
Natal dan Tahun baru di Dallas, kota ini cukup dingin di Desember, antara 4-15ยฐC. Aku tiba di kota terbesar ke 9 di Amerika itu dengan mengandeng erat tangan Oliver. Penerbangan 17 jam itu melelahkan. Belum lagi kami harus menghadapi perbedaan waktu belahan bumi barat dan timur yang berbeda 13 jam.
"Apa rumahmu dekat?" Kami tiba di Forth Worth- Bandara International Dallas.
"Cuma 20 menit dari bandara ini, kau ingin berkeliling ke pusat kota Dallas dulu. Ini masih sore. Rumahku sebenarnya dekat dengan kantor pusat perusahaanku di pusat kota. Kita bisa memutar ke kota sebentar jika kau mau."
"Tidak, aku sudah kehabisan energi, bisa besok saja? Ini sungguh melelahkan. " Penerbangan 17 jam direct ini melelahkan. Masih jam 3 sore saat kami sampai, yang berarti di Hongkong sekarang jam 4 pagi hari berikutnya.
Gedung Headquarters AECOM Dallas. ( yang ada garis hijau) nya. AECOM ini benar-benar ada ya, salah satu perusahaan yang termasuk top 500. Di Indonesia juga ada kantor AECOM, salah satu contoh proyeknya di Indonesia adalah Garuda Wisnu Kencana , atau kalau di Asia Tenggara Santosa Resort Malaysia, Marina Bay di Singapore, itu semuamain project AECOM.
๐๐๐๐๐
"Makanya aku hanya pulang setahun sekali, malah kadang kami bertemu di kota lain yang lebih dekat."
Rumah keluarganya tak jauh dari pusat kota Dallas di Northwest Dallas, Dorset. Ada adik laki-laki dan perempuannya yang sudah berkeluarga juga akan bergabung kali ini.
"Rumahmu indah, ... "Aku tiba di sebuah rumah di lingkungan Dorset yang asri.
"Hanya Natal dan Tahun baru rumah ini penuh, 7 kamarnya terisi semua dengan keluarga adikku dan keponakan."
Dia bercerita Ibunya adalah pensiunan dokter sementara Ayahnya pensiunan arsitek seperti dirinya. Nampaknya dia mengikuti jejak Ayahnya.
Seseorang membukakan kami pintu, wanita tua yang sudah putih, tapi wajahnya sumringah menyambut kami. Ini pasti Ibunya.
"Akhirnya kalian sampai." Oliver langsung memeluknya, sudah pasti Ibunya. Sementara aku menunggu mereka melepaskan rindu mereka.
"Dan kau pasti Sandra... Senang bertemu denganmu sayang." Dia tersenyum padaku dan memelukku dengan hangat.
__ADS_1
"Bibi, aku juga senang bertemu denganmu." Ternyata dia ramah, penuh senyum.
"Akhirnya setelah berlalu hampir 9 tahun dia membawa seseorang kesini. Ayo, kalian pasti sangat lelah dengan perjalanan panjang kalian, Bibi mengenalkanmu pada yang lain, kalian bisa istirahat dulu, perjalanan panjang pasti menguras energi, kamar kalian sudah siap. Makan malam jam 7.30 Oliver." Aku masuk ke rumah yang suasananya homey itu, foto-foto anak-anak dan cucunya banyak terlihat di sekeliling ruangan, mereka orang tua yang berbahagia nampaknya.
"Oliver. Big Brother, akhirnya kau sampai..." Adik laki-lakinya yang pertama menyapa kami. Mereke toss berdua, nampak sangat kompak.
"Ini Steve, ... Ini Sandra." Adik bungsunya ini berbeda 7 tahun darinya.
"Sandra, senang bertemu denganmu. Dia sudah cerita banyak tentangmu."
"Benarkah... Aku tak tahu aku setenar itu." Aku berkenalan dengan istrinya dan anak-anaknya kemudian.
"Tentu saja kau tenar, kau orang pertama yang bisa menumbangkannya setelah sekian lama. Semua orang penasaran denganmu sekarang. Bagaimana kau bisa mempengaruhinya, kau harus cerita pada kami." Steve memberiku sudut pandangnya.
Dia dalam aku bertemu Ayahnya dan adik perempuannya.
"Ini Sandra? Senang bisa bertemu. Kau sumber gossip paling panas sekarang. Kata Steve kau bahkan tidak menyukai Oliver apa itu benar." Aku tertawa sekarang, belum apa-apa mereka sudah bertanya bagaimana kami bisa bertemu.
"Hei kalian punya banyak waktu bicara nanti, kami tujuh belas jam di pesawat apa kau tidak kasihan pada kami. Biarkan kami istirahat dulu."
Semuanya terlihat ramah, mereka keluarga yang hangat dan menyambutku dengan tangan terbuka.
Berkumpul dengan mereka, bertukar hadiah Natal, saling bercerita dengan riang. Semuanya nampak seperti apa yang disebut keluarga. Penerimaan ini membuatku merasa lega dan bahagia.
"Kalian berdua, jika kalian sudah memutuskan bersama, menikahlah dan menjadi keluarga. Apa yang kalian tunggu lagi..." Ibunya bicara dengan kami berdua saat kami sedang bersamanya dirumah sementara keluarga yang lain mengajak anak-anak mereka jalan-jalan.
"Kami menikmati masa-masa bersama Ibu, tak perlu terburu-buru. Sandra sedang memantapkan bisnis barunya sekarang, kami sudah berdua saling mendukung. Aku membawanya kesini untuk berkenalan denganmu, dan menghilangkan kekhawatiranmu dan omelanmu menyuruhku mencari calon istri." Dia memegang tanganku di depan Ibunya, Ibunya mendukung pilihan putranya tanpa banyak komentar.
"Sandra, aku menang mengomelinya. Kenapa dia menghabiskan hidupnya sendiri sementara mantan istrinya sudah menikah lagi. Tapi untunglah ada kau. Ngomong-ngomong bagaimana kau meluluhkan hatinya?" Bagaimana aku meluluhkan hatinya? Aku tidak bisa menjawab itu. Kurasa dia yang harus meluluhkan hatiku. Aku melihat Oliver dengan binggung.
"Dengan menendangku ke kolam renang." Oliver yang menjawab Ibunya sendiri. Dan Ibunya melonggo dengan jawabannya dan aku tertawa.
"Aku tak pernah meluluhkannya Bibi, dia yang jatuh bangun mengejarku. Aku tak menyukainya, dan membencinya di pertemuan pertama kami."
__ADS_1
"Ohh ya, benarkah, ke sini Sandra, ngobrol saja denganku. Ayo bicarakan denganku, apa yang dilakukannya hingga kau menendangnya." Ini gawat, bagaimana aku bisa menceritakan pada Ibunya kelakuannya ajaibnya itu.
"Mama...mama, tunggu dulu. Itu rahasia."
"Apanya yang rahasia?"
"Bibi lebih baik Bibi tak mendengarkan apa yang terjadi, itu lebih baik tak diceritakan."
"Kau! Nampaknya kau melakukan hal yang sangat buruk Oliver sampai tak pantas diceritakan. Jika dia macam-macam Sandra, katakan padaku biar aku pergi ke Hongkong dan memarahinya habis-habisan." Ibunya ternyata lucu juga.
"Keluargamu sangat baik, ..." Kami kembali ke Hongkong akhirnya, tahun baru telah berakhir dan kami akan segera bekerja lagi.
"Mereka ya...seperti itu. Kami jarang berjumpa, sekalinya kami bertemu akan terjadi seperti itu.
"Andai aku punya keluarga yang baik. Aku merasa miris dengan keluargaku sendiri. Adik tiriku langsung mengusirku pergi saat pertama aku menyapanya."
"Adik tiri bangsatmu hanya ingin uang Ibumu. Tak usah menganggapnya adik. Asal kau bisa membuat Ibumu bahagia sudah cukup."
"Hmm... Ya tak ada kehidupan yang sempurna semuanya punya masalah masing-masing." Aku menyerah mengharapkan adik yang baik.
"Lupakan dia banyak yang harus kita pikirkan di depan. Aku harus ke Hanoi setelah ini, aku akan kembali sebelum Chinese New Year oke mungkin sekitar 2-3 minggu. Selain proyek aku ada proposal penawaran ke pemerintah. Jadi agak lama... Kau tak apa bukan kutinggal?"
"Tak apa. Tenang saja ada Brother Shim disini jika aku perlu bantuan. Mama sepertinya mau mengajak Bibi belanja di Hongkong untuk tahun baru sekitar seminggu. Jadi aku akan bersama mereka juga. Tapi aku akan merindukanmu." Mengelung di lengannya memang membahagiakan.
"Aku juga akan merindukanmu, ku usahakan tak terlalu lama, mungkin aku bisa menghemat schedule beberapa hari jika lancar."
"Baiklah, restoran akan segera akan buka setelah tahun baru. Tak sabar untuk segera memulai. Kuharap pengerjaan interior mereka semua sesuai schedule. Aku akan mengawasi mereka sekarang, sementara Brother Shim memastikan semua yang bekerja di sana akan siap untuk pembukaan. Malah Brother Shim sudah menyebarkan voucher diskon untuk pelanggan lamanya jika mereka ingin mencoba di restoran baru kita."
"Tak sabar untuk memulai, semoga kau sukses sayang."
Semoga bisnis berjalan dengan lancar, walaupun aku masih harus menghadapi Shanghai besok, menghadapi pandangan sinis adikku di rumahku sendiri saat semua keluarga berkumpul.
Shanghai, adalah batu sandungan yang harus dibereskan.
__ADS_1
\=\=\=\=\=\=\=