TAWANAN GAIRAH CINTA SANG DUDA

TAWANAN GAIRAH CINTA SANG DUDA
SEASON 4 Part 58. Picky Eater Princess 3


__ADS_3

Pulang ke rumah, aku dan Sayuri lebih banyak diam. Malas bicara dengan tuan putri paling benar. Kami malah berbalas pesan di chatting.


'Papa, apa jika harus ikut ke taman? Bagaimana jika nanti kita kabur saja.'


'Caranya?'


'Bilang saja kau ada situasi darurat di kantor workshop Osaka. Lagipula apapun alasanmu tak penting, tunjukkan kau menghindarinya terang-terangan juga tak apa. Kau usah merasa tak sopan padanya, dia memang tak sopan. Lebih baik kau pura-pura kabur ke Osaka dan menginap di apartment, dan aku akan kabur mengerjakan tugas. Kenapa aku muak sekali beramah tamah dengannya. Aku malas menemaninya Hanami."


'Papa juga sudah muak berhadapan dengannya.'


'Papa aku ikut denganmu kabur bagaimana, aku bisa pura-pura menginap di rumah temanku. Setidaknya sampai Senin sore. Selasa bukannya dia sudah pulang.'


'Baiklah Papa pura-pura pergi dulu ke Osaka pagi-pagi sekali dengan bawa koper, masukkan bajumu dan tasmu di koper Papa, kita kabur ke apartment. Nanti kau menyusul oke.'


'Oke.'


Dan begitulah di perjalanan pulang kami malah menyusun rencana bagaimana kabur besok karena tak tahan lagi berhadapan dengan tuan putri.


"Sayuri, untuk perjalanan Hanami lusa, Kakak akan buat bekal piknik. Kau mau dibikinkan apa?"


"Apa saja, beli di luar saja. Kenapa harus merepotkan diri, banyak penjual makanan."


"Membuat sendiri lebih sehat." Dia sangat bangga dengan makanan sehat dan hambarnya.


"Terserah Kakak, aku akan menerima makanan apapun jika lapar." Aku yang duduk di depan bersama sopir meringis mendengar perkataan Sayuri. Sayang sekali makanan itu akan terbuang percuma.


"Jadi Kakak besok akan sibuk."


"Semangat Kakak."


Kami sampai di rumah kemudian. Ibuku dan Ibu Yumi ternyata menunggu kami di ruang tengah.


"Bagaimana makan malam kalian, ternyata Sayuri ikut." Ibu yang menyapa kami duluan.


"Iya Sobo, aku ikut. Tapi kami pindah ke restoran Italia, Kak Yumi yang makannya sehat makan salad dan pizza makarel, dia tidak bisa makan keju dan pasta ternyata. Menurut Kak Yumi itu tidak sehat, aku dan Papa menghabiskan yang lain, itu salah satu restoran favorit kami. Aku jadi merasa bersalah Kak Yumi hanya makan vinegar salad yang rendah kalori dan pizza ikan ala Kyoto. Tapi hanya itu ternyata yang cocok untuknya. Ternyata Kak Yumi hanya suka makanan Jepang Sobo, harus rendah garam, tak boleh produk dairy, karena dia menjaga kesehatannya, lain kali kami akan mengajaknya ke restoran kaiseki mahal saja. Maaf Kak Yumi, maaf Bibi kami bersalah..."


Jika kau sadar, itu sindiran Sayuri bagi Yumi yang tidak bisa menyesuaikan diri. Sekaligus memberikan gambaran pada Sobo-nya seperti apa picky eaternya wanita ini. Apa dia harus membiarkan wanita ini mengatur makanan cucunya sampai seketat itu. Karena aku tak akan membiarkan anakku memakan versi makanan hambar dan sehatnya sesuai idealismenya.

__ADS_1


"Ohh begitu, kau sama sekali tak suka makanan selain makanan Jepang." Ibu bertanya pada Yumi.


"Bibi, memakan makanan sehat lebih baik, itu untuk kesehatan." Dia yang masih tak sadar di sindir tetap menunjukkan idealismenya.


"Kau ini Yumi, sesekali makan menikmati makanan tak apa, asal tidak berlebihan. Apa semua orang harus mengikuti kesukaanmu. Bibi yang minta maaf pada Sayuri dan Ryohei, makan saja yang kalian mau jangan pikirkan Yumi." Bibi Yuriko ternyata lebih sadar bahwa anaknya sedang disindir. Tapi Ibuku jadi diam seolah dia menyadari sesuatu.


"Ibu ini juga baik bagi mereka. Jika mereka ikut kebiasaanku mereka akan lebih sehat dan bugar di masa depan. Semua ahli diet dan dokter akan setuju denganku."


"Mungkin kau belum pernah mendengar menikmati makanan juga bagian dari kesehatan. Kata Oishi tidak diciptakan ketika kau menikmati makanan hambar."


Aku hanya menambahkan bahan bakar. Makanpun kami berdebat, apa lagi yang cocok untuk kami di sini. Ibuku biarpun dia menghargai makanan Jepang seperti orang berumur lainnya, tapi dia juga petualang makanan, dia tidak punya kesulitan jika harus mencoba makanan baru walau dia harus membatasi porsi sesuai umurnya.


"Ramen enak, tapi tak boleh sering-sering tentu saja, lebih baik makan lebih banyak bahan makanan segar, mengurangi minyak, garam, ..." Dia masih berdebat. Aku memang ingin memperlihatkannya pada Ibu.


"Yumi. Sudahlah mereka ingin istirahat. Besok Sayuri masih sekolah." Ibunya yang lebih sadar Yumi sudah melakukan kesalahan menghentikan kata-katanya anaknya.


"Sayuri, naiklah untuk istirahat besok kau sekolah." Sobonya pasti tidak menyalahkan cucunya sekarang, dia tak pernah bersikap tak sopan pada tamu. Sayuri berkali-kali lebih pintar dalam bersikap daripada nona dokter idealis yang dari keluarga elit ini.


Aku beramah tamah kemudian, setidaknya menunjukkan aku menghargai tamuku dan tidak membuat malu Ibu. Tapi besok aku akan pergi dengan Sayuri.


Seseorang mengetuk pintuku ketika aku sudah naik ke atas dan mandi. Pasti Sayuri, dia membawa beberapa perlengkapannya untuk kabur ke apartment dekat kantor.


"Ini sudah? Jika nanti ada yang ketinggalan bilang ke Kasumi untuk diam-diam membawakannya."


"Papa, tadi Sobo bertanya padaku apa yang terjadi di restoran."


"Benarkah?" Ibuku ternyata mulai terbuka matanya.


"Aku sudah memberitahu Sobo bagaimana dia membuat kita menunggu begitu lama hanya karena dia tidak ingin makan pasta dan keju. Aku terang-terangan bilang aku tak suka padanya Papa. Dan kau tahu Papa nampaknya Sobo mulai paham kenapa aku tak suka dengan Nona pemilih makanan itu. Dia selalu memaksakan pendapatnya ke orang lain."


"Itu bagus, jadi dia tak menyalahkan kita kabur besok. Tadi dia menggali kuburannya sendiri sebenarnya dengan terus mengatakan soal betapa pentingnya makanan sehat."


"Papa tak menelepon Kakak Shiori?"


"Sebentar lagi."


"Dia pulang Sabtu bukan?"

__ADS_1


"Iya dia pulang Sabtu sore."


"Papa tak mememuinya?"


"Papa berjanji pada Ayah Shiori untuk menyelesaikan persoalan Yuna dulu. Papa harus memegang janji Papa."


"Papa tak merindukannya." Sayuri menggodaku.


"Anak kecil. Kau harus tidur, jangan membahas persoalan Papa."


"Papa harus mengatakan padanya jika Papa merindukannya. Sesuatu yang tidak dikatakan itu tak akan diketahui." Aku tertawa. Anak ini dia tidak akan berpindah ke manapun, Kakak Shiorinya sudah ada dihatinya.


"Pergilah tidur, besok kau pulang ke apartment setelah les. Jangan lupa bilang pada Sobo."


"Papa boleh aku cerita soal ini ke Kakak Shiori nanti."


"Cerita saja. Tak apa kurasa. Tapi nanti Papa akan cerita ke dia Kakak Shiorimu."


"Baiklah, aku akan tidur. Selamat malam Papa."


Besok kami akan kabur dan setelah itu dia akan pergi.


Aku pergi pagi-pagi, koperku sudah siap dan diam-diam sudah kutitipkan ke Mayumi agar dia bisa langsung memberikannya ke sopir yang akan mengambilnya siang ini.


"Mama, aku harus ke Osaka sore ini. Ada yang perlu kuurus di sana." Aku menelepon dari kantor saat jam makan siang.


"Ohh baiklah. Hati-hati di jalan oke." Kejutan, dia bahkan tak membahas soal Hanami yang di rencanakan Yumi. Apa dia berubah pikiran mendukung Yumi gara-gara semalam?


Kejutan lainnya datang sore harinya.


"Papa kau tahu saat aku minta izin pergi ke rumah temanku sepulang les Sobo langsung setuju. Dia malah bertanya apa sopir akan mengambil pakaian untukku.


"Ohhh benarkah? Itu aneh, dia juga langsung tak banyak omong saat Papa bilang akan ke Osaka, apa dia berubah pikiran soal Yumi?"


"Sepertinya begitu Papa, aku berhasil meyakinkan Sobo nampaknya, akhirnya dia mendengar cucunya sendiri."


"Kita berhasil Papa. Pemilih makanan itu sudah kalah."

__ADS_1


Benar. Dia sudah kalah.


\=\=\=\=\=\=\=\=


__ADS_2