
“Kau mau makan apa?” Kami kembali ke seberang pulau.
“Kau yang mau makan, aku ikut saja.”
“Bagaimana jika kau yang memilih, sesuatu yang sudah lama lama tak kau temukan. Tapi dulu sering kau kunjungi?”
Ada sebuah restoran sebenarnya dulu Ko Derrick selalu suka mengajak kami kesini. Makanan khas Canton, Kin Kitchen, char siu mereka yang terbaik, ayam panggangnya saus kecap juga adalah menu yang wajib dipesan disana, dim sum, restoran keluarga, saat-saat kami masih dalam satu group, merasa seperti menemukan keluarga kami sendiri.
Tapi dulu saat makan, aku juga melihat Ko Derrick sering diam berpikir sendiri, mungkin teringat anak istrinya yang dipisahkan darinya. Aku masih bisa mengingat dia kadang termenung dan menghilang dari kami walaupun dia ada di sana.
"Bagaimana kalau kita ke Kin's Kitchen, di Hennessy Road."
"Boleh, restoran Canton bukan."
"Iya, kau suka Chinese Food?"
"Selama tujuh tahun, kurasa aku sudah terbiasa dengan banyak macam makanan di Hongkong, semuanya ada disini. Nanti kau pesan saja apa yang kau mau, aku makan apapun kecuali yang berupa salad." Aku tertawa.
"Thanks..."
Dia tersenyum kecil menanggapi kata terima kasihku. Aku duduk di sebelahnya, hari ketiga yang terasa seperti liburan ini membuatku gamang. Tadinya kupikir dia hanya Don Juan yang punya terlalu banyak uang dan penasaran, tapi caranya ingin terlibat dalam masalahku membuatku berpikir ulang.
"Kenapa kau tak mengajakku bertengkar lagi." Aku menoleh mendengar perkataannya.
"Kau mau bertengkar dengan orang saat di meja makan?" Aku meringis.
"Aku hanya takut aku membuatmu membenciku tadi, aku tak menyangka kau punya trauma. Kau jadi tiba-tiba jadi diam sekali sekarang."
"Hanya sedikit nostagia mengingat jalan-jalan ini. Rasanya kembali ke rumah itu sebenarnya menyenangkan, seperti mengingat masa lalu. Dulu masa aku masih berada di Group Ko Derrick, kami sering ke Kin Kitchen ini, waktu itu kelompok kita masih bersama, kami sepertu keluarga sebenarnya, mengantungkan hidup satu sama lain, kurasa itu walaupun tidak bisa dikatakan saat yang mudah tapi juga aku punya keluarga, hidup di Kowloon tidak mudah, kami tak terpisah masih ada Ko Derrick, dia sering mengajak kami ke sini minimal sekali sebulan saat kami semua gajian. Kelompok kami cuma tujuh orang, aku tak tahu mereka dimana lagi sekarang. Aku memutuskan hubungan ke semua orang setelah berhasil keluar dari Hongkong."
Dia menatapku dalam diam.
"Kau tak perlu melakukan ini untukku Oliver, sepulang ini aku akan bicara dengan Ko Derrick, minta bantuannya."
"Jika ku bilang aku akan membantumu, maka akan kulakukan. Sudahlah, bagaimana jika kita makan yang enak saja, dimsum mereka pasti enak, setelah ayo nonton film saja, aku perlu mengalihkan pikiran hari ini."
__ADS_1
"Hmm... kenapa sikapmu sangat berbeda, saat di Bali dan di Vietnam kau tak sesopan ini." Dia tersenyum sekarang.
"Kau teman, bukan pacar sementara. Aku tak merayu teman. Tapi jika kau ingin kurayu katakan saja, mungkin aku bisa mengusahakannya." Aku tertawa, sekarang dia sedikit mirip species XXXL yang kukenal sebelumnya.
"Ohh yang kemarin mode mendapatkan pacar sementara. Kau memang basta*rd..."
"Yang penting kau sudah melihat semuanya, kau masih mengingatnya bukan. Sebagai teman kau sudah mengenalku luar dan dalam lengkap...."
"Melihat apa?!" Sekarang aku memukulnya lengannya.
"Sebenarnya itu salahmu sendiri kenapa keluar, tak bisakah kau diam saja di dalam, memangnya itu akan bertahan berapa lama, karena kau keluar kupikir kau mau ikut aku menawarimu bergabung." Dia masih melanjutkan tanpa melihatku.
"Kau yang berisik, siapa suruh kalian berdua begitu berbisik!" Sekarang dia tertawa.
"Itu ekspresif, tapi kalau dipikir itu memang lucu..." Dia masih melanjutkan. Aku tak mau melihatnya sekarang, entah bagaimana ini menjadi pembicaraan mengenai pertemuan awal di Bali itu lagi.
"Itu tidak lucu."
"Kenapa? Kau tak bisa tidur setelah itu. Makanya harusnya kau bergabung saja, siapa suruh kau memasang harga tinggi." Dia tertawa ngakak dengan puas. Aku jadi kesal melihatnya tertawa puas, tapi saat pandangan kami bertemu aku tak bisa menentang matanya, rasanya mukaku panas membayangkan semua itu.
"Kenapa kau tak mengajak gadis itu kencan, malah mengajakku makan?"
"Kenapa kau mau tahu?" Dia melihatku dengan senyum dikulum.
"Aku hanya bertanya." Ternyata dia memilih tak menjawab pertanyaanku.
Kami sampai ke restoran kemudian. Aku tak pernah ingat Kent kesini, ini bukan restoran langganannya kurasa. Jadi aku tak takut dia kesini. Walaupun begitu aku tetap punya kekhawatiran dia tiba-tiba muncul di depanku.
"Pesanlah apa yang kau mau." Dia menutup buku menunya dan membiarkanku memilih.
Aku melihat ke sekeliling sebelum masuk, kemuda selalu mengawasi pintu masuk, kali ini bukan karena posisi pengawalan tapi takut Kent tiba-tiba masuk dari pintu itu. Seperti sudah kebiasaan yang tertanam padaku, dulu aku selalu mencoba menghindar berada di sekelilingnya jika bisa. Sekarang itu seperti kembali lagi...
"Sandra, berhenti melihat sekeliling. Ada aku disini, tak akan ada hal buruk terjadi, walaupun bangsat itu berani muncul di sini pun tak akan ada yang terjadi. Dia tak akan bisa menyen*tuhmu lagi seujung rambutpun." Teguran Oliver membuatku kaget, rupanya dia sadar perhatianku terbagi.
"Maaf, aku hanya..."
__ADS_1
"Kau aman sekarang, jika dia berani munculpun ada aku di sini, jikapun dia muncul aku yang akan membuatnya pergi. Ayo pusatkan perhatianmu pada buku menu. Katakan padaku apa yang kau pilih."
Kukatakan padanya jenis dimsum yang kupilih, kemudian main course, habit tetaplah habit tak bisa berubah secepat itu, aku tetap mengamati sekaliling dengan waspada, karena aku sering menjadi pengawal VVIP habit itu tambah kentara, walaupun ada Oliver mengajakku bicara.
"Makanan kita sudah datang." Oliver bersuara.
"Ohh." Aku terpaku pada pintu yang terbuka tadi dengan berapa orang masuk, mengamati mereka sejenak.
"Dimsum-nya sudah datang ayo makan." Tapi dari posisi kami aku bisa melihat kedatangan orang di muka restoran, suara sekecil apapun di pintu akan membuatku mengalihkan pandanganku. Kusadari Oliver memperhatikanku kemudian.
"Maaf, itu hanya reflek."
Dia menghela napas dan memanggil pelayan.
"Kami boleh ganti meja ke ujung sana?"
"Ohh boleh Sir. Apa ada yang salah disini?"
"Tidak hanya ingin berganti meja."
"Baik saya akan membawa makanan Anda ke meja. Sihlakan pindah."
"Ayo,..." Kali ini dia meminta tanganku untuk digandeng, yang terpaksa kuterima karena dia bahkan sudah mengusahakan memindahkan meja kami, ke tempat yang lebih terlindung dari orang-orang yang lewat dari pintu depan. Teman yang meminta menggandeng tangan ini sungguh membuat salah tingkah.
"Duduklah sebelah sana." Dia bertukar arah denganku sekarang. "Ini lebih baik bukan." Aku cuma tersenyum padanya.
"Terima kasih." Aku mulai bisa menikmati makanan kami dan mengobrol tanpa harus mengkhawatirkan siapa yang akan lewat dan melihatku di belakang sana.
"Yang ini enak, aku menyukainya.Aku mau ini lagi satu, kau mau?" Dia bicara tentang dumpling udang yang dicampur dengan rebung.
"Aku tak tahu sayuran apa ini, rasanya cukup aneh, dan tidak berwarna seperti salad." Aku tertawa, pembenci sayuran yang anti salad.
"Itu bambu muda. Tidak, kau saja ini masih banyak. Kita masih punya main course."
"Bambu. Kupikir itu keras, ini umbinya?"
"Tidak, itu semacam tunasnya."
__ADS_1
Setelah sekian lama, baru kali ini aku makan berdua lagi dengan seseorang. Aku memang menghindarinya selama bertahun-tahun.
"Sandra?!" Aku berjengit kaget ketika seorang memanggil namaku.