
Sejam lebih telah berlalu, seseorang membuka pintu akhirnya. Aku melihat Koko masuk sambil membawa dua tas besar barang-barang yang nampaknya dari mobilnya.
"Sini kubantu."
"Tidak aku taruh di gudang dulu, nanti kutaruh di mobil yang diantar orang kantor besok. Yang itu harus masuk bengkel. Aku mandi dulu."
Tak lama dia bergabung denganku lagi. Sudah dengan kaus tipis rumahan dan celana nyaman.
"Kau melapor ke polisi?"
"Seseorang dari perusahaan sudah mengurusnya berbekal rekaman security kamera mobil."
"Tanganmu harusnya di balut lagi. Kau membuka perbannya." Garis kemerahan itu terlihat sangat menganggu.
"Plester saja." Dia memberikan band aid panjang dan antiseptic padaku dari kotak obat yang diambilnya.
"Tak usah ke dokter?"
"Kau bercanda, aku tak rela ke dokter karena luka seperti ini." Aku meringis.
"Terserah padamu. Jika ini menjadi merah, sakit dan panas kau harus ke dokter." Aku meneteskan luka gores sepanjang 15cm itu dengan antiseptic yang membuatnya tersengat pedih.
"Ini seharusnya dibalut saja, band aid akan menutup lukanya tanpa udara."
"Baiklah balut saja, aku menurut, terserah padamu, kau dokternya." Dia membuatku tersenyum sekarang.
__ADS_1
"Kau pasti sangat kesal malam ini."
"Hmm... pengecut itu hanya berani menghancurkan kaca mobil, dia membuatku tertawa. Mungkin penggemarmu yang kemarin kuhajar itu, siapa lagi yang memiliki koneksi seperti itu disini." Aku berpikir siapa penggemarku yang dimaksudnya.
"Maksudmu Nathan Chow."
"Siapa lagi."
"Benarkah? Apa dia masih berani.
"Nanti kita akan tahu. Itu hanya tebakanku saja. Tak usah kau pikirkan, aku akan mengurusnya." Aku menyelesaikan membalut lenganmya sekarang dia seperti memakai gelang lebar putih di tangannya.
"Selesai. Kau terlihat tampan."
"Apa hubungannya tampan dengan balutan perban di tangan?" Dia meringis geli mendengar kata-kataku.
"Aku merasa bersalah membawamu dalam bahaya, bagaimanapun sasarannya adalah aku. Untungnya kau tak terluka." Dia mengelus rambutku dan aku merapat padanya, menjangkau tengkuknya, menciu*mnya karena aku merasa memilikinya. Memiliki seseorang yang bisa menjagaku dengan baik. Aku merasa beruntung dijodohkan dengannya.
"Apa kau senang sekali menci*um orang, kau tak pernah menunggu dici*um?" Aku tertawa.
"Tidak. Apa itu buruk." Aku bergelayut padanya.
"Bukan buruk hanya kau tak tahu apa yang kau mulai dengan ciuma*n seperti itu."
"Memangnya apa yang akan kumulai? Aku menyukai mencium calon suamiku... Apa itu tidak boleh." Dan sebuah ciuma*n dalam membuat dia mem*elukku erat dan membalas mengambil alih ciuma*n kami.
__ADS_1
"Kau memang tidak sabaran tunanganku yang cantik." Kali ini dia membuatku terbari*ng di sofa dan bibirnya mema*n*ggut leh*erku menciptakan gelanj*ar dalam tubu*hku
"Aku jelas bukan tipe menunggu. Kau sudah tahu itu, aku menginginkanmu... apa itu terdengar sebagai sesuatu yang sabar."
"Jelas tidak..." Sebuah tekanan yang terbangun dibawah membuatku me*nde^sah ketika dia menekankan dirinya, membuatku memel*uknya lebih erat sementara tangannya menjelajah lebih jauh.
"Koko, jangan disini. Bagaimana jika seseorang mendengarnya." Dia bangkit dan membawaku ke sebuah kamar, ini kamarnya, pengurus rumahnya tadi membawaku ke kamar tamu.
"Jadi aku nampaknya tidur di sini malam ini?" Aku tertawa ketika dia dengan tak sabar menarikku menimpa tub*uhnya sebelum akhirnya aku berakhir di antara lengannya.
"Bukankah itu sudah jelas." Sekarang tangannya bergerak lebih jauh. "De*)sa*han mu itu membuat udara jadi panas. Apa kau kepa*nas*an sekarang?" Tak menunggu lama helai benan*g terakhir tergeser dari kuli*t kami. Tapi dia masih senang menggodaku, membuatku menginginkannya dan tidak sabaran.
"Koko, lakukan." Aku tak bisa bersabar lagi. Aku membalik posisi, tapi dia memgembalikan aku ke bawahnya.
"Sabar sayang, ..."
"Kau hanya menggodaku!" Dia tersenyum. Sebelum dia bergerak memberiku dirinya. Sekarang aku memeluknya erat, merasakan dirinya, kali ini dia yang mengendalikan semuanya.
"Ehm... Koko, jangan berhenti." Tubuhku sudah diambang batas. Saat gelan*yar itu datang, melambungkan kesadaranku sesaat, membuatku tersentak dan meng*eja*ng tanpa bisa kukendalikan dibawahnya.
"Bagaimana jika kita buat ba*yi saja." Aku melema*s, dia memberiku jeda.
"Nanti, .... jangan sekarang." Aku tertawa.
"Kenapa?"
__ADS_1
"Aku tak mau gaun pengantinnya tak muat. Kau merusak mimpiku." Dia tertawa kecil, sebelum bergerak lagi menyelesaikan bagiannya.
Aku terlalu bahagia malam ini, berada di pelukannya terlalu membahagiakan.