TAWANAN GAIRAH CINTA SANG DUDA

TAWANAN GAIRAH CINTA SANG DUDA
SEASON 4 part 47. This is Your Fault! 2


__ADS_3

"Begitu rupanya. Yah rumah kita berantakan, banyak yang harus diganti. Tapi sudahlah, yang penting tidak ada yang terluka parah, orangmu sangat membantu, terima kasih lagi Richard." Mama menepuk lengannya. Ryohei tiba di sampingku kemudian. Rupanya polisi sudah selesai bertanya mereka diantar ke luar.


"Kau tak apa?"


"Tidak, aku baik."


"Kau yang menolong Paman dan Shiori, terima kasih." Ryohei membungkuk kepada Richard, dia mengucapkannya dengan bahasa Inggris yang lumayan fasih.


"Kau harus melakukan sesuatu soal ini, kalau tidak dia akan menjadi korban." Kata-kata itu langsung tertuju kepada Ryohei dari Richard.


"Dia sudah melakukan sesuatu Richard." Aku menjawabnya. Ryohei diam, nampaknya dia merasa bersalah.



"Melakukan apa, kalian masih terluka begini." Richard berkeras menudingnya. "Jika kau tak mampu membereskannya, aku yang akan melakukannya." Kenapa malah jadi Richard bicara keras dengan Ryohei.


"Richard. Tolong..."


"Baik, dia kekasihmu. Tapi masalah ini sudah berlarut-larut selama tiga bulan. Lain kali apa lagi yang terjadi, kau bilang dia melakukan sesuatu? Apa saja yang dia lakukan tiga bulan." Semua orang diam.


"Richard,... tenanglah." Papa yang menepuk bahunya.


"Paman, aku akan selesaikan masalah ini. Akan kulihat sampai di mana wanita yang bernama Yuna Aize itu punya nyali. Kalian tak usah pergi kemana-mana."


"Saya memang salah." Dia meminta maaf kepada Papa dan Mama.


"Bagus kau tahu." Richard masih mencercanya.


"Saya bersedia menerima saran Anda. Anda benar saya terlalu lambat menangani masalah ini. Saya sudah meminta saran teman saya, Wakai Gashira ayah Yuna tadinya bergabung dengan dua geng besar di Tokyo, saya meminta saran kepada Hisao Yamada, dia bersedia membantu saya agar dua geng itu tidak ikut campur. Dia membantu menelepon kepala polisi untuk lebih serius mengusut kasus lainnya. Saya benar-benar tak menyangka wanita itu akan melakukan ini." Kurasa Ryohei sudah melakukan banyak hal.


"Kenapa kau berputar-putar begitu. Cekik saja wanita itu, kau pikir ancaman kosong begitu berguna untuk orang sepertinya yang sudah terbiasa punya kekuasaan besar." Ryohei memandangnya.

__ADS_1


"Jadi maksudmu aku harus menghajarnya secara langsung. Bagaimana kalau dia membalas." Richard tersenyum.


"Begini saja, aku pastikan dia tidak akan menggangu keluarga Shiori lagi, masalahmu kau selesaikan sendiri oke. Semantara kau dan Shiori tidak saling bertemu."


"Kenapa kau malah mengatur ..." Ryohei meninggi, tapi Richard memotongnya.



"Karena kalau kau tak bisa mengatasi masalahmu, akan berbahaya bagi Shiori, itu cukup jelas, selesaikan masalahmu dulu."


"Tapi..." Sebelum dia bicara, Papa menghentikannya.


"Ryohei, kurasa apa yang dikatakan Richard benar. Kau harus fokus menyelesaikan ini secepatnya. Paman dengar anakmu juga di sasarnya, jika terjadi sesuatu karena kau bermain lembek dengan mereka kau juga yang akan menyesal. Bukan Paman melarang kalian bertemu untuk sekarang, tapi Shiori sudah pernah cedera berat. Paman minta kau mengerti. Ini juga lebih mudah bagimu, kau menggandakan perlindungan untuk anakmu dan fokus menghajar mereka. Paman percaya kau bisa menyelesaikan ini dengan baik, lebih cepat ini selesai lebih baik juga bagimu."


Ryohei mendengar kata-kata Papa yang walaupun di ucapkan dengan nada biasa, tapi tak bisa dibantah.


"Saya mengerti."


"Paman, aku akan melakukan sesuatu secepatnya. Paman harus istirahat, nanti aku akan datang lagi." Richard langsung pamit kepada Papa.


"Terima kasih Richard, Paman, Bibi dan Shiori sangat menghargai bantuanmu. Datanglah kapan saja kau mau."


"Hati-hati Richard, kau jangan menentang bahaya." Mama yang sekarang menepuk bahunya.


"Tenang saja Bibi. Aku tahu apa yang kulakukan." Dia melihat padaku. "Shiori, aku pergi oke. Didekat sini sudah ada yang berjaga, sudah kukirimkan nomor orangnya padamu. Lihat pesanmu."


"Iya terima kasih lagi." Dia tersenyum.


"Aku pergi." Dia melambai padaku. Aku tahu Ryohei memperhatikanku, nanti dia akan bertanya padaku siapa Richard pastinya.


"Ryohei, kau juga sebaiknya kembali. Tak apa Paman baik-baik saja. Ini bukan apa-apa, lebih sakit rasanya ketika melihat Shiori yang terluka. Paman memberi aturan ini bukan untuk memisahkan kalian, tapi supaya kau lebih fokus menyelesaikan masalah. Sekali lagi Paman katakan agar kau mengerti..."

__ADS_1


"Saya mengerti Paman, saya memang perlu bertanggung jawab. Bibi maaf saya membuat Bibi khawatir."


"Sudahlah, tak apa Ryohei. Jaga Sayuri. Salam buatnya dari Paman dan Bibi. Pulanglah, semua sudah aman. Terima kasih sudah datang." Mama menepuk bahunya. Nampaknya Mama juga tak mau membuatnya berkecil hati.


"Shiori, aku kembali."


"Mama dan Papa akan masuk dulu. Jangan lupa kunci pintunya." Mama memberikan kesempatan kami bicara. Aku melihat Ryohei yang menatapku.


"Aku minta maaf." Aku menggeleng.


"Bukan salahmu."


"Ini jelas salahku. Richard itu lebih tahu cara melindungimu. Dia benar ini salahku."


"Ryohei..."


"Aku akan menyelesaikan ini secepatnya. Jangan meragukanku." Dia memelukku dengan erat.


"Kapan aku meragukanmu."


"Dia mantan istimewamu?" Aku tertawa kecil menanggapinya. "Setampan itu, tak heran kau memandang remeh direktur manapun. Tapi aku tak akan kalah darinya. Mungkin sekarang aku kalah..." Aku tersenyum dan tersanjung dia mengatakan itu, dia tidak marah tapi bersedia melakukan yang lebih baik.


"Dia hanya teman baik sekarang." Dia memelukku lebih erat dan melepasku kemudian.


"Aku pergi. Jika ada apapun teleponlah, pengawalanmu akan tetap berjalan oke."


"Iya, kau tak boleh emosi menyelesaikan ini." Aku takut dia marah.


"Aku tahu. Aku pergi." Dia mencium keningku dan berbalik pergi.


Berhati-hatilah Ryohei, aku menunggumu kembali.

__ADS_1


__ADS_2