TAWANAN GAIRAH CINTA SANG DUDA

TAWANAN GAIRAH CINTA SANG DUDA
SEASON 5 Part 28. I Will Come Again Tomorrow


__ADS_3

"Bibi dan Paman ingin makan siang, aku bisa menungguinya di sini, di pesawat mereka memberi cukup banyak makanan tadi. Aku masih kenyang."


"Bibi ayo makan siang denganku, aku juga lapar. Ada Julie menungguinya, dia akan baik-baik saja." Kimberly dengan baik hati memberikanku kesempatan berdua dengan Louis.


"Kalau begitu nanti Bibi akan membawakanmu sesuatu, kau harus makan. Bibi tinggal dulu."Aku mengangguk.


"Terima kasih Bibi."


Mereka meninggalkan ruangan, aku bisa duduk disampingnya sekarang. Melihat wajahnya yang tengah tertidur. Memainkan jemari tangannya yang masih hangat. Aku tahu ini bodoh, tapi aku tak bisa membohongi hatiku. Kenapa aku begini bodou aku juga tak tahu. Padahal kau masih punya banyak yang harus kau selesaikan.


Duduk diam seperti ini sudah cukup menghiburku. Cinta memang bodoh, kenapa aku harus jatuh cinta pada orang yang menganggapku mirip istrinya. Hanya karena dia bersikap baik padaku, dan merapikan rambutku di bawah daun pohon yang menguning. Kenapa hatiku bisa beralih hanya karena itu. Padahal banyak pria lain yang berusaha melakukam lebih dari itu. Aku setengahnya merasa ini salah, kenapa hatiku tidak bisa beralih ke Colin setelah sekian lama.


Tiba-tiba jarinya yang kugenggam bergerak. Matanya membuka, dia terbangun. Aku kaget dan langsung melihatnya membuka mata, aku tersenyum padanya. Bisa melihat mata abu-abu gelap itu lagi sudah membuatku tersenyum.


"Louis? Kau bangun?" Aku hampir menangis melihatnya membuka mata.


Aku bergegas menekan tombol perawat, mungkin mereka perlu mengeceknya.


"Julie?" Untunglah dia tidak memanggilku Chelsea. Setidaknya dia tidak berpikir dia di surga bersama istrinya. Setidaknya dia masih bisa mengenaliku.


"Kupanggilkan perawat, mungkin dokter perlu memeriksamu. Aku tak tahu apa yang harus dilakukan, aku akan memanggil Ibumu juga. Dia sedang makan siang dengan Kimberly. Tunggu sebentar oke, ada yang sakit."


"Tidak."


"Tunggu sebentar."


Aku langsung keluar dan memanggil perawat saja. Kemudian mengatakan pada Kimberly bahwa dia bangun.


"Ini jam makan siang? Ini masih tanggal 20 bukan?" Nampainya dia masih kebinggungan.


"Iya. Katanya lukamu untungnya tidak mengenai bagian vital. Walau kemarim Kimberly bilang operasinya memakan waktu hampir lima jam."

__ADS_1


"Kau sedang di NY?"


"Tidak aku baru tiba." Aku tak ingin membebaninya dengan memikirkan kedatanganku. "Aku memang ada pekerjaan. Jadi sekalian datang."


Perawat dan dokter kemudian datang. Memeriksanya mengajukan beberapa pertanyaan tentang apa yang di rasakannya. Ibu dan Ayahnya kembali dengan segera kemudian.


"Dia boleh minum sedikit tidak muntah boleh dilanjutkan. Hanya boleh makan sedikit sup cair yang akan diantarkan nanti sementara, makanan lain belum diizinkan, jika dia merasa mual jangan lanjutkan, jika baik-baik saja baru boleh makan malam diet sederhana nanti. Sementara makanan lain seperti buah buah belum diizinkan sampai observasi selanjutnya. Perawat tahu ini. Mereka akan ikut mengawasi. Kondisinya vitalnya stabil. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Jika kau merasakan sesuatu bilang pada perawat."


"Baik kami mengerti dok." Aku tenang karena Ibunya sudah disini. Dia tidak akan nyaman kalau aku yang merawatnya tentu saja. Aku tahu itu, melihat dia kondisinya stabil sudah bagus.


"Aku harus kembali ke kantor dulu Louis. Tommy ada di sini jika kau memerlukannya. Nathan akan datang lagi sore ini katanya. Julie jika kau memerlukan bantuan telepon saja oke."


"Thanks Kim. Tanpa kau apa yang bisa dia lakukan." Ibunya mengantar Kim.


"Apa penembaknya sudah ditemukan." Aku bertanya kepada Kimberly


"Mereka memang menemukan sesuatu, aku harus kembali ke kantor karena ini. Tenang saja kali ini pasti tertangkap. Aku pergi dulu semuanya. Nanti aku pasti akan mengabarkan kalian. Bibi Tommy, John atau Henry kau bisa mintai bantuan. Mereka ada si sekitar sini. Telepon saja mereka."


"Julie, kami membelikanmu makan siang paket pasta, salad dan ayam. Kau harus makan kau sudah terbang delapan jam langsung ke sini." Ibunya yang ramah dan berbaik hati padaku.


"Bibi terima kasih, aku malah merepotkanmu."


"Tidak, ini bukan apa-apa. Ayo makanlah." Ayahnya yang menjawab sekarang. Mereka ramah padaku, membuatku merasa sedikit sungkan sekarang. Aku menerima paket box makan siang itu.


"Kau boleh minum sedikit, jika tidak kau muntahkan, kau boleh makan sup." Ibunya yang sekarang memberi Louis minum. "Apa kau merasa sakit."


"Tidak, kurasa ini masih dalam pengaruh obat." Diatas apapun aku lega melihat dia baik-baik saja.


"Kau punya proyek film lagi dalam waktu dekat? Aku menonton filmmu, tak kusangka aku bisa bertemu denganmu langsung."


"Aku memang menerima beberapa tawaran, cuma aku belum memutuskan untuk mengambil yang mana Paman. Aku kesini untuk show musim dingin. Kalau film biasanya aku harus tinggal di LA selama proses syuting."

__ADS_1


"Bagaimana kau bisa bertemu dengan Louis."


"Kurasa kami bertemu di pesta charity, lalu beberapa kali lagi setelahnya saat kami di Jepang."


"Ohh kalian sudah liburan bersama." Ibunya langsung menyambar. Melihatku dan Louis bolak balik. Mungkin menyangka aku dan Louis sudah pernah seranja*ng.


"Ohhh tidak, hanya aku pernah bertemu dia Jepang. Aku punya pekerjaan di sana."


"Ternyata begitu. Jadi kalian teman." Aku menang hanya teman.


"Julie terbang ke NY dengan penerbangan pertama ke sini. Kau harusnya mengatakan sesuatu padanya. Dia mengkhawatirkanmu." Ibunya mengatakan pada Louis.


"Bibi, tidak apa. Louis sedang sakit, aku kesini hanya untuk melihatnya saja. Dia tidak harus mengatakan apa-apa padaku. Aku mungkin pulang saja, aku makan di rumah, nanti aku menggangu istirahatnya. Nanti aku akan datang lagi. Kalian juga jangan terlalu lelah." Dia sudah tidak dalam bahaya lagi. Mungkin lebih baik aku pergi saja sekarang agar dia bisa istirahat lebih nyaman. "Bibi terima kasih atas makanannya."


"Terima kasih kau sudah ke sini. Besok datanglah lagi." Dia baik padaku.


"Louis, istirahatlah. Cepat sembuh." Aku melambai padanya.


"Besok datanglah." Apa aku salah dengar? Aku melongo dan tak percaya apa yang kudengar, apa tadi dia menyuruhku datang?


"Apa?" Aku perlu memastikannya sekali lagi. Apa benar aku tak salah dengar. Bibi tersenyum padaku. Mengerti bahwa aku seperti tak percaya apa yang dia katakan padaku.


"Besok kau harus datang lagi. Dia menyuruhmu datang, lihat dirimu kau punya lingkaran hitam, pasti semalam kau tak bisa tidur memikirkannya. Dia anak bandel, dia akan baik-baik saja. Besok kau bisa menungguinya jika kau mau. Sekarang pulanglah dulu, jangan lupa istirahat yang baik." Aku tak bisa menyembunyikan senyumku. Bibi yang pengertian ini entah kenapa tahu isi hatiku dan ikut tersenyum padaku.


"Besok aku akan datang lagi Bibi."


"Iya datanglah." Dia melepas kepergianku. Aku menangis dengan bodoh keluar dari pintu itu.


Demi Tuhan dia menyuruhku datang. Bukankah itu artinya dia menerimaku?


...****************...

__ADS_1


__ADS_2