TAWANAN GAIRAH CINTA SANG DUDA

TAWANAN GAIRAH CINTA SANG DUDA
SEASON 2 Part 20. Good Father


__ADS_3

Berita Yuna Aize berkembang makin liar bebetapa hari kemudian, yang tercepat adalah bagaimana akhirnya kontraknya di batalkan oleh Mikako Tabe, istri selingkuhannya, dan yang paling terasa adalah hujatan di media atas kelakukan tidak pantasnya itu.


Kubayangkan dia pasti kehilangan banyak pekerjaan karena penampilannya dibatalkan.


Aku mulai masuk kantor dalam seminggu kemudian. Jahitanku sudah mengering, bekas pukulan memudar, semangkin jarang aku merasakan sakit kepala, aku merasa lebih baik.


Sopir Ryohei-san benar-benar mengantar dan menjemputku. Tapi aku hanya menerima pengaturan itu selama seminggu, selanjutnya aku menolaknya.


"Awal bulan depan kita akan tanda tangan perjanjian secara resmi dengan pihak pemerintah di Hanoi. Kau dan Kenichi ikutlah ke Hanoi. Kalian yang mengerjakan proyek ini."


"Aku mengerti."


"Kemajuan kasusmu sangat lambat di tangan polisi, tapi wanita itu terkena kasus sekarang. Kudengar itu dikerjakan oleh Derrick dan Ryohei?"


"Iya Sir. Mereka yang menyebarkan video itu. Balasan yang setimpal kukira."


"Tapi dia tidak mengancammu lagi bukan."


"Untuk sementara tidak kukira. Dia akan sibuk menerima akibatnya. Tapi mereka masih berusaha menemukan orang yang melakukan pemukulan. Kurasa dengan gosip ini damagenya bahkan lebih besar."


"Kau benar, kubaca dia kehilangan banyak pekerjaan. Baiklah, kau coba minta Kenichi nanti meminta waktu pasti tanda tangan."


"Baik. Saya akan mendapatkan jadwalnya segera."


Akhir pekan pertama bekerja akhirnya terlewati. Aku bersiap pulang, hari ini tak ada sopir yang menjemputku lagi. Seseorang meneleponku, Tuan Ryohei, kenapa dia meneleponku.


"Ryohei-san?"


"Shiori-san, kau sudah pulang?"

__ADS_1


"Sebentar lagi."


"Ohh aku ada di dekat kantormu, biar sekalian kuantar kau pulang."


"Ini tidak perlu, aku tak ingin menyusahkanmu."


"Aku tidak merasa begitu. Dalam 10 menit aku sampai di lobby kantormu. Turunlah jika kau sudah selesai." Tanpa memberiku kesempatan bicara dia menutup telepon.


Pria ini kenapa dia sangat menyusahkan dirinya sendiri. Padahal kreditnya sudah lolos.


"Kenapa kau harus mengantarku?" Aku menghela napas saat tiba didepannya. Belakangan kami cukup sering berhubungan.


"Kau sangat bersemangat, sudah bisa memarahi orang rupanya. Merasa sudah sembuh total?" Dia malah tersenyum dan mengajakku bercanda.


"Kreditmu sudah lolos, kau tak usah mencari skor kredit lagi."


"Shori, kita teman. Aku tak mencari skor kredit. Aku memang berada dekat sini, mengantarmu ke rumah hanya setengah jam. Kau menolak sopir, aku hanya ingin memastikan kau sudah sehat."


"Baiklah, terserah padamu Ryohei-san, apalagi yang bisa kukatakan, kau sudah sampai ke sini. Terima kasih sudah bersusah payah kesini."


"Begitu lebih baik, tak ada yang buruk soal diantar pulang." Dia tersenyum lebar seakan itu sesuatu yang lucu.


"Kau sudah benar-benar sembuh."


"Hanya kadang-kadang sakit kepala, bukan hal yang terlalu memganggu. Kata dokter perlahan akan hilang." Aku duduk di sampingnya di bangku belakang sedan itu.


"Mau makan malam?" Tiba-tiba dia menawariku makan malam.


"Aku makan dirumah saja."

__ADS_1


"Kalau begitu kita take away saja. Yang kemarin enak bukan?"


"Ryohei-san, tak usah. Benar-benar terima kasih."


"Buat Ayah dan Ibumu, mereka pasti senang, sebentar aku akan menelepon restoran yang kupesan biasa, mereka menyiapkan dengan cepat." Dan lagi-lagi tanpa mendengar protesku dia sudah menelepon restorannya.


"Kita mampir sebentar oke."


"Kau punya kesulitan menerima kata tidak usah?"


"Aku hanya membelikan makanan, bukan hal yang buruk. Kau tidak perlu bersikap terlalu sopan padaku." Dia diam sebentar. "Besok kau ada acara..." Kenapa dia bertanya apa aku besok ada acara?


"Tidak. Kenapa?"


"Boleh menjemputmu makan siang, dengan anakku?"


"Ohhh..." Ternyata dia membelikanku makan malam untuk melobi makan siang besok.


"Jika kau masih ingin istirahat tak usah, ...aku tadi ditanya lagi kapan dia bisa bertemu denganmu." Nampaknya anaknya itu menjadikanku sekelas idol sekarang.


"Baiklah, jam satu siang mungkin." Dia langsung tersenyum lebar. Senyumnya itu memang terlalu manis.



"Kami akan menjemputmu jika begitu terima kasih sekali lagi."


"Kau memang Ayah yang baik. Putrimu beruntung punya Ayah sepertimu."


"Aku hanya punya dia, ku usahakan yang terbaik untuknya." Aku tersenyum. Ya itu tidak salah. Tapi nampaknya dia juga bersikap hangat pada kekasihnya. Yuna yang serakah itu tidak tahu apa yang dia buang.

__ADS_1


bersambung besok....


Sorry updatenya dikit2, lagi gak begitu fit, jadi absen dikit biar gak bolong.


__ADS_2