
"Tak usah bicarakan itu, sama sekali tak penting." Aku tertawa kecil. "Game apa yang kau ciptakan aku ingin tahu." Dia akan kupuji lagi.
"Ohh sekarang aku sedang bekerja di reality augmented, belum released, masih dalam tahap pengembangan."
"Wow game 3D, itu pasti sangat keren." Aku bertepuk tangan kecil untuknya. "Apa melibatkan karakter lo*li juga." Sekarang dia tersedak, aku tertawa melihat reaksinya.
"Maaf, aku tidak terbiasa dengan anime, aku tidak tinggal di jepang dari delapan tahun, baru tujuh tahun kembali. Jadi aku tahu kalian di sini punya minat besar terhadap lo*li." Aku menjelaskan dengan bahasa yang kupikir tidak menyinggung. Tapi entah kenapa dia nampak tidak nyaman. Apa aku menyinggung lo*linya. Nampaknya dia memang penggemar l*oli.
"Ahh rupanya begitu. Kau tidak terlalu membaca anime jepang."
"Tidak, aku baca komik Marvell. Tapi kadang baca detektif Conan, Doraemon tentu saja atau yang populer seperti Naruto, itu seru, ya sesampai disini kenal karakter lain karena penasaran." Aku bicara dengan riang.
"Pantas bahasa Jepangmu agak berbeda." Aku tertawa.
"Kata orang-orang di kantorku aku agak seram, bicara tak ada lembut-lembutnya. Terlalu to the point kata mereka." Kutambahakan predikat "TUKANG TUDING" di banner peringatan.
"Tidak begitu Shiori-san."
"Memang begitu, aku tidak suka bertele-tele dan membungkuk." Dia diam, alarm bahaya mungkin sudah menyala di kepalanya.
Aku tak perduli, aku terus bicara padanya. Agar dia tak membuang waktu bersamaku.
"Maafkan aku, ku ke toilet sebentar." Makanan penutup akan disajikan. Sebentar lagi makan malam ini berakhir.
__ADS_1
"Ohh iya sihlakan Minato-san."
Aku menunggu cukup lama. Kusadari dia pergi cukup lama. Sampai sebuah pesan sampai ke ponselku.
'Shiori-san, maafkan saya, tiba-tiba boss menelepon, saya harus mendiskusikan sesuatu dengannya. Saya harus kembali, maaf, tagihannya sudah saya bayar. Terima kasih sudah menemani saya makan malam.'
"Ahhh dasar pengecut. Pergi saja tanpa pamit." Aku berguman sendiri. Orang disampingku menoleh.
Aku menoleh balik padanya.
"Apa yang kau lihat Tuan." Memasang mode Yakuza membawa samurai. Sayangnya yang ini cukup tampan. Aku menyesal mengatakan kata-kata yang ketus padanya.
"Lolinya memanggil. Dia lebih suka lolinya di rumah." Dia tertawa ngakak, aku bertaruh dia mendengarkan drama tadi.
"Kau benar. Dia lebih suka lolinya."
"Dia bayar. Kalau tidak akan kucerca dia langsung." Aku sembarangan bicara, tidak dalam kenyataannya akan kubayar sendiri.
"Kau terlalu menakutinya. Dia langsung jatuh mental, selamat, nampaknya kau menghemat waktumu." Dia masih meringis lebar, melihatku. Aku jadi senang ada orang yang tidak melihatku sebagai sesuatu yang aneh. Pria tampan ini nampaknya berusia diatasku. Suaranya tenang, dia bisa membaca niatku, mungkin dari tadi dia menyembunyikan senyumnya sendiri mendengar pembicaraan kami.
"Kau tahu aku mengerjainya?"
__ADS_1
"Dari awal kau sudah melakukannya." Dia tersenyum dan menuangkan sake untukku.
"Hmm ... jarang orang yang cocok denganku. Terima kasih."
"Bisa dimegerti."
"Jarang orang yang bisa mengerti." Aku menghela napas panjang dan menatapnya. Orang asing ini bisa melihatku lebih jelas dan nampaknya tak menganggap aku mahluk dari planet Mars.
"Kenapa kau terperangkap di Jepang? Kau nampaknya bisa hidup mudah di mana saja."
"Kau benar, aku hanya anak berbakti yang mencoba menjaga orang tuaku." Dia menatapku.
"Itu hal yang bagus. Orang tuamu beruntung memiliki anak sepertimu." Dia memujiku.

Papa dan Mama mengatakan padaku hal sebaliknya, seharusnya aku tidak kesini. Apakah aku tak menyesal dengan keputusanku di kemudian hari. Aku sendiri bimbang sekarang.
Aku diam saja, sake itu manis tapi kemudian berakhir pahit. Apakah tujuan manisku akan terbayar dengan rasa manis bagiku, atau seperti sake ini meninggalkan rasa pahit yang membakar. Semankin ku minum mengejar manisnya, semankin aku kehilangan arah.
"Iya, aku hanya berharap aku bisa berbakti untuk mereka." Aku berusaha tersenyum walau hidup tak sempurna.
"Terima kasih untuk sakenya. Aku harus kembali."
__ADS_1
Aku membungkuk kecil pada pria asing itu. Dia membalas bungkukan singkatku.
Malam yang sia-sia. Lebih baik aku kembali saja. Baru kusadari aku memang naneshi gusha. Dunia ini memang asing bagiku. Aku tak berakar di sini.