
Akhir pekan ini aku berakhir di rumah Ryohei. Masalah sudah selesai, akhirnya kami bisa menikmati kebersamaan kami. Dan belakangan Ryohei menjadi terlalu manis untuk dapat di tolak.
"Setiap akhir pekan menginaplah Honey, aku sudah minta izin membawamu kesini. Mulai Minggu depan aku menjemputmu pulang kesini setiap Jumat malam setuju."
"Minta izin yang sangat memaksa." Tangannya merangkulku erat dan dalam sekejab aku sudah berada di dalam kekuasaannya.
"Kau menyukai sedikit paksaan. Mengakulah dan aku sangat merindukanmu..." Ciu*man tak sabarnya jadi terlalu mengelitik. Berbaring begini di sampingnya selalu penuh godaan.
"Kau tahu kata Sayuri, Yumi pernah menyusulmu ke kamarmu. Apa yang dia lakukan." Aku memejamkan mata saat ciuma*nnya menyentuh lehe*rku.
"Hmm... dia menawarkan pijatan saat aku bilang aku lelah untuk mengobrol dengannya."
"Berani sekali. Ternyata gadis jepang dari keluarga terhormat itu tidak konservatif juga..." Aku tertawa. "Lalu apa jawabanmu?" Aku menghentikan cium*annya, menatap matanya, tapi dia tetap tak bisa dihentikan, dia menyasar bibirku menciumku dengan napas memburu sementara yang dibawah sana begitu menekan, menginginkanku.
"Kenapa kau terus membicarakannya, kau merasa tersaingi?"
"Tidak, hanya menyenangkan mendengar cerita kekalahan sainganmu."
"Kau tak pernah punya saingan."
"Kau manis sekali." Aku merasa tersanjung sekarang.
"Itu tidak penting dibahas. Kau wangi sekali Honey, ..." Menyingkirkan tanganku, dia mengusahakan dirinya sendiri mencapai tujuannya, memasuki rumahnya yang hangat. "Kau yang sangat pintar memijat. Pijatan siapapun tak ada bandingannya." Tidak dia tidak bicara soal tanganku tapi sesuatu yang lain di bawah sana.
"Ehm, kau memang terlalu ... " Eranga*nku membuatnya bertambah semangat.
"Terlalu apa?"
"Terlalu banyak bicara."
__ADS_1
"Rupanya ada yang sudah tak sabar. Aku sama tak sabarnya denganmu sebenarnya." Dan dunia terasa hanya milik kami berdua sekarang.
"Kau bahagia bersamaku Honey." Pertanyaan diantara aku yang hampir terlelap disampingnya, membuatku membuka mataku dan menyentuh dagunya.
"Kita tak bertengkar selama ini, semuanya baik-baik saja sekarang. Jika kita bertengkarpun, aku rasa aku punya kau yang lebih berkepala dingin. Dan kau selalu ada saat kuperlukan. Tak ada yang tak membuatku bahagia. Yang lebih penting kau membuatku merasa aku bisa menjadi diriku sendiri. Terima kasih untuk itu."
"Aku mencintaimu, kau yang membuatku merasa punya keluarga utuh lagi. Walaupun kau bukan Ibu Sayuri, tapi kau bisa menjadi kakaknya, dia mempercayaimu, ...Aku kadang tak menyangka aku seberuntung ini." Kadang aku juga tak menyangka aku seberuntung ini, beberapa bulan lalu aku sudah dalam kondisi menyerah, mungkin hidupku menang harus sendiri.
Mungkin penantianku terbayar. Semuanya sekarang jadi sempurna.
\=\=\=\=\=\=\=\=
Siang akhir pekan, aku mengobrol dengan Sayuri seperti biasa, Ryohei masih di atas, ada telepon dari Osaka. Kami akan pergi jalan-jalan bertiga.
Ada sebuah bel di pintu, karena hari ini Mayumi libur, Sayuri yang membuka pintu.
"Sayuri sayang, bagaimana kabarmu. Kakak membawa makanan untukmu. Ayahmu ada?" Sebuah suara wanita yang riang. Aku melirik ke arah pintu. Jangan-jangan itu wanita itu, Yumi.
"Ohh tak apa aku hanya sebentar, kemarin aku tiba di sini, Kakak hanya ingin mengunjungi kalian. Kakak ingat kalian suka makanan Italia. Kakak belikan untuk kalian yang terbaik."
"Terima kasih, masuklah Kakak. Tentu saja Sayuri tak bisa menolaknya. Dia sudah membawa makanan."
"Baiklah." Dia masuk ke ruang tengah karena Sayuri harus menaruh makanan ke dalam, aku duduk di sofa ruang keluarga. Mau tak mau dia pasti melihatku.
"Hi, ..." Aku menyapanya duluan.
"Ini kakak Shiori."
"Sayuri kau pernah menyebutkan Kakak Shiori, jadi ini Kak Shiori itu." Sayuri pernah menyebutkan namaku di depannya? Wow.
"Ah iya ini Kakak Shiori."
__ADS_1
"Hallo, aku Shiori senang berkenalan denganmu." Aku membalas bungkukannya.
"Aku Yumi. Dokter Yumi. Jika kau ingin melakukan perawatan kulit, kau bisa datang ke klinikku di Tokyo." Dia memberikan kartu namanya. Aku membungkuk menerimanya. Dia hanya mau pamer.
"Nona Yumi ..." Aku harus menyebutkan nama lengkapnya sebagai bagian dari kesopanan. Tapi karena ini bukan bagian dari pertemuan resmi, aku tidak merasa perlu untuk membalas memberikan kartu namaku.
"Kau teman Sayuri, dia pernah menyebutkanmu sekali, hari ini aku baru bertemu denganmu. Kau sangat cantik..." Mungkin itu pujian untuk dirinya sendiri. Kau tahu image dokter-dokter kecantikan, mereka juga harus cantik sempurna. Rambut blow berkilau, gaun casual yang sempurna, dia semua yang wanita inginkan. Lagipula mungkin umurnya lebih muda dariku. Dia memang sempurna.
"Anda yang sangat cantik Yumi-san. Sihlakan duduk." Aku sekarang berlagak seperti pemilik rumah saja. "Kau mau teh?" Dia mungkin heran kenapa aku yang menawarkannya teh.
"Boleh. Apa Shiori-san sering kesini, kau semacam punya hubungan keluarga bagi Sayuri." Hubungan keluarga, Ryohei bilang aku adalah keluarganya dan Yumi hanya tamu, aku baru mau menjawab aku adalah keluarganya, tapi Sayuri menyambar jawabanku duluan.
"Iya, dia termasuk keluarga. Tentu saja." Sayuri yang menjawabnya, dia tersenyum padaku, sementara aku membiarkan dia menjawab, aku berpira-pura sibuk membuatkan teh untuknya karena Masumi sedang tidak ada. Seharusnya Ryohei yang menjawab pertanyaan itu.
"Oh begitu, dari pihak Ayahmu atau Ibumu?" Dia bertanya pada Sayuri karena masih penasaran.
"Ehm, dari Ayah tentu saja, dia sangat-sangat dekat dengan Ayah." Sayuri bertekad menjadikan ini sebagai teka-teki tak berujung, aku mau tak mau meringis geli. Dia melihatku dengan senyum lebar. 'Sangat-sangat dekat dengan Ayah' itu kalimat sangat ambigu. Aku melirik Sayuri dan dia mengedipkan mata padaku.
"Ohhh sangat dekat, berarti sepupu mungkin." Yumi membuat tebakannya sendiri. Aku tak tahu bagaimana menjawabnya, memilih untuk diam dan tersenyum saja, tidak mengiyakan atau meyangkal. Biarlah nanti dia tahu sendiri, nanti biar Ryohei saja yang memberitahunya. Dan Sayuri memilih tidak menjawab juga.
"Sihlakan di minum." Dengan sopan aku meletakkan teh yang kubuat di meja tamu.
"Kau sering berkunjung ke sini. Tiga minggu lalu aku dan Ibuku seminggu di sini. Aku, Ryohei dan Sayuri melewatkan banyak waktu bersama."
"Ohh ya Sayuri cerita. Katanya kau membuka klinik baru di Tokyo, selamat untuk usaha barunya." Lebih baik aku bicara hal-hal umum saja.
"Ohh Sayuri ternyata cerita padamu juga."
"Tentu saja, aku jadi suka pizza makarel karena kau yang menyarankannya." Sayuri yang sedang minum menyemburkan minumannya sehingga terbatuk-batuk.
"Kakak Shiori! Kau tidak lihat aku sedang minum!" Sayuri dengan senang hati marah-marah kepadaku.
__ADS_1
"Ohh maaf sayang." Aku juga tak bisa menahan tawaku. Aku tak mengerti apa dia mengerti sindiranku, tapi Sayuri bilang dia punya penyakit kurang peka.