
"Foccacia." Sayuri menyambar dan meringis lebar. Aku jadi ingin tertawa mendengar apa yang dipilihkannya.
"Apa itu foccacia? Yang mana?" Sayuri sengaja memberinya roti polos karena tampaknya tak ada yang dia suka.
"Ohh itu roti rempah polos, itu sebenarnya menu pembuka bersama beberapa item lainnya. Jika Anda tak ingin keju mungkin Anda suka Bucatini All' Amatriciana ( spicy pasta saus amatriciana, saus yang terdiri dari tomat , red pepper and guanciale), kami bisa menghilangkan keju di Bolognese pasta kami."
"Aku tak ingin pasta." Pelayan binggung, dia tak ingin pasta dan keju. Demi Tuhan, ini restoran Italia! Aku menghela napas bertatapan dengan Sayuri, gadis pemilih sekali.
"Pizza mungkin? Kami punya personal pizza, Anda tak ingin keju di pizza?" Sang pelayan kebingungan lagi. Astaga, sampai besok juga tidak ketemu. Dia memang cocok diberi roti polos saja seperti kata Sayuri. "Ahh ini saja, ada menu fusion baru, pizza dengan saus tomat dan ikan makarel khas Kyoto." Akhirnya sang pelayan menemukan menu yang cocok untuk nona "picky eater" ini. Mengajaknya ke sini adalah bencana.
"Ohh baiklah itu saja." Pilihan yang sangat aneh, pizza dengan ikan makarel.
"Pizza dengan ikan makarel. Baiklah itu pilihan yang sangat sehat Kakak Yumi." Sayuri meringis lebar.
"Kuharap itu enak, karena itu fusion Italian Jepang." Dia masih tak sadar disindir ternyata.
"Jadi, kau suka makanan apa saja Kak Yumi, Korea mungkin atau Thailand."
"Entahlah, aku pernah mencoba, tapi tetap tidak terbiasa kurasa. Sebagian terasa asing, sebagian tidak cocok. Aku tidak menyukai makanan baru." Dia sangat tidak cocok diajak jalan-jalan. Mungkin dia akan membeli ramen instant jika keluar negeri.
'Kau benar jika ada Kakak Shiori-mu disini makan malam kita akan jauh lebih baik. Nona ini sangat pemilih. Membuat orang kesal.' Aku mengirim pesan ke Sayuri.
'Biarkan saja dia dengan salad dan pizza makarelnya.' Sayuri membalasku dengan menyertakan emoticon senyum lebar.
"Jadi, mungkin lain kali kita bisa makan malam dengan Kakak Shiori, aku ingin bertemu dengan teman dekat kalian." Dia masih panasaran dan berusaha mengorek siapa Shiori. "Siapa nama keluarganya, apa dia dari keluarga terkenal di Tokyo atau dia pembimbing belajarmu. Kau memanggilnya Kakak? Dia lulusan universitas mana? Mungkin sama dengan Kakak di Kyoto. jika tidak pembimbing dari Tokyo atau Kyoto jangan diterima. Kakak bisa mencarikan yang lebih baik." Mungkin lebih baik aku membiarkan Sayuri bertengkar dengannya. Karena dia tak mempan di dorong, tak mempan disindir, jika dia bertengkar dengan Sayuri, dia tahu kesempatan mengapaiku adalah mustahil.
"Dia bukan pembimbingku. Pembimbing utamaku lulusan Harvard, karena tujuanku ke sana. Tesku SAT dan TOEFL, bukan tes universitas di Jepang."
__ADS_1
"Ohh bukan pembimbingmu, kupikir dia semacam mentor pribadimu. Jadi Shiori ini pasti semacam artis."
"Not your business at all**." Sayuri membalasnya sambil tersenyum. Kali ini aku membiarkan Sayuri. Dia kaget nampaknya mendengar kata-kata Sayuri.
** Bukan urusanmu sama sekali.
"Bagaimana jika dia bukan wanita baik-baik. Kakak hanya perduli dengan kalian."
"Kami bahkan bergaul dengan gangster. Mereka semua manusia, bahkan gangster, tukang pijatpun mencari nafkah untuk keluarganya. Baik-buruk orang lain bukan hakmu untuk menilai jika kau tak mengenalnya." Aku menjawabnya sekarang. Makan malam ini jadi perdebatan idealisme sekarang.
"Apa bagusnya tukang pijat, gangster, jelas-jelas profesi mereka tak bagus, kau bangga punya hubungan dengan mereka."
"Iya, mereka tidak menyusahkanku malah membantuku. Aku tidak terganggu dengan mereka. Yakuza di Jepang awalnya lahir dari niat membantu orang lain. Dulu Yakuza di puja."
"Aku tak mengerti sama sekali."
"Yang aku katakan demi kebaikan kalian. Jika kalian terganggu aku minta maaf." Demi kebaikan kami, ayolah itu demi kebaikanmu sendiri. Jangan membuatku tertawa.
"Yah terima kasih atas niat baikmu kurasa."
"Ahhh makanan kita sudah datang. Aku sudah lapar, pasta-pasta. Kakak kau ingin ku bagi pasta?" Aku tahu Sayuri hanya menggodanya, lagipula gadis sombong seperti dia tak akan melepaskan idealismenya.
"Tidak aku dengan saladku saja. Terima kasih."
Jika dipikir-pikir Shiori juga punya idealisme, tapi untuk ke dalam dirinya, jika dia melihat seseorang tidak cocok, dia akan langsung pergi. Bukan seperti yang ini, dia menggunakan banyak energi untuk mengatur orang lain agar cocok untuk dirinya dan mengikutinya.
"Papa seperti biasa kita swicth, aku juga ingin pastamu." Jika dengan Shiori, kami akan saling berbagi satu sama lain, memesan lebih banyak jenis menu, mencobanya satu per satu. Makan malam tak pernah membosankan bahkan di restoran baru . Sekarang aku sadar kami sudah seperti keluarga.
__ADS_1
"Kita biasanya memesan satu jenis pasta lagi." Aku teringat apa yang dipesan Shiori di sini. Astaga aku bisa mengingatnya. Sayuri tersenyum padaku.
"Nanti kita bisa kesini lagi Papa."
"Iya kita bisa kesini lagi."
Sudah dua hari ini mereka mengganggu bisnis Ayah Yuna Aize, sampai titik mana aku bisa memaksa mereka menyerah aku penasaran.
"Kapan kau kembali ke Kyoto?" Aku sudah tak sabar menunggunya pergi dari rumah. Jika kupikir sekarang aku tak perlu menghindarinya, tak perlu mencari kesibukan. Akan kukatakan langsung aku tak akan menemaninya, jika Ibu mau menemaninya sihlakan, tapi tidak denganku.
"Hmm ... Selasa. Ibumu juga kembali dengan kami."
"Ohh begitu."
"Akhir pekan kemana? Mau melihat Hanami?"
"Aku tergantung Ibu dia mau kemana, aku dan Sayuri akan menemaninya.
"Chidorigafuchi dan Kitanomaru akan bagus, di sana ada late blooming sakura." Nampaknya dia yang merencanakannya. Tapi sama saja dia tak akan mendapatkan apapun.
"Entahlah terserah Ibuku saja. Aku hanya mengikutinya." Menanggapinya dengan tak bersemangat. Biarkan saja dia antusias sendiri. Hari Selasa juga dia pergi.
Aku lebih banyak mengobrol dengan Sayuri kemudian, terang-terangan tak begitu menanggapinya. Malam itu berlalu, setidaknya kami kenyang.
Jika tuan putri pemilih makanan itu hanya makan salad dan pizza aneh, itu masalahnya sendiri.
\=\=\=\=
__ADS_1
Jangan lupa like komen dan giftnya ya ^_^