TAWANAN GAIRAH CINTA SANG DUDA

TAWANAN GAIRAH CINTA SANG DUDA
SEASON 2 Part 36. Bao Bei, Spilled Brat! 3


__ADS_3

Aku sebenarnya tidak berniat bertengkar tadi, tapi begitu aku melihat bagaimana dia membawa dirinya didepanku, aku yang tadinya cukup heran kenapa Mama menyuruhku menyindir menantunya itu sampai malu mengerti ketika aku melihat detail penampilannya dari ujung rambut ke ujung kaki.


"Adik ipar, Birkinmu itu harusnya dijual saja, kurasa banyak yang mencari.... Itu limited bukan. Kau jual sekarang pasti banyak yang mau membeli, kau bisa untung." Sebenarnya aku tak tahu jenisnya, aku hanya ingin meneruskan menyindirnya habis-habisan untuk membalas sakit hati Mamaku.


"Kakak, aku membawa muka keluarga, jika aku tak punya tas ini maka yang lain akan mencelaku. Ini investasi nama baik Kak, biar suamiku tidak malu." Sekarang dengan licik dia menjawabku. Tentu saja dia tidak menerima saranku. Dia masih berani menjawabku.


"Ohhh begitu, terus siapa yang disini perlu kau pamerkan? Nama baik siapa? Nama baik suamimu didepan Mamanya sendiri, atau cantiknya, kayanya kau di depanku?"


Aku memojokkannya terang-terangan, ular ini memutar balik fakta. Jika itu uang suamimu sendiri terserah kau mau apakan, tapi ini kau memeras mertuamu sendiri dan pamer hasil memeras Mamaku didepanku.


Ibu pergi dari ruangan, mungkin dia selama ini diam tak ingin bicara tentang kelakuan anak menantunya itu. Tapi ada aku disini aku akan jadi speaker bazooka kalau perlu, karena nampaknya Mama sudah marah-marahpun tidak didengarkan oleh anaknya dan menantunya ini sama tidak tahu dirinya.


"Aku ... aku akan ke teman sehabis ini." Dia terbata-bata menjawabku. Aku tertawa dengan alasannya.


"Kau yang bilang itu investasi. Investasi itu harus menguntungkan, jika kau hanya bisa menghabiskan uang tanpa menghasilkan itu namanya pemborosan. Jadi kau pikir kau berhak menghabiskan ratusan ribu dollar di depan Mama begitu, sebenarnya apa maksudmu datang pamer didepanku, aku 40 tahun hidup sendiri di luar, aku kesini memberi Mamaku hasil keringatku sendiri, kau menantu tak tahu diri, suamimu mengancam meminta uang pada Mama, dan kau membawa dirimu dengan semua perhiasanmu hasil uang Mama didepanku, jadi maksudmu apa!?" Akan kubiarkan suaraku keras supaya Mama mendengar supaya sakit hatinya terbalas.


Aku mencercanya terang-terangan, balasan suaminya yang mengusirku terang-terangan. Dia terdiam melihatku.


"Kakak, aku kesini tidak untuk datang bertengkar...." Sekarang suaranya melemah, dia tahu siapa yang dia hadapi sekarang.


"Aku juga tidak, aku kesini untuk membuat bahagia Mamaku, tapi suamimu langsung mengancamku didepan Mama dan kau datang berlengok datang ke sini dengan membawa toko perhiasan di depanku! Kau datang kesini tidak untuk bertengkar?! Jangan main halus di depanku adik ipar. Aku orang yang malas melayani drama picisan! Aku akan muntahkan bulat-bulat semuanya di depan mukamu! Aku muak melihat Mama sakit hati karena suamimu! Dan kau kesini menambah sakit Mama! Kau benar-benar tak tahu diri!" Kumuntahkan semua kata-kataku sampai dia tak berani mengangkat wajahnya lagi di depanku.


"Kuingatkan kau adik ipar, jika kau berani pamer uang Mama didepanku sekali lagi, membuat sakit hati Mama, akan kuambil dan kujual semua yang melekat di badanmu itu dan kujual uangnya kukembalikan ke Mama. Mamaku saja penampilannya sangat bersahaja, tapi kau membawa dirimu seperti kau pemilik toko berlian di depanku, sungguh mukamu tebal. Jawab aku jangan diam saja! Tadi bukannya kau punya banyak alasan di depanku."


Mau mengorekku?! Aku akan balas mengulitimu!


"Aku mengerti Kakak Ipar, aku minta maaf kalau aku menyinggungmu."

__ADS_1


"Menyinggungku? Kau menyinggung Mama! Mama Mertuamu! Suamimu meminta uang kepada Mama, tapi kau yang menghabiskannya! Sebenarnya apa yang kalian pikirkan, orang tua memberikan yang terbaik bagi kalian, ingin kalian mandiri, tapi kalian malah membebaninya hingga tua."


Dia diam.


"Jika begitu aku pulang dulu Kakak Ipar, maaf sudah membuatmu marah..."


"Sana pulanglah."


Akan kulihat jika dia berani muncul lagi di depanku dan membuat Mama marah. Akan kujual tas Birkinnya itu. Dan adikku itu kurasa dia perlu dihajar jika muncul meminta uang lagi.


Aku duduk di meja makan bersama Mama.


"Menantumu sudah pulang Mama." Dia melihatku.


"Terima kasih sudah membela Mama."


"Apa sering adikku itu meminta uang Mama? Dia tidak berniat bekerja di salah satu perusahaanmu?"


"Mama tak pernah menolaknya?"


"Terakhir aku menolaknya. Ayahnya mencercaku habis-habisan. Keponakan-keponakanku tak ada yang diberi modal sebesar dia, semuanya tak ada yang menyusahkan seperti dia. Aku sudah bilang dia harus terlibat sendiri, mengawasi sendiri, entah apa yang dilakukannya."


"Kalau aku jadi kau Mama, akan kubiarkan dia, biar dia hidup apa adanya, dia tidak mencari uang sendiri dia tidak akan pernah tahu apa itu hasil sendiri Mama, bagaimana harus berhemat biarkan saja. Dia harus tahu biar dia bisa menghargai value nya Mama, jika tidak semua hartamu akan dihabiskannya dan cucumu hanya akan mendapatkan ampasnya, kau lihat kakak iparku itu, dia akan berfoya-foya dengan warisanmu."


"Begitukah." Mama meringis.


"Coba kau tanya yang lain apa aku berkata benar atau tidak. Kau dan aku pernah mengalami kita berjuang sendiri dari dasar Mama, adikku sudah dimanjakan dari kecil, dia tidak pernah tahu rasanya makan harus berhemat, uang harus dihemat, sama dengan istrinya itu. Jika kau tak tega sekarang, dia akan terus merongrongmu seperti yang kau bilang, membuang air ke lautan. Karena dia menggangap kau sungainya yang selalu mengalir. Jika sungainya kering dia baru tahu menghargai hujan dari langit. Usaha restoran yang mungkin dipakai seluruhnya untuk membelikan istrinya segala macam yang dimintanya."

__ADS_1


Mama berpikir lama.


"Aku tahu kau benar orang yang tak pernah di dasar tak akan tahu apa arti harus menghemat Mama, apa arti mencari uang sendiri."


"Jika kau tak tega, dia akan merongrongmu sampai jadi abu Mama, seperti kemudian, Birkìn kakak ipar akan jadi barang antik 50 tahun kemudian, lalu hanya akan meninggalkan ampas-ampasnya untuk cucu tersayangmu." Mama melihatku.


"Kukira kau benar..."


"Tentu saja, setiap orang bertumbuh dari kesulitan dan tantangan biarkan dia berdiri sendiri. Kalau dia mencarimu kau bisa kabur ke Hongkong ke tempatku dan pulang ke suatu tempat untuk urusan kantor saja. Kau harus keras hati Mama, dia tak akan mati. Birkin, jam mahalnya, Givenchy dan Manolonya adik ipar masih bisa dijual... Suruh mereka cari jalan sendiri." Mama tertawa.


"Apa kau punya hutang dengan Papa tiriku, maksudku apa kau pernah minta darinya." Mama tertawa.


"Aku menandatangani perjanjian pisah harta dengannya, dia menganggapku begitu remeh, hingga dia tak mau berbagi apapun padaku. Kau tahu ketika dia tahu aku adalah pemilik majority Ping An, dia begitu kaget dan tak percaya, itu adalah hari terbaik dimana aku bisa membalasnya dengan telak dan menumbangkan kesombongannya... tapi setelahnya aku merasa dia lebih suka menyindirku, tapi tak apa ketemu dengannya kadang hanya setahun hanya tiga kali belakangan ini."


"Kenapa dia tak menceraikanmu Mama, atau kau tak menceraikannya?"


"Dia tak berani, istrinya bukan siapa-siapa di banding nama keluargaku atau namaku, jadi dia mungkin merasa aku cukup berharga juga. Aku tak perduli, malas mengurus perceraian, selama aku hidup tenang. Kemarin aku memberikan cek itu bukan karena takut sebenarnya, aku takut kau tersinggung mendengar kata-katanya. Aku hanya ingin kau disini dengan tenang."


"Kau juga menjalani hidup yang sulit Mom. Kenapa aku merasa kita sama."


"Kita berdua sama-sama berjuang berdiri dengan kaki kita sendiri, kau memang putriku. Kau tahu, aku bersyukur kau mencercanya habis-habisan tadi. Semua yang ku ingin ucapkan rasanya terwakilkan selama ini." Mama meringis.


"Apa dia sering ke sini Mom?!"


"Kau bercanda, setahun dua tiga kali mungkin, jika cucuku ingin bertemu denganku, dia seringnya menyuruh sopir mengantarnya."


"Dia memang pantas di cerca. Aku memang cocok mengambil peran kakak ipar yang jahat." Aku tertawa. "Tadinya aku ingin jadi baik-baik saja, tapi begitu aku melihat semua yang menempel di tubuhnya aku mengerti kenapa kau menyuruhku menyindirnya."

__ADS_1


"Dia pun berniat jahat, kau yang menang. Tak usah merasa bersalah padanya. " Mamaku nampaknya menemukan partner in crime sekarang.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=


__ADS_2