
Dalam tiga hari berikutnya aku akhirnya sampai dirumah. Bon rumah sakitku dilunasi oleh Tuan Rhoyei, Papa yang membantu mengurus administrasi mengatakan dia menemukan tagihan sudah lunas.
"Kau tahu siapa yang membayarnya?"
"Sepertinya Tuan Ryohei."
"Ternyata dia tahu diri juga." Papa yang masih ingin marah itu nampaknya belum selesai menyalahkan Ryohei-san.
"Ya sudahlah ayo kita bersiap pulang saja. Shiori, nanti kau telepon dia dan bilang terima kasih." Ibu berusaha menetralkannya.
Walau masih belum diperbolehkan bekerja dalam seminggu ke depan, setidaknya aku bisa mengawasi pekerjaan dari rumah dengan tetap memperhatikan kata dokter.
Mama dan Papa sudah berangkat mengajar, aku meriview dokumen dari kamarku, bisa terlibat online meeting dengan tim, walaupun dengan pandangan iba karena kepalaku masih dibalut perban dan bekas memar yang masih membiru di sebagian tangan dan wajahku
Yang penting aku selamat, begitu pikirku.
Hampir jam makan siang, aku sudah kelaparan. Mama masih meninggalkan makanan untukku, tapi kemudian bel pintu berbunyi di depan. Apa Mama memesan makanan, sudah kubilang padanya aku yang memesan sendiri.
"Ryohei-san?" Aku kaget dia bisa berdiri di depan pintuku. "Kenapa kau kesini." Dia berdiri disana dengan jas kerja dan tentengan dua kantong besar.
__ADS_1
"Aku hanya mengantar makanan, kata boss-mu kau mulai bekerja dari rumah hari ini." Baru kusadari yang dibawanya itu dua bungkusan besar kantong makanan.
"Ini benar-benar tidak perlu..." Sampai dia sendiri yang datang.
"Apa Ayah dan Ibumu di rumah? Aku membawa buah-buahan untuk mereka." Kantong buah yang dibawanya itu dari toko buah terkenal Sembikiya yang ada di Ginza dan Sihinjuku.
"Tidak mereka sedang mengajar."
"Ohh iya-iya baiklah. Maafkan aku." Aku tak sadar bawaannya berat. "Harusnya Ryohei-san tidak perlu membawa semua ini." Aku menyuruhnya membawanya ke meja dapur karena aku tidak diperbolehkan mengangkat berat karena cederaku masih dalam pemulihan.
Dia membawanya dua bungkus besar kantong itu ke meja dapur kami.
"Terima kasih, harusnya kau tidak merepotkan dirimu sendiri. Maaf rumah kami hanya sederhana, kubuatkan kau teh."
"Kau cukup kacau." Aku melihatnya, dia melihat iba penampilanku. Memarku yang sudah membiru itu memang membuat wajahku terlihat kacau paling banyak di tangan karena aku melindungi kepalaku dari pukulan.
__ADS_1
"Ohh bekasnya akan menghilang nanti, tak apa. Sekarang memang kacau yang penting aku masih hidup. Ryohei-san mau teh?" Yang bisa kulakukan sekarang adalah membuat candaan aku masih hidup dan pulang ke rumah.
"Tidak usah. Aku bawa minumanku sendiri." Aku tersenyum, dia tak membawa minuman apapun.
"Kau bawa minuman apa? Melon soda, Cola? Pocari? Ini tak memerlukan usaha membuatnya."
"Baiklah terserah padamu. Pocari saja."
Kuserahkan satu can Pocari padanya. Dan duduk di depannya di meja dapur, mengeluarkan makanan dari kantong besar itu. Banyak sekali harusnya Mama tak perlu memasak dua hari dengan makanan sebanyak ini.
"Ini banyak sekali, terima kasih. Terima kasih juga kau sudah mengurus bill rumah sakit." Dia tidak menjawabku.
"Kau tak kembali ke dokter. Apa masih sakit..."
"Ohh besok aku harus ke dokter. Sedikit, kadang hanya sakit kepala, pusing dan sulit menarik napas panjang karena rasanya sakit. Tapi kata dokter perlahan akan membaik. Yang penting aku harus tahu berhenti jika sudah pusing. Ini tinggal pemulihan kau tak usah khawatir."
Sambil bicara aku memasukkan buah-buahan ke kulkas. Mama pasti senang bunya buah ini di kulkasnya sepulangnya dia mengajar nanti. Aku bolak balik beberapa kali, mengabaikan rasa sakit yang terasa, sebelum satu bungkus terakhir pandanganku goyah dan membuat aku harus berpegangan ke meja.
"Kau tak apa?!" Ryohei yang berada di sampingku memegang lenganku dengan sigap. Wangi parfumnya langsung menerpaku."Duduklah. Apa kau harus berbaring? Kepalamu pusing?"
__ADS_1