
Kelly meneleponku. Aku punya tugas yang sama lagi, membuntuti Sam Lynch, kali ini business luncheon yang sama. Dia bertemu seseorang hari ini dan mereka mau detailnya siapa saja yang dia temui tanpa aku melewatkan apapun.
Aku mengajak beberapa investorku yang ada di NY untuk makan siang di sana sebagai samaran. Tapi aku berkeliaran lebih ke bagian lain di luar mejaku.
Kali ini aku harus memutar otak, bagian yang di pesan Sam Lynch ini di ujung, tersembunyi, punya pembatas tertutup sendiri, bagaimana aku bisa mencapai bagian sana. Pengawal keamanannya bahkan menjaga radius dimana aku tak bisa mendekat.
Aku hanya bisa memotret siapa yang keluar masuk.
"Kelly aku hanya bisa punya akses pandangan terbatas, kameraku hanya bisa menjangkau akses pintu masuk ruangan." Aku menceritakan keadaan sekeliling area
"Aktifkan videonya, kami akan mengambil gambar apapun yang ada disana, copot jamnya jadikan liontin set di appmu mode merekam. Imagenya akan di transfer langsung ke kartu datamu dan appnya langsung mentransfer data ke kami. Bisakah kau pura-pura berjalan-jalan sambil menelepon pacarmu misalnya saat mereka keluar." Kelly dengan cepat memberiku cara.
"Ehmm kukira bisa, tapi aku harus online dengan seorang pria agar mereka tidak mencurigaiku, pengawal ini nampaknya sangat awas. Mereka bahkan menjaga radius ruangan. Sementara pintu keluar ruangan eksklusif ini berbeda dengan pintu umum, keanggotaan level platinum yang bisa mengaksesnya, aku hanya bisa mendekat ke jalan dekat kamar mandi, kuharap kameramu cukup jernih."
"Kami bisa mencocokkan data dengan tamu yang keluar dengan ciri-ciri ini. Oke, Tom akan standby di line ini."
"Oke, aku akan mulai mengawasi."
Aku harus berhati-hati tidak mencolok lebih banyak mengawasi dari pantulan dan tanda- tanda yang di berikan oleh pengawal kapan mereka selesai lalu bergerak ke tempat terbaik yang bisa kudapatkan.
Satu kali aku salah bergerak, kupikir sudah selesai, tapi ternyata mereka hanya meminta minuman tambahan. Aku terpaksa kembali lagi dan berpura-pura hanya mencuci tangan di wastafel luar sementara pengawal sudah melihatku bergerak mendekati mereka. Sial! Kenapa banyak sekali mata di sini.
Empat puluh menit kemudian mereka benar-benar bergerak dan aku kali ini menuju tempat pengawasan. Sambil berpura-pura seperti bicara dengan kekasihku, aku mengambil keputusan tak merubah jamku menjadi liontin, itu lebih bagus karena aku bisa memakainya sambil menelepon dan menyender sementara karena mengarah ke mereka dari bagian depan.
Tapi baru setengah selesai seorang pengawal mendatangiku.
"Nona apa yang kau lakukan disini."
"Aku menelepon pacarku, memangnya aku menggangumu?" Sial tubuhnya menghalangiku mengambil gambar. Aku bergeser dan memakai ponsel itu lagi bicara. Tidak memperdulikannya semoga aku tak kehilangan bagian penting.
"Sorry Tom, ada seseorang mengajakku bicara." Tapi kemudian pengawal itu dengan kasar mengambil teleponku yang memang terlihat dalam mode bicara itu.
"Meneleponlah di tempat lain Nona." Dia mengambil teleponku, "Siapa ini?" Bahkan mencoba mendengarkan siapa yang bicara, sementara orang lewat di depanku. Aku mencoba stay diam sambil mengarahkan jamku. Untuk menangkap rombongan yang lewat di depanku.
"Tuan kembalikan ponselku, apa masalahmu?" Aku bicara dengan tenang, tanganku tak bergoyang menangkap mereka yang lewat di depanku
Nampaknya Tom marah-marah di telepon menyuruh mereka mengembalikan ponselku. Tapi dia malah membuka galeri kameraku. Yang jelas isinya bersih. Aku masih merepet memintanya mengembalikannya, tapi aku tetap berdiri diam. Akhirnya seluruh rombongan yang jumlahnya sekitar 10 orang itu tertangkap gambarnya olehku.
"Hei kau sudah selesai?! Kau memeriksa ponselku?! Apa maumu?! Aku hanya bicara dengan pacarku!" Dia akhirnya mengembalikan ponselku.
"Kalian gila atau apa? Aku juga member disini." Aku menerima ponselku dengan marah-marah.
"Pergilah dari sini. Ini daerah VVIP."
"Ini toilet pengunjung, tidak di tulis VVIP. Dasar orang gila." Muka pengawal itu tak terpengaruh oleh cercaanku.
"Ohh kau Julie Harris rupanya." Dia tiba-tiba mengenaliku.
__ADS_1
"Tentu saja aku Julie Harris itu sudah namaku sejak lahir." Aku meninggalkan mereka dan kembali ke mejaku. Berinteraksi dengan kolegaku, pengawal itu mengawasiku sekarang, tapi aku tahu aku tak bisa di curigai, siapa aku, dan alibiku kenapa aku ada di sini sempurna.
"Kelly kau mendapatkannya." Aku kembali menelepon Kelly setelah aku keluar dari gedung dan selesai makan siang dengan kolega.
"Kami berhasil mengindentifikasi semuanya Nona. Pekerjaanmu bagus. Sementara tidak ada tugas lagi di NY. Pertemuan ini adalah incaran kami."
"Baiklah, telepon saja jika kau perlu sesuatu."
Akhirnya tugas selesai. Malam ini aku ada janji makan malam dengan Louis, aku menantikannya dengan antusias sekarang.
Aku memakai lipstik merahku, dengan blouse peach yang sedikit memperlihatkan kulitku, menggerai rambutku, merasa aku berdandan dengan sedikit provokatif kali ini, tapi aku menyukai diriku sendiri.
"Kenapa kau di NY?" Louis duduk di depanku dan bertanya saat kami bertemu di sebuah restoran steak di NY yang kusukai. Aku bertopang dagu melihatnya dia terlihat tampan dengan kemeja dan jas kerjanya seperti biasa.
"Pemotretan untuk beberapa majalah dan brand." Aku menjawabnya dengan enteng sambil menatapnya. Mengingatkan diriki sendiri, bahwa 99% kemungkinan dia tahu aku agen lapangan. Tapi entah kenapa dia tak membalasku, padahal aku bisa dibilang merugikannya setahun yang lalu.
"Pekerjaanmu pasti banyak. Kau sangat populer setahun ini. Kadang kala aku tersanjung bisa punya teman makan malam seorang artis." Sekarang perkataannya menjadi getir, saat di Tokyo dia seperti punya perasaan indah untukku.
"Apa yang salah?" Aku menuntut penjelasan kenapa dia berubah hanya dalam dua minggu.
"Hmm? Apa yang salah?"
"Tiba-tiba kau berubah 180° sekarang, kau bukan orang yang sama saat di Tokyo." Dia meringis melihatku, meminum anggurnya dengan sekali teguk.
Aku tersenyum kecil, tidak, jika dia ingin mengabaikanku dia bisa mengabaikanku dari awal, menolak teleponku, memblok teleponku, tapi kenyataannya dia tetap datang ke sini menemuiku, dia ingin melihatku tapi di saat yang lain ada sesuatu yang menahannya. Kenapa aku penasaran?
Apa karena statusku yang terlalu kompleks? Atau karena dia tahu perkerjaan terselubungku. Ya aku tahu itu memang agak membingungkan, tapi US dan UK tak pernah ada pertentangan terlalu intens. Jika dia punya masalah denganku, kenapa kemarin dia bersikap baik padaku.
"Terima kasih sudah ke sini Louis, kita masih punya sekali makan malam bukan." Dan aku tersenyum manis padanya. Menatapnya dengan antusias, dia balas menatapku yang tidak terpengaruh dengan ucapannya.
"Terserah padamu." Aku tahu dia tak tega dan sekejam itu padaku.
"Ya sudah, kita makan dulu." Kami memesan kemudian.
"Kau lama di sini."
"Tidak, hanya sampai akhir bulan. Apa kau takut aku menganggumu." Aku tersenyum manis padanya.
"Tidak, memangnya kau berniat mengangguku? Kau tahu siapa aku? Nanti kau menyesal jika mengganguku."
"Aku tak tahu siapa kau, tapi kau sudah melakukan hal baik untukku, jadi aku menganggapmu baik."
"Kau tak tahu siapa aku?"
"Tidak. Kau hanya Louis yang kukenal, seperti yang kau ceritakan. Memang siapa kau? Katakan padaku." Apa dia berani jujur padaku. Kurasa tidak. Tapi dia juga tidak akan menyusahkanku, jika dia mau menyusahkanku aku gak akan ada di depannya sekarang.
__ADS_1
"Sebelum aku menjawab itu, katakan padaku, kenapa kau ada di posisimu sekarang." Aku akan memjawabnya dengan jujur soal itu. Mungkin juga dia tahu, mungkin juga tidak, tapi aku akan mengatakan kenapa aku berani ada di sini.
"Aku menyelamatkan keluargaku, aku sakit hati, dan aku terhina ditinggalkan karena keluargaku hampir bangkrut. Aku membayar harga penyelamatan keluargaku. Dan semua keluargaku Papa, Kakakku, Mamaku juga bekerja keras untuk membawa kami ke posisi sekarang. Dan akhirnya aku bisa membalas apa yang mereka lakukan pada kami. Hidupku pernah di titik terendah juga." Aku bicara dengannya jujur, kuharap dia juga tidak bicara jujur padaku, setidaknya sampai hal yang bisa dibicarakan.
"Kau tak takut bahaya."
"Aku lebih baik mati terhormat daripada hidup terhina." Dia menghela napas mendengar perkataanku, dan sekarang aku lebih baik bertanya karena aku penasaran kenapa dia baik padaku.
"Kenapa kau baik padaku Louis? Apa kita pernah bertemu sebelumnya."
"Tidak. Aku baik karena kau baik." Lagi-lagi dia tidak menjawab pertanyaanku dengan jujur, hanya berputar dan bermain dengan jawaban mengambang.
"Baiklah. Tak apa... Aku minta maaf jika aku membuatmu kesulitan di masa lalu. Terima kasih kau memaafkanku tanpa kuminta. Tak apa, aku hanya menagih 2x hutang makan malam. Aku tahu ini sulit. Aku juga tak akan menganggumu. Tapi aku masih punya satu kali lagi makan malam." Dia tertawa.
"Baiklah pemaksa. Kau punya satu kali lagi makan malam. Ini restoran kesukaanmu." Aku mengangguk. Bertepatan dengan pesanan kami datang.
"Aku suka steak disini. Restoran ini sudah lama, dulu pertama ke NY, Papa dan Mama membawaku ke sini. Sejak itu aku menyukai restoran ini. Sebenarnya kami sekeluarga menyukainya."
"Kau memang punya keluarga yang bahagia nampaknya."
"Iya, aku akan melakukan apapun untuk membela mereka, aku anak bungsu, Papa dan Mama, Kakak tak pernah membebankan apapun padaku. Aku tidak sebriliant mereka, tapi aku ternyata tetap bisa melakukan sesuatu, itu kebahagiaan terbesarku. Aku tak perduli pria lagi, aku jadi gadis yang sulit didekati, lebih fokus ke karier dan pekerjaan yang kulakukan tahun-tahun belakangan adalah menembus batasku sendiri dan itu keren bagiku, merasa bisa berguna. Walaupun mereka tak tahu, tak apa..."
"Baiklah, kau memang bukan putri manja. Kau gadis yang hebat. Aku bersulang untukmu." Aku mendentingkan gelasku bersamanya.
"Kau memujiku? Itu tulus?"
"Tentu saja, aku pelit pujian. Dan memang steaknya enak." Aku tersenyum, sepertinya walau dia tidak membuka dirinya padaku. Tapi aku tahu dia memang baik. Pembicaraan kami lebih baik dan dipenuhi tawa di saat makan. Mungkin dia pun percaya aku tak punya niat buruk selain berterima kasih padanya.
"Louis, nanti antar aku pulang." Dia memandangku sambil meringis. "Louis, antar pulang...." Aku merengek padanya.
"Hanya sampai lobby." Aku tertawa, kenapa kelihatannya dia takut terlibat denganku.
"Penakut."
"Terserah apa katamu. Pokoknya hanya sampai lobby." Tapi aku malah tersanjung, dia tidak berpikir mengambil keuntungan dariku, itu manis sekali.
"Baiklah, hanya sampai lobby. Aku terima saja. Terima kasih." Dia membuatku ingin memeluknya. Manis sekali. Sekarang aku sudah jatuh hati pada Pangeran Louis yang manis ini. "Tapi minggu depan kita makan malam lagi oke. Aku kasih bisa menagih 1x makan malam lagi bukan."
"Iya." Jawabannya membuatku tersenyum lebar.
"Kau manis sekali." Aku berlagak seperti gadis yang mengagumi idolanya.
"Aku bukan permen." Dia meringis.
"Kau tahu aku sekarang percaya masih ada orang yang baik dan tulus, walaupun sulit ditemukan, tapi setidaknya aku menemukannya. Di masa depan aku percaya aku akan menemukan yang lain lagi."
"Semoga kau beruntung kalau begitu."
__ADS_1
"Iya aku akan beruntung. Aku mendoakanmu juga, semoga semesta membantumu." Itu benar-benar sebuah harapan baik untuknya. Walau dia tidak berbagi apapun tentang dirinya.