
Akhir Juli, musim panas, bertepatan dengan liburan musim panas Sayuri. Aku, Sayuri dan Ryohei akhirnya berkunjung ke Kyoto. Kediaman orang tua Ryohei dan Nenek Sayuri tentunya. Tapi semangkin dekat hari itu sepertinya aku semangkin tertekan, seperti akan masuk ke wilayah yang tidak kuketahui.
Sebenarnya aku punya banyak kekhawatiran, jika kami menikah punya anak kebanyakan wanita terpaksa menjadi Ibu rumah tangga, ada tuntutan menjadi Ibu rumah tangga yang sempurna, itu umum di masyarakat. Walaupun Ryohei-san bilang bisa dengan bantuan Ibuku.
"Sayuri, entahlah dengan budaya kita, kau mungkin tak akan di cela. Ini bukan di luar negeri, Ibu juga tak tahu bagaimana mertuamu. Disini seorang Ibu harus sempurna. Mungkin nanti kau harus memilih..."
"Aku harus bagaimana Ibu, apa aku harus melepaskan karierku." Ibu tersenyum padaku.
"Shiori, nanti setelah kau punya anak kau akan tahu apa yang kau putuskan."
"Maksud Ibu?"
"Mungkin kau akan merasa takut kehilangan masa-masa terbaik bersama anakmu. Lalu kau melepaskan kariermu demi bersama mereka. Kau akan membuat keputusanmu Ibu rasa. Punya anak itu punya bebannya sendiri, menjadi Ibu dan istri yang baik juga terhormat Shiori. Tapi Jepang juga banyak berubah, banyak rumah tangga yang mempunyai pendapatan ganda, istri bekerja bukanlah hal tabu, walaupun ya, kariermu terhambat karena kau juga tak bisa menyalahkan rekanmu yang punya prioritas 100% ke pekerjaan."
"Iya, aku tahu..."
"Shiori, yang penting kau bicara dengan Ryohei, apa yang kau putuskan bicaralah dengan dia, jika kalian sudah berdua, kau harus bicara dan memutuskan berdua. Suamimu bukan orang dengan financial tidak stabil, jika kau mengambil keputusan menikmati peranmu sebagai Ibu itu juga anggaplah reward, kau hampir 40 semua orang sudah tahu apa yang kau capai, mungkin sudah saatnya kau punya jenjang karier baru, kau bisa membantu bisnis suamimu dengan beban pekerjaan lebih bisa di kontrol, tak ada atasan karena kau atasannya, kau bebas mendelegasikan tugas karena tak ada yang berani memberimu kritik. Kau sebenarnya punya banyak kebebasan..." Ibu tersenyum padaku.
Iya itu benar, tapi tetap saja rasanya menakutkan kehilangan jenjang karier.
"Kau diam sekali belakangan ini. Ada apa? Minggu depan kita ke Kyoto, apa kau punya sesuatu di pikiranmu." Untungnya Ryohei orang yang cukup terbuka untuk sharing. Entah bagaimana jika aku mendapatkan seseorang yang tidak bisa diajak tukar pikiran. Pasti rumit bergelut dengan pikiranku sendiri.
"Ryohei, kau pikir Ibumu akan melarangku bekerja? Apa kau keberatan aku bekerja? Kau tahu aku seperti memasuki wilayah yang belum aku masuki...Kata Ibu aku akan memutuskan sendiri jika aku punya anak, punya anak itu rasanya berbeda, aku tumbuh dengan Ibu yang ada di sampingku, mungkin aku juga kasihan meninggalkan anakku nanti, Ibuku bilang aku akan bisa memutuskannya nanti saat aku punya anak, tapi di saat yang sama aku seperti takut kehilangan identitas, aku tak tahu apa yang akan terjadi."
"Kurasa nanti kau memang akan bisa memutuskan. Dulu Ibu Sayuri seorang dokter, dengan jam kerja yang panjang. Akhirnya saat hamil dia memutuskan menyerah, dia punya morning sickness cukup ... menyebalkan. Dan dia menikmatinya perannya. Intinya tak ada yang akan memandangmu rendah jika kau memilih itu. Berapa gajimu Honey, biarkan aku mengantinya." Aku meringis.
"Kau tahu aku punya mendengar seorang komedian bicara begini, ..." Dia berhenti bicara sehingga aku melihatnya. "Beberapa orang bicara soal feminism, wanita bisa melakukan ini, wanita bisa melakukan itu, mereka bisa memperoleh apa yang mereka inginkan sendiri, tapi kau tahu diluar sana beberapa wanita pintar memanfaatkan sisi feminisme lebih baik, apa mereka tak tahu betapa enaknya hidup disponsori oleh uang orang lain."
Aku tertawa. " Iya, siapa tak ingin hidupnya lebih mudah. Tapi bagiku yang dari awal punya semuanya dari melangkah sendiri, itu seperti kehilangan harga diri rasanya. Apa kau pikir aku mengejar hal seperti itu?"
"Shiori, kapan aku pernah mengatakan kau mengejar uangku. Aku hanya bilang, jika kita suami istri, aku ingin kau bahagia bersamaku, tidak pulang ke rumah dengan tertekan dan lelah. Kau bebas memutuskan itu. Lagipula aku tak keberatan jadi sugar daddymu dan anak kita." Aku tersenyum dengan kata-katanya.
"Yang penting kau bahagia menjalaninya, jika terlalu berat tak usah dipaksakan. Benar kata Ibumu, kau akan bisa memutuskan dengan baik setelah kita menjalaninya ke depan. Tapi satu hal kau mungkin harus menekan ego, jika kau ingin anakmu memiliki waktumu. Nanti jika saatnya kau akan tahu pilihanmu. Kita akan membicarakannya lagi."
__ADS_1
Pilihan yang akan kubuat pada saatnya kata Mama.
Tibalah perjalanan ke Kyoto, kota dengan banyak kuil dan eksotisme masa lalunya. Kami naik bullet train 2.5 jam ke sana. Musim panas di Agustus, Kyoto rasanya lebih panas dari Tokyo, walaupun di musim dingin juga lebih dingin dari Tokyo.
Kyoto tak punya banyak bangunan tinggi, beberapa zona area bersejarah dilarang membangun bangunan tinggi. Sungai-sungainya lebih bersih, pohon-pohon lebih banyak, pinggir kotanya adalah rural area yang bersahaja.
Jika kesini rasanya hidup lebih lambat, orang-orang nya bicara dengan sopan, bahkan mereka punya dialek khusus yang terdengar seperti punya nada dan mungkin wisatawan menemukan bahwa orang Kyoto lebih ramah.
"Apa yang kau ingat Nenekmu tidak suka Sayuri." Aku bertanya padanya di perjalanan, supaya aku tak melakukan kesalahan.
"Nenek, aku rasa nenek itu ramah. Kakekpun orang yang banyak bicara. Yang dia tidak sukai ... "Sayuri berpikir panjang. "Papa, apa yang Nenek tidak sukai? Yang kuingat dia tidak terlalu suka makanan pedas saja. Dia tak berani mencoba makanan pedas."
"Hmm... jangan tertawa ngakak di depannya, atau bicara terlalu keras di depannya, tipikal orang tua kau harus jaga image dulu, bicara setelah di tanya, bukan kau bertanya dulu, nanti kalau kau sudah akrab kau baru boleh bebas."
"Kakak jangan khawatir ada aku yang membelamu. Aku yang akan membantumu bicara dengan Nenek dan Kakek, ada Papa juga, kau akan baik-baik saja. Jangan terlalu khawatir. Lagipula aku dan Papa sudah banyak bercerita tengang Kakak." Sayuri menenangkanku dengan kata-katanya.
Aku jelas kuatir. Semua orang mengkhawatirkan pertemuan keluarga pertama, itu hal yang besar. Jadi untuk pertemuan ini aku membawa koleksi wine berharga Papa karena mereka juga menyukai anggur.
"Tamannya indah sekali." Aku jelas kagum dengan tamannya.
"Kakek suka bonsai, dan Nenek suka bunga-bunganya. Mereka semua pecinta tanaman." Sayuri menjelaskannya padaku.
Seorang pelayan membukakan pintu untuk kami. Seorang wanita berambut masih hitam keluar menyambut kami kemudian, gurat umur terlihat tentu saja, tapi dia masih penuh semangat dengan senyum ramahnya. Untunglah dia tidak memasang muka menyelidik.
"Nenek ini Kakak Shiori,..." Aku membungkuk dalam padanya.
"Shiori, ayo jangan terlalu formal pada Bibi." Dia mendatangiku dan tersenyum padaku. Dia benar ramah ternyata. "Kau cantik seperti yang digambarkan Sayuri."
"Bibi, terima kasih sudah menerimaku di rumah Bibi."
"Kau akan selalu diterima. Ayo masuk, Paman sudah menunggu kalian." Dia bahkan berjalan di sampingku.
Aku masuk ke rumah besar itu. Rumah yang di dominasi warna kayu dan putih itu terasa nyaman. Ada beberapa bonsai di dalam ruangan, Kakek Sayuri ini memanģ pecinta bonsai.
__ADS_1
"Kakeeek,..." Sayuri berlari memeluk Kakeknya, yang tersenyum lebar padanya.
"Kakek merindukanmu. Bagaimana kabarmu anak nakal." Sayuri yang di sayang semua orang, nampaknya dia jadi anak yang selalu berpikir positif juga karena lingkungan positif di sekelilingnya. Walaupun situasi baginya tak bisa dikatakan mudah.
"Aku tidak nakal Kakek, aku membawa calon menantu untukmu." Kakeknya tertawa dan melihatku. Aku membungkuk padanya.
"Kau pasti Shiori, anak ini sudah cerita banyak tentangmu. Ayo duduklah."
"Ahh, aku membawa hadiah buat Paman dan Bibi. Mohon di terima." Mereka menerimanya dengan ucapan terima kasih tapi tidak membukanya.
Pembicaraan mengalir kemudian. Ternyata cukup santai dan penuh canda tawa. Di luar perkiraan kekhawatiranku sebelumnya mereka bakal bertanya bagaimana rencana kami setelah menikah tidak terjadi, atau ditanya hal-hal sulit yang menyangkut masa depan karier. Karena jika aku ditanya saat ini aku akan binggung menjawabnya.
"Rencanakanlah pernikahan kalian Ryohei secepatnya, Sayuri masih di sini, tahun depan mungkin dia sudah tak disini. Kami juga akan merindukannya."
"Iya kami akan merencanakannya." Ryohei yang menjawab Ibunya.
"Kami percaya kalian sudah cukup dewasa memutuskan apapun berdua. Asal kalian berdua bahagia cukuplah. Melihat Ryohei anak kami punya pendamping dan Sayuri menganggapmu sebagai teman itu sudah cukup." Ibunya menambahkan lagi.
"Terima kasih atas restu Bibi dan Paman."
Kami menginap di sana sekitar dua hari, bicara lebih banyak, menjadi lebih akrab, dan akhirnya harus kembali ke Tokyo karena kami hanya mengambil cuti sehari ditambah dengan libur akhir pekan
"Tak seram bukan." Aku tersenyum saat Ryohei bertanya.
"Tidak. Mereka nampaknya mempercayakan semuanya pada kita."
"Semoga kita akan akan bersama sampai nanti." Sebuah harapan yang diucapkan sambil mengenggam tanganku.
Setahun yang lalu aku masih berpikir bahwa hidupku akan kulewatkan sendiri. Tapi musim panas ini sebuah mimpi tentang masa depan yang lain datang padaku.
Ahh mungkin Dewi Sakura bosan melihatku sendiri dibawah dahannya. Dan mengadukan nasibku yang malang ke Enmusubi-no-kami ( dewa jodoh), dan memberkatiku mendapatkan cinta di bawah sakura yang mekar penuh.
Tak sabar rasanya menantikan Hanami tahun depan. Mungkin dia punya cerita lain untukku.
Besok sudah cerita baru sampai jumpa besok
__ADS_1
🤗🤗🤗🤗