
"Kami juga merindukanmu." Setelahnya dia beralih ke pada Louis. "Ini Louis. Kau ternyata tampan sekali. Jauh lebih baik Julie, sangat jauh lebih baik daripada seleramu yang dulu." Louis tertawa dipuji begitu.
"Mam, senang bertemu Anda. Aku Louis Richard Allen, kau bisa memanggilku Louis atau Richard." Mama bahkan tak segan memberikan pelukan untuknya. Aku merasa senang Mama memberikan dukungan untuknya.
"Aku akan mengikuti Julie saja memanggilmu Louis,
ayo kalian masuk Papa sudah menunggu untuk mengobrol, ini masih jam minum teh. Mama sudah siapakan kue-kue favorit kita." Ahh Londoners, selalu dengan minum tehnya. Mama suka sekali membuat acara minum teh ini di rumah ini bersama teman-temannya.
"Adam sudah datang Mom?" Aku belum melihat Adam dan Neil di sini. Padahal Adam pendukung kami.
"Oh belum dia dan Neil akan datang di acara makan malam. Tenang saja dia berjanji akan datang." Kami berjalan ke ruang duduk Mama yang cantik dengan taman terbukanya. Papa ada di sana.
"Papa sayang, maaf aku baru kembali." Aku memeluk Papaku tersayang.
"Putri nakal, kau terlalu senang di NY sekarang?" Aku tertawa.
"Aku pasti pulang. Hanya tidak sesering dulu lagi ke London." Aku sudah menjelaskan padanya sebenarnya. Kupikir dia akan mengerti.
__ADS_1
"Papa tahu, tak apa. Asal kau bahagia lakukan apa yang kau inginkan." Dia mencium keningku. Ciuman seorang Ayah yang selalu membuatmu rindu kembali.
"Ahh ini dia Louis. Semua membicarakanmu disini. Sekarang kau di depan kami." Ayah beralih pada Louis.
"Sir, senang dan terhormat dapat menerima undangan Anda." Papa menjabat tangan Louis dan menepuk bahu Louis.
"Adam yang membicarakan tentangmu, kau membuat putriku kabur ke NY, tentu saja kita harus bicara." Kenapa kata-kata Papa terdengar seperti ancaman.
"Saya mengerti Sir. Semoga saya tidak mengecewakan Anda." Tapi untunglah Louis cukup lugas menjawabnya.
"Ayah tidak mengancamnya. Kau saja yang terlalu perasa. Kau merasa terancam Louis."
"Tidak Sir. Saya mengerti maksudnya Anda."
"Kau dengar, tidak ada yang mengancam disini." Papa tersenyum padaku.
"Ayah, jangan terlalu keras padanya." Aku memohon saja, Ayah lemah pada permintaan putrinya ini. Ayahku tertawa.
__ADS_1
"Tenanglah sayang, Ayahmu hanya bicara sesama laki-laki. Kau dan Mom punya banyak gosip untuk dibicarakan." Aku meringis mendengar kata-kata Mom.
"Teh kalian sudah disiapkan di ruang kerja. Sihlakan mengobrol di sana, ruangan ini ruangan wanita." Aku meringis mendengar Mom mengusir Ayah.
"Ayo Louis, kau tak akan mau mendengar mereka cekikikan berdua membicarakan mantel bulu. Dunia kita berbeda." Papa nampaknya hanya ingin mengenal Louis, aku melihat mereka berjalan sambil mengobrol, Louis bukanlah umur 20an dia sudah bertemu banyak orang, kupikir dia sangat bisa diandalkan, semoga Papa juga tidak punya keraguan padanya, jika dipikir-pikir Papa bersikap cukup ramah.
"Biarkan mereka, mereka akan baik-baik saja." Ibu tersenyum melihatku masih mengkhawatirkan Louis.
"Apa Papa akan menyetujui kami Mom?"
"Papamu akan menyetujui apapun yang membuatmu bahagia. Tenanglah Kakakmu sudah memberikan referensi yang baik soal Louis. Kurasa penilaian Ayahmu juga tak akan jauh berbeda. Ayo kita minum teh sambil mengonrol juga." Mom memupuskan kekhawatiranku.
Katanya yang paling terpukul jika seorang putri meninggalkan rumah itu adalah Ayahnya.
Yah mungkin itu benar. Ayah selalu mempunyai cara memanjakanku di rumah ini. Dan perlakuan itu hanya padaku, bukan anak laki-lakinya.
\=\=\=\=\=\=\=\=
__ADS_1