
Sebuah jab lurus datang padaku, aku sudah lebih terlatih menghadapi amatiran seperti ini. Ku geser posisiku menghindar sekaligus maju ke depan, kupegang pinggangnya dan kukait kan kakiku untuk menjatuhkannya ke matras. Dia berdebum jatuh ke belakang dan kukunci dengan kukunci dia dengan berat tubuhku, langsung kupukul wajahnya telak saat dia belum sepenuhnya sadar apa yang terjadi. Dengan kuncian itu pukulan ke dua ke mukanya jadi double.
"Bagus! Bagus!" Koko sekarang bersorak untukku.
"Banci! Kau bahkan kalah dengan wanita."
"Operasi ganti kelam*in saja!" Temannya pun sudah kehabisan kata untuk mendukungnya. Mereka
Yang lain tambah ramai bersorak. Nathan ini bahkan tidak mengerti cara nela diri dasar, pantas saja dia tidak bisa menahan pukulan pertama Koko.
Kulepas kuncianku nampaknya dadanya sesak karena ku tahan dengan lututku tadi.
"Bagaimana rasanya di pukul wanita?" Aku bertanya pada Nathan yang mukanya sudah memerah menahan malu, kurasa setelah ini dia akan segeran mencari pengajar bela diri. Dia butuh beberapa saat untuk bangun.
"Hentikan! Apa-apaan ini?!" Aku menoleh ke belakang, ternyata tiba-tiba Ayahnya ada disini. Kali ini beserta dengan empat tukang pukulnya. Suasana langsung menjadi tegang. Orang Philip berhadapan dengan orang keluarga Chow.
"Ohh Tuan Chow rupanya, hentikan waktunya Mica." Philip menghentikan waktu pertandingan kami.
"Apa yang kalian lakukan terhadap anakku?!" Paman Tua itu sudah naik darah, padahal nampaknya tidak ada setetes darahpun keluar.
Aku diam saja di ring menunggu mereka bicara.
"Anakmu memerintahkan gangster mencegat mobilku di Shanghai dan menghancurkannya sampai rusak berat. Saat aku sedang mengemudi di Shanghai dan Cherrie Wong juga ada di mobil yang sama. Aku menuntut balas tentu saja, pilihannya ada dua, membawa ini ke polisi atau dia menghadapi ring, jika dia menang, aku akan membiarkannya pergi, jika dia kalah dalam pertarungan 10 menit ini dia harus membayar biaya penggantian kerusakan mobilku." Koko menjelaskan panjang lebar sambil menunjukkan foto mobilnya yang sudah jadi korban dan surat perjanjian yang sudah di tanda tangani.
"Kau mau menghentikan ini? Boleh, kami berikan bukti-buktinya ke polisi. Lagipula anakmu melawan Cherrie Paman Chow, bukan Anthony, dia tak bertahan satu pukulanpun melawan Anthony sayangnya melawan wanita pun dia kalah." Philip tertawa.
"Paman jadi bagaimana..." Koko mendesaknya.
Paman Chow tak bisa bicara sekarang. Dia melihat anaknya yang nampaknya setiap membuat masalah harus dia yang menyelesaikan, sungguh anak tak berguna.
__ADS_1
"Kau melawan wanita kalah!? Kau sangat memalukan!" Dia akhirnya malah memarahi anaknya sendiri. "Hajar saja dia! Buat masalah tanggung sendiri kelakuanmu!" Nampaknya dia tak tahu anaknya menyuruh orang mengerjai mobil kami.
Nathan mau tak mau harus menghabiskan slot waktu yang tersisa.
"Mica sisa berapa waktunya." Philip yang bertanya.
"Enam menit 25 detik."
"Lanjutkan."
"Cherrie! Ayo semangat!" Koko menyemangatiku. Nathan nampaknya menjadi malu saat Ayahnya datang menontonnya. Dan sekarang jadi bertekad mengalahkanku.
"Mulai." Baru Mica mengatakan mulai dia sudah menyerbu dengan membabi buta. Aku bisa menghadapi serangan acak begini.
Jab lurus tak bertenaga, banyak cara menghadapinya kali ini, sekali dia melayangkan jab, dan sekarang aku tidak memakai cara yang tasi, aku langsung merendahkan diri dan masuk memukul perutnya pas di ulu hati dengan semua tenaga yang kumiliki. Dia langsung terdorong mundur dan membungkuk menahan sakit dan mual yang pasti terasa.
Semua orang bersorak lagi sekarang. Tuan Chow hanya bisa memijat kepalanya yang sakit melihat anaknya tak berdaya di tanganku.
"Tuan gunakan tendangan!" Serangan yang bisa terbaca itu sangat tak menguntungkan apalagi dengan orang yang tahu cara mengelak dan membalas.
"Mau menendangku? Memang kau tahu caranya?" Aku memanasinya sambil memasang kuda-kuda. Ternyata dia benar mencobanya. Aku dengan mudah menghindar. Kali kedua dia mencoba aku membalasnya dengan menyapu kaki bawahnya sehingga dia lagi berdebuk lagi ke matras.
Semua orang menertawakannya sekarang.
"Astaga, dia dibantai oleh Cherrie dari tadi." Koko nampaknya sudah tak tegang lagi, dia susah melipat tangannya di depan dada dan tertawa. Semua latihanku ada gunanya juga.
"Mulai sisa waktu, 3 menit." Kali ini kuputuskan untuk aku yang menyerang, tidak bertahan lagi.
Beberapa pukulan di tangkis lengan lenganta ketika aku berkali-kali menyerang perutnya, tentu saja dia lebih suka tangannya yang kupukul. Dia pikir aku akan menyerang perutnya lagi, dua kali mengarahkan pukulan ke bawah, kali ini pukulan kombinasiku sukses bersarang ke dagunya.
__ADS_1
Kerumunan langsung bersorak. Dia langsung terlihat pusing dan harus berpegangan di sudut ring. Tapi aku juga sudah kelelahan.
"Sisa waktu satu menit." Cuma tinggal tiga puluh detik lagi. Aku sudah menang rasanya.
"Sudah cukup, sudah pemenangnya sudah jelas. Anakmu tak bisa memukul satu kalipun Tuan Chow. Dia kalah oleh wanita. Ini pertandingan memalukan." Koko dengan baik hati menarikku keluar dari area pertarungan karena melihatku kelelahan memforsir set pukulan tadi.
Aku dengan senang hati keluar dari ring.
"Bawa dia pulang!" Tuan Chow langsung pergi. Susah tak sanggup melihat anaknya dipermalukan oleh wanita tampaknya.
Temannya dan satu orang pengawal yang tinggal akhirnya membantu membawa Nathan keluar. Walaupun memar setengah mati belum tercapai, setidaknya malu setengah mati sudah tercapai sekarang.
"Banci, ingat kau harus membayar biaya reparasi mobilku!" Koko berteriak mengatakan itu pada Nathan.
Aku duduk di samping ring dengan kelelahan. Dia datang membawakanku minum.
"Minum dulu. Kau hebat." Aku tersenyum lebar mendengar pujiannya sekarang.
"Payah, kupikir ini sedikit lebih seru." Philip tertawa dan mengelengkan kepalanya."Cherrie keren!" Dia memberika dua jempol untukku yang kusambut dengan senyum lebar.
"Aku baru sekitar tiga atau empat bukan berlatih, itupun tak rutin, tapi untuk menghadapi amatir yang memang tak bisa berkelahi ternyata cukup."
"Baiklah aku pulang oke, cuma memastikan semua aman disini."
Koko duduk didepanku dan membantu membuka balutan hand wrapku.
"Ternyata reputasimu memang sesuai dengan kemampuanmu."
"Itu pujian atau sindiran Koko."
__ADS_1
"Dua-duanya." Aku ngakak.
Cherrie si pencari keributan, memang bisa diandalkan untuk menghajar orang juga.