TAWANAN GAIRAH CINTA SANG DUDA

TAWANAN GAIRAH CINTA SANG DUDA
SEASON 4 Part 32. Blooming Hanami 2


__ADS_3

"Baiklah, kita mengajak Sayuri." Dia menghela napas, mencoba tersenyum padaku. "Nanti kuberitahu dia." Aku merasa tak enak hati mengatakan itu.


"Aku benar-benar minta maaf."


"Sudahlah ayo makan." Tapi nampaknya dia tak tersinggung begitu jauh. "Kau pernah ke Osaka merayakan hanami?" Sekarang dia mencoba menganti pembicaraan.


"Baru 2x melihat hanami di sana, lebih ramai, kebuh banyak festival."


"Dulu aku lebih banyak tinggal di Osaka, tapi 3 tahun belakangan aku lebih banyak di Tokyo. Aku lahir di Osaka."


"Pantas saja kau begitu sopan." Dia meringis mendengar komentarku. Aku tahu Papa pernah bilang orang-orang Osaka itu punya etika dan bicara yang lebih sopan. "Maaf kadang aku bicara terlalu terus terang, di pekerjaanku yang ini aku tak punya masalah bicara vokal karena itu tugasku. Jangan tersinggung padaku. Kadang aku hanya mengatakan apa yang ada di pikiranku begitu saja."


"Jujur lebih baik kurasa daripada manis tapi menyembunyikan sesuatu. Jika kau tak suka ya katakan saja. Sudahlah yang tadi bukan apa-apa. Jangan bicarakan Yuna lagi oke. Dia merusak selera makan, lagipula dia tak ada hubungannya lagi dengan kita."



"Iya. Kau benar." Akhirnya aku yakin persoalan sindiran tadi selesai.


Kami membicarakan Osaka dan Hanaminya, aku baru tahun-tahun belakangan setelah pulang ke Jepang merayakan Hanami.


"Kau ingin jalan-jalan kemana?" Dia duduk di sofa saat kami selesai makan siang. Aku duduk di sampingnya dengan ponsel di tangan.


"Aku tak tahu,... Biasanya ada Sayuri, dia yang memutuskan kemana."


"Ya sudah kita duduk disini saja." Aku melihat padanya yang duduk di dekatku, menyalakan tv di ruang duduk. Dia tidak melakukan apapun. Jika itu Richard mungkin aku sudah berakhir di pangkuannya.


Entah kenapa sampai sekarang aku belum berhasil sepenuhnya melepaskan bayangan tentang Richard. Tujuh tahun dan masih berjalan kadang tiba-tiba aku masih teringat. Yah mungkin karena aku tak menemukan siapapun.


"Kau melamun." Aku kaget ketika dia menyentuh rambutku dan merapikannya.


"Sorry."


"Ada apa? Apa yang ada di pikiranmu?"

__ADS_1


"Tidak, hanya melamunkan hal tak penting." Aku tersenyum padanya. Mungkin aku harus mencoba melupakannya dengan yang lain. Mama bilang Ryohei sangat baik, harusnya aku percaya saja padanya.



"Kemarilah, jangan duduk terlalu jauh." Aku bergeser mendekat padanya. Sekarang aku mengeser dudukku sehingga bahuku bisa menyender padanya di sofa nyaman itu.


"Ini sudah cukup dekat?" Aku tersenyum kecil, sebenarnya melihatnya sedekat ini cukup mendebarkan.


"Jahitanmu sudah pulih sepenuhnya?" Dia memeriksa bagian yang tertutup rambut. Aku merinding kegelian. "Kenapa?"


"Geli." Aku menjauhkan kepalaku dari jari-jarinya.


"Sensitif sekali." Dia meringis dan tertawa. Aku mencubit perutnya sehingga dia yang ganti kesakitan.


"Kau yang terlalu sensitif."


"Shiori kau senang kekerasan, katakan saja sekarang, aku akan mengingatnya?" Dia tak mencoba melepaskan diri, hanya meringis kesakitan melihatku mencubitnya. Mungkin cubitanku tak ada rasanya buatnya. Jari aku mengantinya dengan menggelitiknya. "Baiklah-baiklah kau menang kita berdamai saja oke." Dia menangkap tanganku dan menahannya.


"Sensitif sekali." Sekarang aku tersenyum karena bisa membalasnya. Sebagai gantinya dia menghadapkan tubuhku ke depan televisi dan merangkulku. Aku membiarkannya.


"Apa kau tak punya wanita lain mengharapkanmu?" Aku dengan penasaran bertanya.


"Hmm? Ya mungkin ada. Beberapa orang suka memgirimkan pesan, mengajak makan malam, tapi tak ada yang kutanggapi." Dia jujur juga, bukan tak ada yang mengejarnya.


"Begitu. Boleh kutahu siapa saja yang suka mengirimimu pesan. Setampan kau pasti banyak yang menyukaimu bukan?"


"Kau tak percaya padaku."


"Bukan tak percaya, hanya ingin tahu. Jika aku bertemu dengan yang lebih cantik dariku aku tak kaget lagi." Dia tertawa.


"Oke, kusebutkan untukmu, ada Keiko Hirose , dia mengenalku di sebuah pesta, aku sama sekali tak tahu dari mana dia mendapatkan nomor teleponku." Astaga Keiko Hirose, yang itu lebih terkenal dari Yuka Aize.


"Tunggu maksudmu Keiko Hirose yang juga penyanyi itu."

__ADS_1


"Iya." Aku melonggo sekarang.


"Lalu Mari Hamada, yang ini model, aku mengenalnya di pesta kolega bisnis juga. Ada Aiko Shimada, ehm dia putri seorang kolega. Belakangan kukira tiga itu." Mari Hamada aku sengaja mencari wajahnya di ponselku, cantik sekali.


"Mereka cantik-cantik." Aku meringis. "Tapi kenapa kau malah terdampar di sini makan ramen berdua denganku." Aku tertawa sendiri, sedikit tersanjung sebenarnya.


"Kenapa kau membandingkan dirimu. Siapa yang ingin kusukai adalah keputusanku sendiri." Aku melihatnya bicara dengan yakin kali ini, rasanya aneh bisa menang dari gadis-gadis cantik itu. Tapi aku tahu sebagian besar karena Sayuri kukira. "Kenapa kau diam, katakan sesuatu padaku."


"Aku tak tahu apa yang harus kukatakan."


"Kau belum percaya aku menyukaimu. Sudah ku bilang aku tak punya type wanita, kubilang suka ya suka. Tapi yang terakhir dengan Yuna aku sadar, mereka yang sudah di bisnis showbiz punya lingkungan yang glamor, sifat dan tuntutan yang glamor juga. Aku memikirkan sebenarnya sejak pertama mengenalkannya sebagai teman berpikir panjang apa dia akan cocok dengan putriku, kurasa kemudian memang tidak. Tapi denganmu bahkan Sayuri yang mendorongku. Kau sudah jadi teman duluan baginya." Aku melihatnya bicara begitu tenang.


"Lagipula cinta, suka, apapun itu tergantung bagaimana kau menjaganya. Cinta pada pandangan pertamapun bisa pecah jika kau tak tahu bagaimana menerima kekurangan satu sama lain. Aku bukan orang yang sempurna atau selalu sesuai dengan harapan orang lain. Ada saatnya mungkin juga kau akan kecewa padaku."


Mendengarnya bicara membuatmu sadar dia sudah dewasa, cara berpikirnya, pertimbangannya terhadap keluarga, semua dipikirkannya baik-baik. Dia hanya ingin keluarga yang tenang nampaknya, terutama tidak menyakiti putrinya.


"Katakan sesuatu padaku." Aku melihat ke arahnya lagi.


"Katakan apa."


"Jadilah kekasihku?" Aku tersenyum.


"Itu terdengar lebih baik dari 'mungkin kita bisa mencoba'." Dia tertawa.


"Baiklah memang kalimat yang tidak bagus. Tapi sekarang setelah kau mendengar semuanya, jadilah kekasihku Shiori."


"Kuputuskan setelah Hanami." Dia tertawa ngakak sekarang.


"Kau memang gadis yang sulit."


"Terima kasih atas pujianmu."


Aku bukan sulit, aku hanya ingin merasakan dikejar kurasa.

__ADS_1


\=\=\=


__ADS_2