
Pukulan payahnya hanya mengenai angin, bogemku masuk mengenai bagian matanya, besok itu akan biru, sekali lagi aku mematahkan hidungnya. Aku tahu mematahkan hidung orang itu akan membuat tanganku juga sakit, apalagi aku tak memakai apapun hanya tangan kosong, tapi aku ambil resiko itu. Dia meraung kesakitan sekarang, darah mengucur di bajunya.
"Kau mau lagi?! Bangun!"
"Ampun... Ampun Kakak Besar, saya salah menyinggung Kakak." Akhirnya dia menyerah membungkuk di lantai depanku, meminta ampun.
"Dasar cecungguk hijau! Berpikir kau hebat! Satu lawan satu saja kalah!" Aku menginjak kepalanya dan membenturkannya.
"Ampun brother, saya salah."
"X*O itu. Kemarikan." Andy memberikan satu botol X*O yang sisa setengah padaku. Kubuka dan kusiramkan padanya. Dia tidak berani berkutik. Kubanting pecahannya di samping kepalanya.
"Dalam dua hari, jika kulihat kau masih di Jakarta, aku akan memasukkanmu ke UGD sekali lagi. Kau lihat apa aku main-main dengan ucapanku. Kau dengar itu bangs*at!?"
"Saya mengerti, saya mengerti Kakak . Ampun Kakak... Siapa nama Kakak, saya akan mengingatnya"
"Kau mau tahu namaku?! Mau bikin perhitungan hah?! Hadapi dulu geng di Kowloon sana! Tahu namaku saja kau tak pantas!" Aku membenturkan kepalanya lagi ke lantai dingin itu.
"Mengerti Kakak besar saya akan pergi... Ampun, saya minta ampun...." Ba*nci licik kebanggaan Wong Lee Man ini tak berani mengangkat kepalanya sekarang. Aku sama sekali tak menyinggung perusahaan aku mengusirnya karena dia menyiram pacarku, tak usah membawa nama bossku sekarang. Ini personal.
"Ingat aku memberimu 2x24 jam pergi dari Jakarta! Ingat itu!" Dengan kata-kata itu aku meninggalkannya menunduk di lantai.
"Sudah semuanya pulang, atur satu orang mengawasi ba*nci itu, dia tidak pergi dari Jakarta hajar saja langsung 2x24 jam, kalian urus."
"Mengerti boss." Aku berhasil menemukan cara mengirim pulang orang Wong Lee Man.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Aku sampai ke rumah jam 11 kurang. Masuk lampu ruang tengah masih menyala. Ini lupa dimatikan nampaknya.
__ADS_1
"Koko..." Tapi aku salah, Tata duduk disana melihatku. Aku cukup kacau pasti, kemeja sudah setengah terbuka, lengannya sudah naik ke atas.
"Kenapa kau ada disini?" Dia melihatku, memperhatikan penampilanku. Aku menuju ke lemari es, menaruh es untuk mengompres dingin kepalan tanganku. Tidak parah hanya merah tapi kurasa tak akan bengkak.
"Koko berantem ya..." Rupanya dia tahu.
"Gak pa pa Ta, bukan hal yang besar. Udah beres." Aku mengenyahkan kekhawatirannya.
"Merah begitu, lecet? Ada lebam?" Dia melihat tanganku.
"Engga, ini biasa kalo latihan juga sering begini." Dia memperhatikanku, sampai begitu khawatirnya, dia langsung tahu aku membohonginya. Kuambil kotak obat dan menengak sebutir pil penghilang sakit sekali. Besok juga akan baik sendiri.
"Sama orang yang tadi?"
"Iya." Kubuka bajuku, rupanya tanganku agak sakit, posisi tangannya terlalu dipaksakan tadi, pasti salah tadi plus kurang pemanasan karena aku langsung main hantam saja. Aku meringis, kesulitan, obatnya belum bekerja.
"Lengannya sakit kan. Katanya ga pa-pa."
"Ini gak pa-pa, cuma kurang pemanasan, masih bisa meluk kamu ini, khawatir banget, sampai nungguin begini." Aku memeluk untuk membuktikan tidak ada apa-apa yang terjadi.
"Kenapa sih harus berantem, urusan air doang." Dia protes.Apa aku harus menjelaskan padanya. Tak usah dia akan bertambah kuatir setiap kali aku keluar. Berpikir aku pergi membereskan seseorang.
"Ga rela kamu di siram. Udah selesai, kamu harusnya gak usah nungguin disini. Urusan kecil." Dia melihatku tak terima aku menyepelekan keadaan, kekasih yang khawatir sampai menungguku pulang, manis sekali. "Lain kali gak lagi, oke. Jangan cemberut." Kucium saja dia, menghilangkan kekhawatirannya, entah kenapa dia memelukku begitu erat sekarang dan dia yang mengunci ciumanku.
"Kenapa kamu ..." Dia terengah, mukanya memerah melihatku, tapi dia tak ingin melepasku. Apa yang dia pikirkan sebenarnya, dia khawatir tapi juga bangga kubela?
"Kiss me again..." Gadis peraw*an ini, apa yang dia inginkan sekarang. Aku melihatnya, tapi dia tak sabar, dia menarikku dan ******* bibirku... Aku terpancing ini bukan ciuman biasa lagi. Tangannya menyisip ke dalam bajuku. Meraba kulitku.
"Ko, mau liat...boleh." Gadis ini tak tahu apa yang dilakukannya berbahaya.
__ADS_1
"Kamu ini kenapa." Aku menghentikan tangannya.
"Kan tangannya sakit, aku bantu buka bajunya, mau lihat doang, penasaran banget."
"Ini dapur, nanti kalo..."
"Aku penasaran please..." Dia menarikku ke kamar. Apa yang ada dipikirannya sekarang.
"Tata, Papamu akan membunuh Koko, kalo aku berani sentuh kamu. Kamu jangan mulai." Aku menahan ţangannya yang mengangkat baju kaus dala*manku.
"Koko Tata belum pernah pegang Koko." Apa dia tak tahu kalo kata-katanya membuatku ingin melum*atnya sekarang. "Ko aku pengen liat Koko..." Dia memasukkan tangannya ke bajuku, meraba perutku. Sial, aku langsung terpicu...
"Tata..."Kucium dia, kali ini melum*at bibirnya.
"Ko, ..." Kutekan dia ke dinding dengan tubuh yang men*egang, dia mendes*ah hebat. Sial, kenapa dia bisa membuatku menderita begini dengan suaranya saja. "Ko, ini ehmmm ... " Piyama katun itu terlalu tipis untuk menahan tekanannya. Des*ahannya menggila, aku tak tahan lagi, merasa ingin meledak, ini harus selesai. Kubanting dia ke bedku.
"Kamu mau lihat? Kamu boleh pegang. Tapi Koko gak akan buka bawah kamu , pelajaran pertama kamu , jangan kelewatan mancing. Ini gak bisa ditahan lagi, pusing kamu berani begini..."
Dia melihatku membuka atasanku, b*oxerku, menempelkan diriku dibawahnya yang sudah sangat tegang, des*ahan gadis pera*wan ini kelewatan, dia menikmati sentuhanku, cu*mbuanku padanya dan bisa mencapai titik pelepas*annya dengan hanya sentu*han dan tekanan.
"Koo... ehm enak ko, ehmm...ko,..." Dan aku melihat dia mencapainya tidak bisa menahan diri untuk rele*ase begitu saja dengan menekankan diri di tubuhnya yang tersentak tak beraturan. Kubantu diriku sendiri dengan tanganku.
G*ila ini gi*la! Bagaimana aku bisa relea*se begini.
"Kamu ini ..." Aku berguling, ini seperti mimpi basah. Dia tersenyum kecil melihatku. Mukanya merah karena malu tapi dia lupa segalanya tadi, memohon menger*ang, mendes*ah kelewat se*xy.
"Ehm...tadi, enak banget." Dia merapat padaku.
Astaga aku terlalu tua untuk menghadapi perawan tak berpengalaman.
__ADS_1