
“Kau akhirnya kembali ke Jakarta, berarti sia-sia rayuan Tante.” Aku tertawa.
“Tante Yun, makasih Tante baik sekali ke Tata. Tata jadi merasa benar-benar punya keluarga di sini.”
“Tante hanya ingin keluarga kita jauh dari perselisihan, walaupun keluarga kita cukup rumit. Tante tidak ingin anak-anak Papa punya iri hati satu sama lain nanti. Tante berusaha merangkul kamu dan Liam, menempatkan kalian semua sama. Jika Tante ada yang kurang, Tante minta maaf.”
“Tante yang terbaik. Kenapa Tante minta maaf.”
Dan akhirnya aku mengucapkan goodbye ke semua adik-adikkudi malam terakhir aku di HK, berharap mereka semua bisa berkunjung kerumahku juga nanti di Jakarta. Aku sekarang kakak tertua, suatu saat mungkin aku harus mengambil peran seperti Tante Yun, menjadi Kakak tempat berkumpulnya adik-adikku.
Papa dan Tante mengantarku ke bandara. Aku berjumpa juga dengan Cecilia yang mengantar Papanya.
“Tante Tata, titip Papa.” Dia berbisik padaku, setelah menarikku agak menjauh.
__ADS_1
“Cecil, bagaimana bisa kau menitip Papamu ke Tante.”
“Tante, aku tahu ini complicated seperti katamu, tapi kau harus sedikit berjuang oke. Kau pasti bisa...”
“Cecil,...” Sekarang aku yang kehabisan kata-kata di depan gadis 17 tahun ini. Aku tersenyum padanya, dia tersenyum penuh pengertian padaku. “Tante tak tahu apa yang akan terjadi kedepan, tapi jaga dirimu, kalau kau mau bertanya apapun kau bisa menelepon.” Aku tak menyangka dia tahu perasaanku begitu dalam.
“Aku akan menanyakan kemajuanmu Tante, jadi kau harus siap-siap. Tenang saja aku tak akan membocorkannya ke Papa... Kuharap kalian bisa bersama.” Aku tertawa.
“Apa yang dikatakan Cecil padamu.” Ko Derrick rupanya penasaran, dia bertanya setelah kami duduk di ruang tunggu.
“Ohh hanya say goodbye dan bertanya apa dia bisa meneleponku di masa depan.” Aku berbohong, aku tak berani mengatakan yang sebenarnya.Harus dia yang mengatakannya duluan.
“Anak itu memang pintar memanfaatkan orang. Papamu akhirnya tidak memaksamu tinggal di Hongkong.”
__ADS_1
“Iya dengan banyak syarat dan kondisi di belakangnya. Koko tahu sendiri dia bahkan menyuruhku secluster rumah Koko. Aku benar-benar ngerepotin Koko.”
“Itu pas banget, ada rumah yang mau dijual dekat rumah , cuma beda empat rumah, rumahnya bagus, nanti Koko catat nomor brokernya, kamu lihat dulu kamu suka gak, kayanya ada satu rumah lagi di jalan yang lebih depan lagi juga mau di jual atau kamu mau renov juga bisa, tapi kayanya masih bagus banget, cluster yang Koko tempati ini cluster bangunan baru, gak perlu banyak perbaikan besar, paling pakai orang design interior suruh tata lagi...”
“Iya, nanti aku urus sendiri. Koko kasih nomor brokernya aja. Tapi asyik juga kalau deket rumah Koko, nanti aku bisa numpang minta makan sama Bibi Koko kalo kelaparan...”
“Astaga, tukang makan. Manfaatin rumah saya jadi restoran terdekat.” Aku ngakak, sebenarnya aku ngetes doang, apa dia terganggu. Tapi nampaknya dia cukup santai menanggapiku.
“Kaga, dasar pelit. Gue bercanda kali Ko, masa gue ucuk-ucuk pergi kerumah lu minta makan. Gue juga punya harga diri kali.”
“Ohh gitu, you punya harga diri, lain kali jangan cari diskonan kue lagi ya. Malu jadi anak boss munculnya pas nyari diskonan doang.”
“Itu lain soal. Namanya memanfaatkan situasi. Itu namanya pinter.” Masi bawa-bawa soal diskonan.
__ADS_1