
Aku duduk di depan Colin dengan merasa bersalah sekarang. Aku tak tega, tapi lebih tak adil lagi membuat hatiku terbagi seperti ini. Jadi ini harus dilakukan secepatnya. Mungkin ada seseorang yang menunggunya di luar sana sementara dia berusaha untukku.
"Kau ingin bicara? Kenapa nampaknya begitu berat mengatakannya?"
"Aku tak merasa bersalah padamu." Dia memandangku dan tersenyum kecil. Dia menghela napas panjang.
"Ini tak berhasil bukan. Aku tahu, kadang kau tak bersamaku."
"Aku tak bisa membohongi hatiku sendiri, kau sangat baik. Tapi hanya aku yang tak bisa, aku yang sulit... ini juga tak adil bagimu."
"Akhirnya kalian bersama, entah siapapun itu? Kurasa dia di NY bukan, kau pergi tiba-tiba kesana karena sesuatu."
"Tidak, dia hanya menganggapku teman sekarang. Dia bahkan selalu tak ingin aku di dekatnya jika bisa. Tapi alasan aku mengatakan ini padaku karena tak adil bagimu untuk berusaha untuk kita, sementara aku tidak bisa. Aku minta maaf."
"Hmm... jika dia tetap tidak bisa?"
"Itu resiko dari pilihanku. Kebodohan yang harus kutanggung sendiri tanpa melibatkanmu. Kesalahan ada di pihakku. Kau berhak atas pilihan lain yang lebih baik daripada berusaha untukku."
Dia diam.
"Jika dia masih tak bisa menerimamu kenapa kau masih berusaha untuknya. Bukankah kau yang tak logis..."
"Hatiku yang tak logis Colin. Sudah kubilang aku hanya bisa menyalahkan diriku sendiri. Hidupku mungkin lebih complicated dari yang terlihat."
"Apa dia tahu hidupmu lebih dari keluargamu sendiri?"
"Kami hidup di dunia yang sama."
"Maksudmu sama-sama di dunia hiburan."
"Aku tak bisa memberi tahumu soal ini. Aku minta maaf."
"Apa kau terlibat hal yang berbahaya?" Dia menatapku dengan penasaran.
...
Bye Colin 😘 Ntar mak cariin buat kamu 😁 Udah dipesen ama mak se RT, kacian jd pemanis doang kali...
...ini 😜 maap yaaa...
...----------------...
"Tidak. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan." Aku tersenyum, Colin memang baik. Dia masih bersikap sebaik ini padaku. Sebersit rasa penasaran menyeruak kenapa dia bisa menyangka aku terlibat hal yang berbahaya. Aku ingat pernah bertemu dengannya di sebuah tugas yang melibatkan targetku. Tapi dengan membahasnya akan membuat dia lebih curiga lagi.
Aku tetap menghindar karena walaupun iya, tak satupun dari kami tak bisa membuka diri kami masing-masing.
"Colin, maafkan aku."
"Sudahlah, tak ada yang perlu dimaafkan. Kau bersikap jujur dan terbuka itu lebih baik. Aku tahu perasaan tak bisa dipakasakan. Lebih tak adil jika kau membayangkan orang lain saat bersamaku." Dia tersenyum masam, aku berharap aku bisa mengubah hatiku setelah sekian lama. Tapi mungkin ini sudah takdirku.
"Jaga dirimu oke." Kami berbincang sebentar sebelum dia mengakhirinya.
"Terima kasih Colin. Kau juga jaga dirimu."
Akhirnya aku membereskan satu masalah. Hatiku lega, setidaknya aku tak dihantui rasa bersalah ke Colin lagi. Mungkin kakakku akan bertanya kenapa kami putus nanti, tapi itu masalah yang bisa kujelaskan tanpa harus merasa bersalah.
__ADS_1
...----------------...
Jadwalku penuh setelah aku kembali ke NY. Latihan dan persiapan show mewarnai hariku. Aku berencana mengambil tawaran film lagi.
Aku kadang menelepon Louis, tapi tidak sering. Dia menanggapiku dengan baik kurasa. Tak ada penolakan dari nada bicaranya.
Tapi malam ini aku terdampar ke rumah Louis setelah menelepon Henry dan mengkonfirmasi dia ada di sana. Aku merindukan melihatnya lagi. Dia mengizinkan Henry memberi tahu bahwa dia ada di sana. Suprise. Itu saja sudah membuatku senang. Dia terus memberikan aku kesempatan berada di dekatnya. Teman seperti yang dia bilang.
Seorang pengurus rumah membukakan pintu untukku saat aku datang.
"Tuan Louis sudah kembali bekerja?"
"Sudah Nona, sudah seminggu kukira. Tapi dia mematuhi dokter tidak bekerja terlalu larut. Dia ada di ruang tengah, Tuan sudah tahu Nona akan datang."
"Louis... Kau sudah baik?" Aku melihatnya sudah duduk santai sekarang.
Aku duduk disampingnya, dia sudah memakai baju runah yang nyaman, aku ingin memeluknya, saat dia duduk di sofa ruang duduk sambil melihat tabletnya, bersikap sedikit manja padanya. Tapi mungkin dia akan terganggu. Biarlah begini saja.
"Jauh lebih baik. Ada makanan di meja makan jika kau lapar. Kau sudah makan " Dia bahkan memberitahu ada makanan, menanyakan apa aku lapar . Aku tersenyum lebar karena itu.
Dia perhatian juga, bertanya apa aku sudah makan atau belum. Aku melihatnya, ternyata ada pizza dan pasta di sana, masih hangat, mereka baru membawanya
"Terima kasih." Dia hanya melihatku tersenyum lebar tapi tak membalas perkataanku.
Si sombong ini entah kapan melonggarkan pertahanannya. Apa sangat sulit menerima orang lain selain istrinya selain teman.
"Sejak kapan kau disini?" Dia yang bertanya sekarang.
"Ehm sudah dari Senin, tapi jadwalku padat dari pagi di musim seperti ini. Jika kau mencariku aku ada di apartmentmu yang biasa tapi rata-rata bisa diatas jam 9. Kau sudah pernah kesana."
"Kau sudah masuk kantor?"
"Sudah."
"Lukamu sudah kering. Kau tak perlu di balut lagi dadanya."
"Tidak. Hanya masih kontrol ke dokter lagi. Masih belum boleh berolahraga." Sudah hampir sebulan memang dari kejadian itu.
"Kau sudah merasa baik?"
"Kurasa sudah. Kecuali belum fit 100%, masih belum bisa berolahraga."
"Baguslah..Aku senang kau bisa bekerja lagi."
Dia pindah dari sofa ke meja makan sekarang menemaniku makan. Aku menunggu apa yang ingin dia katakan.
"Kau lama di sini?"
"Ehm, iya lama, masih latihan, rekaman untuk iklan musim baru. Aku mungkin segera ada syuting film di LA sekitar sebulan. Kenapa kau bertanya? Kau ingin ke LA menemaniku." Aku tersenyum kecil padanya. Kurasa dia tak akan menjawabku seperti biasanya.
"Aku memang mau ke LA tiap bulan, tapi tak lama biasanya." Di luar dugaanku kali ini dia menjawabku. Tapi jawabannya sama juga menyebalkannya. Tak pasti.
"Ohh benarkah? Kau akan mengunjungiku?" Aku ingin dia mengunjungiku tentu saja.
"Aku tak tahu, lihat nanti saja." Yah setidaknya dia tak mengatakan langsung tidak. "Tidak punya pekerjaan khusus?"
"Belum. Belum ada jadwal."
__ADS_1
"Bagaimana jadwalmu pekerjaan khususmu itu datang?"
"Tak tentu, kadang aku sudah tahu dari jauh-jauh hari, kadang langsung dalam beberapa jam pernah. Kelly yang mengatur. Aku hanya tinggal jalan dengan skenario mereka."
"Kau pernah berpikir untuk berhenti?"
"Selama ini belum. Mungkin karena aku juga menyenangi rasanya." Dia menatapku
"Kau tahu dulu kami berani menikah karena kami sudah tak bertugas di lapangan lagi. Kami pikir saat itu kami sudah di kantor memikirkan strategi, tapi ternyata masih ada masa lalu yang mengikuti kami. Itu tak pernah terlintas dalam pikiran kami." Dia ternyata masih berpikir soal masa lalu. Bukankah sekarang dia juga masih bertugas.
"Bukankah kau sekarang sama saja."
"Tidak. Aku tak perlu berpura-pura sekarang. Itu hal yang berbeda. Lagipula aku di pasang sebagai CEO perusahaan yang sebenarnya."
"Itu bagus. Pembunuh istrimu sudah disidang?"
"Awal bulan depan. Di apartmentnya di temukan banyak bukti soal pembunuhan lain. Dia tak akan lolos dari beberapa dakwaan pembunuhan tingkat 1. Sudah dipastikan menghabiskan seumur hidup di sel."
"Itu melegakan. Setelah bertahun-tahun kau mencari bukan."
"Iya melegakan. Kau tahu satu saat kau harus berhenti mengerjakan pekerjaan berbahaya ini."
"Iya aku tahu." Mungkin aku berhenti jika kami juga punya keluarga, apa boleh aku berpikir seperti itu.
"Pacarmu tak marah kau kesini terus." Dia bertanya soal pacarku.
"Aku single. Tak punya pacar." Aku tersenyum.
"Ohh." Dia menatapku sebentar dan mengalihkan pandangannya. Ya aku tahu dia tak akan mengatakan apapun padaku. Pembunuh istrinya saja belum diadili, biarlah kami menjadi teman saja, tak ada gunanya terburu-buru.
"Pizzanya enak, aku belum pernah mencoba restoran ini. Bagaimana kabar Bibi. Dia tidak kesini lagi?" Aku mencari pembicaraan yang lain.
"Tidak, Mama lebih suka menghabiskan waktunya di pedesaan. Dia datang tapi kadang hanya sebentar menenggok jika tak ada keperluan."
"Ibumu tidak sering berada di NY?"
"Kadang saja, jarang kurasa."
Kami ngobrol bersama saat makan ini menyenangkan. Dia menemaniku makan. Aku tak merasa dia terganggu akan kehadiranku. Itu sudah cukup.
"Aku mau pulang, besok aku ada pekerjaan pagi aku harus istirahat, kau juga harus istirahat. Terima kasih untuk pizzanya." Aku beranjak dari meja makan.
"Kuantar saja. Apartmentmu tidak jauh."
"Tak usah. Nanti saja jika kau sembuh. Seperti yang kau bilang ini tak jauh." Dia bahkan bersedia mengantarku. Nampaknya semua uang kuusahakan mengerakkannya. "Hmm... bagaimana kalau begini saja, kalau kau sudah baik, maukah kau mengajakku makan malam." Sekarang dia tersenyum melihatku.
"Kau pandai menawar ternyata."
"Setuju? Berjanjilah padaku." Aku memang menawar.
"Iya baiklah." Setelah sedikit di paksa dia menyetujuinya.
"Jangan lupa bawakan aku bunga mawar." Dia meringis lebar dan aku melambai padanya.
Dia akan membawakan mawarku. Itu akan jadi kencan pertama.
\=\=\=\=\=\=\=\=
__ADS_1