
“Ya udah, aku nurut aja aku gak keluar sama Koko, ketemu di rumah aja boleh kan.” Dia tiba-tiba jadi melunak sekarang, gara-gara omonganku tadi? Dia menurut karena menyadari aku mengkhawatirkannya bukan takut dengan Cherrie. Aku sudah lama tidak punya hubungan suka, perkara cinta, ini membingungkan, bahkan aku tak tahu apa yang harus kulakukan pada Tata.
“Hmm, iya boleh kesini.” Dia jadi tak bicara banyak lagi. Seperti aku yang sekarang tiba-tiba tak tahu apa yang harus kukatakan lagi. Ini canggung sekali.
“Eh Ko, brokolinya di abisin aja tanggung.” Dia bersikap seperti biasa lagi sekarang, mengambilkan lauk ke piringku dan tersenyum lagi padaku. Dia mengajakku ngobrol ke hal-hal ringan, seperti tak terjadi apapun sebelumnya, aku sekarang berganti merasa menjadi orang bodoh.
Tiba-tiba ponselnya berbunyi.Dia mengangkatnya.
“Cecil, honey, bagaimana kabarmu...” Aku hampir tersedak. Cecil meneleponnya? Putriku?
“Tante baik, sedang makan. Ada Papamu disini.” Dia tertawa mendengar balasan Cecil di telepon. Dua orang wanita ini, apa yang mereka sedang gosipkan. “Kau lupa Tante bilang rumah Tante yang baru dan rumah Ayahmu hanya berjarak 4 rumah.” Dia tertawa lagi. Entah apa yang Cecil katakan padanya, nampaknya mereka berdua sering bergosip satu sama lain, apa yang mereka bicarakan aku tidak tahu selama ini, Tata tersenyum lebar mendengar Cecilia bicara sambil melihatku, sekarang aku merasa dipermainkan.
__ADS_1
“Tidak, mana mungkin.” Tata tertawa menjawab Cecil, entah apa yang tidak mungkin.
“Cecil mau bicara denganmu...” Dia memberikan ponselnya padaku. Dan meninggalkanku membawa piring kami yang sudah kosong ke bak cuci. Aku pindah ke sofa ruang tengah. “Tata, di kulkas banyak buah.”
“Oh, oke aku akan melihatnya.”
“Halo, kenapa kau menelepon Tante Tata malam-malam begini.”
“Cecilia Tan, jaga bicaramu.” Aku langsung memakai Cantonese agar Tata tidak mengerti walaupun aku tak sepenuhnya yakin Cecil akan tutup mulut untuk tidak membocorkan apa yang kukatakan padanya.
“Biar kutebak Papa, kau tak seromantis itu, kau makan dengan sayur malam-malam begini, kau mengajak Tante Tata makan sayuran dan nasi merah bukan. Tapi kurasa dia membawa lauknya sendiri, kau benar-benar payah Papa.” Dia ngakak saat aku tak bisa menjawabnya, dia mengatakan dengan benar semuanya.
__ADS_1
“Anak kecil, jangan mengurusi urusan orang tua.”
“Papa, kau tahu aku bukan anak kecil, kau itu perlu dijerumuskan sekali-sekali. Jika aku disana aku akan punya banyak kesempatan. Tunggu saja kau Papa, jika kau bersikap kaku seperti itu, Tante Tata yang cantik itu akan lebih memilih pria lain dan kau gigit jari saja. Saat itu aku tak bisa menolongmu lagi, kau tinggal menangisi saja nasibmu.”Aku mengaruk kepala.
“Kau bergosip tentang Papamu dengan Tante Tata? Apa yang sudah kau katakan padanya.”
“Itu pembicaraan wanita Papa. Kau tidak bisa tahu.” Anak ini kelakuannya,... sekarang dia lebih memilih punya rahasia bersama Tata.
“Bagus, kelakuanmu sangat bagus.” Dia tertawa mendengarku mengomentari kelakuannya.
“Aku senang kalian punya rumah dekat, jangan pelit mengunjunginya. Calon istrimu masa depanmu itu terlalu sabar Papa. Jika itu aku aku tak akan bersabar seperti itu.”
__ADS_1
“Anak kecil kau memang pikir kau tahu segalanya. Sudahlah selesaikan PR-mu sana.”