
"Iya aku akan membuatnya, kau puas sekarang, kau tinggal menabung saja,..." Dia meringis lebar mendengarku mengancamnya sekarang.
"Aku akan menabung demi semalam di teras itu. Aku berjanji padamu."
Aku berba*ring kembali dengan senyum lebar menatap langit. Entah kenapa bintang jatuh itu membuatku sangat bahagia.
"Kenapa kau diam sekali, kau mau cerita padaku, mau berbagi sudut pandang denganku?" Aku melihatnya. "Kita tak akan bertemu lagi, rahasiamu aman kubawa ke Jakarta." Dia melihatku dan tersenyum, matanya memandang ke langit luas lagi. Aku kembali mengarahkahkan mataku melihat pemandangan langit diatasku.
"Apa yang kau ingin tahu?"
"Entahlah, kenapa kau suka hubungan singkat seperti itu." Dia diam lama, sulit mungkin mengatakan sakit hatinya.
"Aku pernah percaya kepada cinta seperti Nguyen, tapi kemudian menjadi tak percaya, aku bahkan pernah menikah." Dia pernah menikah? Hmm... Tadi dia mengatakan soal kesetiaan, nampaknya ada hubungannya dengan salah satu tidak setia. "Rasanya aku merindukan saat aku masih mempercayainya, karena sekarang setiap kali wanita cantik mendekatiku, aku merasa membaca apa yang mereka lihat."
"Itu realistis, wanita mau yang terbaik. Siapa yang tak tergoda memikirkan itu. Kau terlalu mengeneralisir tipe orang, tentu saja mereka tertarik akan kesuksesan, pikiranmu sudah berpikir kemungkinan paling buruk. Kau menyamakan semua orang."
"Kau benar, aku menyamakan semua orang, sayang sekali yang kutemukan sama, sepintar apapun dia mengelak, aku merasa ditargetkan." Ada nada kemarahan diantara suaranya.
__ADS_1
Aku tak berani memberinya nasehat dia pasti punya pertimbangannya sendiri menilai orang.
"Semoga kau beruntung bertemu yang tidak menargetkanmu kalau begitu. Kadang sendiri itu mempermudah banyak hal, tapi juga kadang ada saat lain yang membuatmu berpikir andai kau punya seseorang yang bisa dipercaya dan kau pegang tangannya, ... Kadang kala aku memimpikan orang yang kusukai juga, walau dia seperti bintang diatas sana tak terjangkau, tetap indah dilihat bukan. Menjadi tegar itu dan berdiri sendiri itu melelahkan kadang..."
Aku mengatakannya dengan suara pelan, andai aku mungkin lahir di keluarga yang baik, mungkin Ko Derrick melihatku. Seperti calon istrinya yang cantik itu, putri Tuan Arnold Lam.
Walau aku sudah tahu sejak lama rasanya melihatnya sedih juga. Tiba-tiba sebulir air mata jatuh begitu saja, aku tak tahu kenapa aku menangis, ku hapus dengan cepat. Tak kuduga Oliver memperhatikanku.
"Kenapa kau menangis? Butuh pundakku? Aku bersedia jadi sandaranmu untuk sementara, semalaman pun boleh." Don Juan ini bang*satnya keluar.
"Astaga, aku memang tak tertolong dimatamu." Dia melihatku dengan mengelengkan kepala.
"Bagus jika kau tahu."
"Sandra Lai, kau memang wanita kejam, kau akan menyesal nanti setelah kau pulang tak menerimaku. Katamu kesepian, tapi kau memasang harga terlalu tinggi." Dia menunjukku, nampaknya ego terba*nting ke dasar tebing di bawah sana.
"Sudah ku bilang kita berbeda species. Jangan memaksa, aku tak tertarik padamu. Pengawalmu saja kau goda, kau memang bangsa*t sejati. Apa yang baik bisa kulihat darimu. Sandaran, kau langsung mamanfaatkan kesempatan s*empit dengan seketika, katakan sekarang dari sisi mana aku bisa melihatmu baik." Aku memarahinya bertubi-tubi, tapi dia tidak marah malah tersenyum lebar melihatku.
__ADS_1
Dasar sakit!
"Baiklah, baiklah, aku kalah. Damai ok Nona Sandra, orang-orang akan bertanya kenapa kita bertengkar dengan m*esra semalam ini. Kau tak mau mengambil kesempatan bagus, ya sudah kau yang rugi bukan aku..."
"Tidak bisakah kau bicara normal biasa saja ke wanita."
"Aku bukan pria rata-rata! Normal jauh dari bayanganmu. Kau pernah melihatnya sendiri bukan, ...." Aku melihatnya dengan sebal, apa maksud perkataannya itu. Bagaimana bisa semua ini disambung ke situ. Apa dia pikir aku masih terbayang si*ze XXXLnya!
"I'm done talking with you. We're trully not in same language even, I'm going to sleep."
**Aku sudah selesai bicara denganmu. Kita bahkan tidak punya bahasa yang sama, aku tidur saja
"Penakut, sana pergilah tidur." Dia merasa menang.
"Boss mes*um. Aku memang akan tidur"
Dan setiap kali bicara kami akan berakhir bertengkar. Kami memang bukan species yang sama. Yang aneh adalah dia tidak tersinggung aku mencoba bertengkar dengannya.
__ADS_1