


"Aku boleh ke apartemenmu?" Apa aku boleh berkunjung saat dia di rumah?


"Hmm, datang saja." Aku tersenyum, walaupun sepertinya tidak yakin, dia memberiku izin datang ke rumahnya. Dia memang memberiku cara membuktikan pilihanku.


Itu cukup. Karena memang waktu yang akan membuktikan segalanya.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Minggu depannya aku sudah sibuk dengan pekerjaanku. Tapi dia sudah keluar dari rumah sakit. Walaupun masih di haruskan tidak boleh banyak bergerak tapi dia sudah bisa menangani pekerjaan nampaknya.


Aku tiba di rumahnya lagi kali ini jam tujuh malam, karena perkerjaanku selesai lebih cepat kali ini, ini kali kedua aku ke sini. Henry bilang dia masih di ruang kerja ada conference online. Ada staffnya juga ternyata.


Aku menunggunya di dapur sambil makan. Tak lama dia dan staffnya keluar kemudian pulang, nampaknya pekerjaannya sudah selesai.


"Aku membawakanmu makan malam." Dia duduk di depanku.


"Aku memang lapar, terima kasih." Dia langsung makan. Nampaknya dia benar tak terganggu kehadiranku. Dia menganggapnya sesuatu biasa?


"Kau sudah bekerja sampai malam? Dokter mengizinkannya."

__ADS_1


"Asal aku tak melakukan aktivitas fisik berlebihan itu diperbolehkan. Kau pulang cepat hari ini?"


"Ahh iya, aku mendapat giliran photo duluan dan selesai duluan hari ini."


"Tidak punya pekerjaan rahasia?"


"Tidak sementara ini."


"Kau bisa berkelahi?"


"Aku bisa trik menyelamatkan diri, GPS, support system dan pesona kecantikan tak tertandingi jika sedang bertugas. Jangan khawatir padaku."


"Itu tidak menjamin apapun."


"Selama ini aku baik-baik saja."


"Jika satu saat kau tak baik-baik saja bagaimana."


"Itu urusan nanti. Tak usah memikirkannya sekarang." Kenapa dia menanyakannya. Dia khawatir bahwa aku akan menemui nasib yang sama dengan istrinya. "Aku tidak bekerja sebagai orang dalam oke, tak udah khawatir padaku. Kebanyakan malah aku tak tahu kasusnya. Dan backgroundku sempurna. Terima kasih sudah mengkhawatirkanku."


Dia melihatku dengan sangsi.


"Ibumu sudah kembali."


"Sudah, dia bilang salam untukmu." Ibunya baik sekali padaku Walaupun dia tidak mengatakan sesuatu yang belum saatnya, tapi pasti jika kami bersama dia tidak akan keberatan.


"Kau sekarang mengangapku apa?"


"Teman." Louis menjawapku enteng.


Aku mencebik. Ya baiklah, sebelumnya aku dianggap wanita penggangu yang harus diusir. Nampaknya itu lebih baik. Setidaknya sama tingkatannya dengan Kimberly.


"Kapan kau kembali?"


"Minggu depan."


"Baiklah." Dia pikir kami kami akan terus berjauhan dan aku akan berubah pikiran.


"Aku hanya kembali ke London seminggu, lalu kembali lagi seminggu setelahnya. Apa kau akan merindukanku." Bertanya dengan gaya andalanku memiringkan kepala dan memakai nada manja.


Dia tidak menjawab. Kemajuan dia tidak terang-terangan menolakku lagi sekarang. Hanya diam mengatakan dia belum memutuskan apapun.


"Kau akan belajar merindukanku jika begitu." Aku meringis lebar sambil terkikik geli. Dia tetap pada ekspresi datarnya. Si sombong ini malah tambah membuatku penasaran.


Dia membiarkanku berada di sekitarnya. Dia pria dan aku wanìta, aku tak percaya dia tak bisa dipengaruhi sedikitpun. Aku akan lebih sering berada di sini dan menunggunya sedikit terpeleset.

__ADS_1


Akan kita lihat sampai dimana dia berhasil bertahan.


__ADS_2