
Derrick itu selalu nomor satu di pikirannya! Tak ada yang lain. Aku penasaran seperti apa rupanya Derrick itu.
Sekarang dia melenggang di depan sana membeli popcorn dan minuman dan menyuruhku duduk saja.
Baru kali ini aku merasa mendekati wanita itu terasa begitu sulit.
"Ini punyamu, ..." Dia memberikan popcornnya padaku dan duduk di ruang tunggu. Walaupun setelah tiga hari ini dia bersikap lebih santai padaku. Bisa menerima term teman yang kutawarkan.
Aku mengamatinya, mungkin dia tak akan memberiku kesempatan sama sekali. Dengan trauma yang dia alami membuatnya lebih baik sendiri tanpa hubungan apapun. Mengubah itu dalam 30 hari? Dia bertahan selama bertahun-tahun dan tak punya laki-laki disampingnya dan baik-baik saja, kenapa dia perlu aku...
"Kau ingin roti atau yang lain? Cuma minuman saja?"
"Iya, ini saja aku masih kenyang."
"Nanti kubagi popcornku padamu." Nampaknya dia sedang baik hati dan manis sekarang. "Lama sekali aku tak menonton disini." Dia terlihat bahagia setelah bertemu temannya itu.
"Kau tak berbelanja?"
"Belanja apa?"
"Kartu yang kuberikan padamu, kau tak menggunakannya sekalipun?"
"Hmm... tidak ada yang kau suruh beli."
"Maksudnya untuk dirimu."
"Tidak, aku bukan pecinta shopping. Lagipula aku sudah banyak menyusahkanmu, mana mungkin aku mengambil uangmu lagi. Teman tak saling memanfaatkan."
Dia tidak seperti wanita pada umumnya, dia menolak bersikap manja, menolak memanfaatkan faselitas. Walaupun tidak mungkin dia tidak tahu aku berusaha mendekatinya, tapi dia juga berusaha percaya pada ide melakukannya karena 'teman' atau lebih buruk lagi di menganggap tujuanku adalah 'teman tidur'.
"Sebenarnya tidak apa."
"Oliver, aku disini hanya 30 hari. Jika kau menganggapku teman, kau tak perlu memberiku hal semacam itu. Deal?"
30 hari. Aku terjebak dengan kata-kata temanku sendiri. Dia tidak bisa didekati dengan hadiah dan uang. Memberi kartu itu nampaknya langkah yang salah, dia malah salah sangka bahwa aku ingin membelinya seperti yang lain. S*ial!
"Baiklah, tapi pegang saja."
__ADS_1
"Oke. Tak masalah."
"Oliver sayang, kau juga disini rupanya." Seseorang memanggilku, aku menoleh, Anna dan temannya. Sandra melihat Anna, nampaknya dia tahu siapa gadis itu. Sebuah senyum kecil tercipta di bibirnya.
Bagus, kenapa gadis inì muncul sekarang, sekarang dia akan tambah mencap ku buruk.
"Anna, Jean..." Dua gadis ini akan memberiku nilai lebih buruk lagi.
"Oliver, kapan kau mengajak kami jalan-jalan lagi." Sandra melihatku gadis yang disampingnya juga menyapaku. Yang ini namanya Jean.
Sandra kemudian mengeser duduknya lebih jauh dariku.Great! Gadis-gadis ini akan menambah image burukku menjadi tak terbantahkan.
"Kau, bukannya aku pernah melihatmu. Kau yang di Bali. Jadi ternyata kau jatuh ke pelukan Oliver juga? Murahan juga kau ternyata? Menolak awalnya tapi ternyata mengambil bagian juga. Oliver honey, kau tak cukup dengan kami berdua? Apa bagusnya dimsum ini."
Anna dan Jean langsung duduk disampingku, sengaja menyela posisi duduk Sandra. Sandra sekarang melihat mereka dan memicingkan matanya.
"Ewww gross..." Tiba-tiba dia membuat sindiran pelan yang membuat dua gadis itu gantian melotot matanya.
** gross(jijik-kotor)
"Dimsum itu ada banyak jenis, kau tak dapat menyebutkan namanya satupun burger ayam?" Aku yang sedang minum terbatuk karena tertawa.
"Kau mengencani dimsum ini? Kau kehilangan seleramu Oliver."
"Kencan? Aku bukan jenis yang sama sepertimu burger ayam." Sandra mencibir mereka, dia langsung berjalan pergi meninggalkan kami kemudian.
"Biarkan dia Oliver, tukang jual mahal itu, bagaimana kau bisa bertemu dengannya." Dia jadi marah sekarang.
"Ladies, aku harus pergi."
"Hei, kenapa kau meninggalkan kami. Apa bagusnya dimsum itu."
"Dia kekasihku. Bukan dimsum..."
"Kekasih? Sejak kapan kau familiar dengan kata kekasih."
"Iya, kekasih dan aku tak punya kewajiban menjelaskannya pada kalian oke. Aku pergi dulu."
__ADS_1
Aku meninggalkan mereka yang tak bisa mencegah kepergianku.
Mencari kemana Sandra, ternyata dia sudah berdiri di depan pintu bioskop, sebentar lagi sepertinya kami sudah bisa masuk.
"Kenapa kau tak bergabung dengan selir-selirmu itu saja." Dia melihatku berdiri di sampingnya, wajahnya datar tanpa ekspresi. Ya...ya ... dibanding Derricknya yang sempurna itu aku bukan aku hanya penjahat murahan.
"Kenapa aku harus bergabung dengan mereka, kita datang ke sini berdua."
"Kau bebas melakukan apapun Oliver. Aku hanya tak suka mereka memanggilku dimsum. Aku tak cemburunpada mereka yang jelas. Karena mereka menghina makanan kesukaanku aku membalas mereka. Selanjutnya terserah padamu, aku tak apa menonton sendiri, asal tak harus bersebelahan dengan mereka..."
"Aku juga pencinta dimsum, mereka menghina kita." Dia tersenyum padaku.
"Kau itu kadang memang bermulut manis."
"Iya, aku yang bagian buruk saja, bermulut manis, Don Juan, playboy, bastard, you name it..."
** you name it\= sebutkan saja
"Itu pujian Oliver, jangan tersinggung."
"Pujian? Benarkah. Ohhh terima kasih, kenapa aku merasa tidak dipuji." Dia tertawa melihat nada sarkasku.
"Baiklah Oliver yang ganteng, kau sudah banyak yang memuji, apa kau masih perlu kupuji."
Sialnya yang kubayangkan saat sedekat ini adalah aku yang memeluknya dan melingkarkan tangan di pinggangnya. Dan mengatakan sesuatu yang manis padanya. Jika dia bisa meleleh begitu saja seperti gadis lain, tapi dia bahkan menganggap tatapanku ancaman yang harus dihindarinya.
"Tidak usah, nanti ada pasal pelanggaran kontrak lagi yang dibacakan." Dia tertawa.
"Kau bersikap manis beberapa hari ini. Terima kasih. Apakah itu cukup, ...aku tak akan memujimu seperti burger ayam itu."
Aku tersenyum kecil. Ya setidaknya dia tulus mengatakannya sekarang. Ya aku memang belum menang dari Ko Derrick-nya itu. Tapi Ko Derricknya akan menikah dia tak punya pilihan lain selain aku.
"Ayo lah pintunya sudah dibuka." Sekarang dia yang menarik tanganku. Mungkin bersedia memegang tanganku adalah bagian dari rasa terima kasihnya. Kami teman bukan.
Baiklah, bersemangatlah ini baru tiga hari, aku masih punya 27 hari lagi. Walau kesempatanku diterima masih 10%, itu sangat menyedihkan, biasanya dengan gadis lain bisa kuusahakan dalam 3 jam seratus persen.
Masih ada 27 hari lagi mengusahakannya hingga 100%.
❤❤❤❤❤
__ADS_1