TAWANAN GAIRAH CINTA SANG DUDA

TAWANAN GAIRAH CINTA SANG DUDA
Part 20. Mungkin Kamu Harus Mencoba 1


__ADS_3

 


“Ta, semalem Ko Derrick nganter kamu?” Tiba-tiba Mama bertanya pagi ini saat aku sarapan bersamanya dengan baju kerja karena walaupun hari ini adalah akhir pekan aku ada meeting finalisasi sama bagian produksi.


“Iya Ma, kok Mama tahu.”


“Dia  yang nelepon ngomong sama Mama tadi pagi, katanya bantuin kamu ngehajar cowo yang kurang ajar sama kamu itu. Ko Derrick itu sopan banget ke Mama, katanya dia dipesen bantu kamu sama Papa. Kayanya dia jalanin pesen Papamu. Mama jadi tenang ada orang yang bisa bantu  kamu.”


“Iya Ma. Dia baik hati mau bantuin. Diakuin jadi pacar aku sama Koko ketemu gede itu, dia bilang anggep aja Koko, baek banget sih...” Aku senyum-senyum, Mama jadi memperhatikanku.


“Kenapa kamu suka yaaa...” Mama sekarang malah senyum-senyum menggodaku.


“Apa sih Ma. Masa suka ama aki-aki.”


“Dia kan keren Tata, kamu tuh ngatain dia aki-aki dari mana, kelihatan masih  seumuran malah kalian. Baik lagi, sopan banget ke Mama.  Nolongin kamu terus, kurang baik apa, ganteng,  kerjaannya bagus, masa kamu gak suka.”


“Mama udah ah Ma, ngomongnya yang enggak-enggak.”


“Engga-enggak gimana, Mama setuju kok. Seganteng itu kamu gak suka, Mama aja suka...” Aku yang ngakak sekarang.


“Mama jangan  ngaco!”


“Gak ngaco anak Mama yang cakep. Kamunya aja yang ngaco, koko sebaik dan seganteng itu gak ditaksir.” Mama masih senyum-senyum padaku.


“Udah ah Ma, gak ada taksir-taksiran. Tata kerja hari ini, udah hampir masa produksi dua iklan, mau finalisasi storyboard final sama tim produksi. Uhuyy, bonus Tata gede Ma Januari, ntar kita jalan-jalannya jauhan ya...”

__ADS_1


“Kamu itu Mama omongin kok gak pernah didengerin,...”


“Ahh  Mama. Tata itu sayangnya sama Mama aja... Ya mama.” Mama menghela  napas sekarang. Sudah lama dia memberiku nasihat, entahlah, mungkin belum tergerak saja. Aku mencium pipinya untuk pamit ke kantor. “Tata pergi Ma.”


“Iya hati-hati.”


Meninggalkan Mama yang sangat berharap aku berubah pikiran dan mencoba untuk menerima seseorang, berharap aku memaafkan Paman   Lam dan berdamai dengannya. Kadang aku merasa menjadi anak yang tidak berbakti padanya. Sesampainya di kantor kulihat timnya Marcello juga  masuk kantor, mungkin Marcello akan berubah menjadikanku musuh sekarang.


Dia melihatku, tapi sama sekali tidak menyapaku. Tak apa kurasa, lebih baik begitu.


Sementara aku sibuk dengan timku hari ini aku tak perduli yang lain selain soal pekerjaan. Menjelang jam tiga akhirnya merampungkan meeting  iklan ban yang cukup perlu storyline cukup jelimet, karena lagi-lagi  kami  memakai komedi untuk iklan kali ini , akhirnya aku bisa pulang ke rumah untuk istirahat hari ini.


Baru saja aku sampai ke parkiran, Mama meneleponku. Jam lima saat aku sampai rumah.


“Tata, kamu sudah dimana...”


“Mama pengen dianter ke mall boleh gak.”


“Ohh, ya ud. Mau jalan sekalian ayo.”


“Mama turun ya.”


Dia turun dengan cepat. Aku heran melihat dia  membawa sebuah kantong  kain besar ke mobil.


“Mama bawa apa Ma.”

__ADS_1


“Makanan buat Ko Derrickmu.”


“Ayo kerumahnya bentar, kan gak jauh dari Mall. Mama ud nelepon katanya dia lagi ada di rumah.”


“Ha?”


“Mama mau bawain  dia makanan?”


“Iya, dia udah bilang ada di rumah.”


“Kok ribet amat Ma?” Nih Mama kenapa sampe bikinin si Koko makanan.


“Dia mau repot-repot bantuin kamu. Ini buat terima kasih aja”


“Ya... Ganggu orang  kali Mah.” Aku berusaha membatalkan niatnya tapi aku tahu usahaku sia-sia karena dia sudah bawah kantong makanan begitu.


“Enggalah, kita cuma sebentar.” Maksa, kalo Mama udah ada mau pasti gak bisa dirubah. Kali ini aku merasa dia akan jadi mak comblang.


"Mama ini, dia tuh punya tukang masak sendiri Ma, dia pun bisa masak."


"Ohh dia bisa masak? Hebat juga yaa, kamu tuh yang disuruh masak males mulu alasannya. Malu tahu cowo aja bisa masak."


"Yahh Ma,  makan gampang, kenapa harus masak sendiri. Kan bisa masak nasi goreng ama telur.."  Mama mulai mengomeliku lagi. Sebenarnya aku keenakan ada Mama yang selalu masakin dirumah.


"Ma, jangan lama-lama ya. Anter udah pulang gak enak lama-lama."

__ADS_1


"Iya anak bawel."


__ADS_2