TAWANAN GAIRAH CINTA SANG DUDA

TAWANAN GAIRAH CINTA SANG DUDA
SEASON 2 Part 52. Just You and Me.


__ADS_3

Aku ingin seorang anak, satu saja. Kukira tak akan memberatkan bagi kami.


"Apa kalian tak ingin segera menikah dan memiliki anak Sandra?" Mama bicara padaku sekarang saat kami berdua sendiri.


"Oliver sebenarnya tidak ingin anak Mama. Dia bilang lebih baik kami menghabiskan waktu untuk diri kami sendiri. Fokus ke diri kami sendiri..."


"Kau juga tidak ingin?" Aku diam dan berpikir. Aku tak pernah ingin menikah sebenarnya malah, tapi takdirku tiba-tiba berubah haluan. Jika ditanya aku ingin anak atau tidak. Aku sendiri mungkin tak bisa memutuskan.


"Entahlah Mama, sebenarnya aku senang-senang saja dengan anak-anak. Tapi jika Oliver keberatan kurasa aku akan berkompromi. Itu bukan sebuah prioritas, yang penting kami berdua bisa sejalan. Jika dia berkeras tidak kurasa aku lebih memilih tidak."


"Mungkin kau harus membicarakannya dulu. Mungkin keadaan dulu dan sekarang berbeda, mungkin setelah beberapa saat dia tak akan keberatan. Mempunyai bayi itu sebenarnya membahagiakan... Kadang jadi pelipur lara, sumber kebahagiaan, kadang jadi penguat untuk berjuang, karena kadang cinta tak selamanya ... penuh bunga-bunga.


Iya cinta tak selalu berbunga-bunga.


Kami sudah kembali ke Hongkong kemudian setelah hanya dua hari di Shanghai, tapi Mama masih disana.


"Sayang jika kita menikah, apa boleh kita memiliki seorang bayi? Apa kau benar-benar tidak ingin memiliki bayi." Oliver melihatku saat aku duduk disampingnya di sofa kamar kami saat kami sudah kembali.


"Kau mengatakannya itu karena Ibumu menginginkannya? Karena anak harus kau yang membesarkannya, apa yang kau harapkan dariku, aku mungkin punya hari-hari bekerja panjang, kau akan memarahiku karena bekerja terlalu lama, lalu aku menjadi contoh Ayah yang buruk. Kita mulai bertengkar kemudian karena aku kurang perhatian ke anak kita... karena seperti yang kubilang mungkin aku adalah Ayah yang buruk. Itu yang kutakutkan. Bukankah labih baik kita fokus ke kebahagiaan kita sendiri." Dia keluar dengan penjelasan panjang ketakutan apa yang ada di dalam pikirannya.


"Tidak bukan, aku sudah cukup mengerti kau tidak ingin pekerjaanmu terganggu. Tapi kurasa tidak seburuk itu,... "


"Bagaimana jika aku meninggalkanmu jika kau sedang hamil, aku sedang harus pergi berminggu-minggu? Bagaimana jika aku harus pergi meninggalkan bayi kita. Kau akan mengatakan aku suami yang tidak terlibat dalam keluarga. "


"Ada pengasuh yang bisa membantu, sebenarnya pengasuh bisa membantu banyak, ada Ibuku, aku melihat bagaimana beberapa orang terbantu dengan pengasuh dan juga aku menginginkannya, itu akan jadi anak kita. Aku mengerti kau punya pekerjaan, tapi teman-temanku bilang kerepotannya hanya pada dua tahun pertama."


Dia diam mendengar aku bicara.


"Aku tetap tak menginginkannya, rasanya seperti menambah orang ketiga di dalam hubungan kita. Tanpa anak kita juga bisa bahagia."


Dia tetap tak menginginkannya. Aku tak bisa merubah pendapatnya.


"Sebelumnya kita pernah membicarakan ini, kau tidak keberatan, kenapa kau tiba-tiba membicarakannya." Dia merangkulku dan melihat mataku. "Apa aku tak cukup, kita sudah berbahagia bukan..."

__ADS_1


"Aku pikir seorang bayi akan membuat hubungan kita lebih dekat dan solid, bagaimanapun dia adalah gabungan kau dan aku. Bukan aku ingin memberatkanmu. Di luar tanggung jawab yang bertambah, kurasa melihat dia berkembang akan membahagiakan. Aku mungkin membicarakan ini ...terlalu cepat dibicarakan, apa kau terganggu?"


"Tidak, hanya aku mungkin belum tergerak soal bayi entahlah."


"Kau bahkan belum mengatakan apa-apa soal pernikahan." Aku tertawa sendiri, ini memang terlalu jauh untuk dibicarakan.


"Pernikahan hanya status sayang, aku sudah milikmu, kita sudah bersama apa lagi yang kau takutkan, yang penting bukan pernikahannya, yang penting kau dan aku bahagia satu sama lain." Sekarang aku tersenyum dengan kata-katanya yang manis itu. Bertopang dagu melihatnya, dulu aku tak pernah berpikir dia akan semanis ini.


"Kau memang manis dimsum, ..." Dan aku mencium pipinya sebagai balasan kata-kata manisnya. "Bisakah kau semanis ini terus."


"Akan ku usahakan." Sekarang dia membawaku duduk di depannya. "Sayang kita akan baik-baik saja tanpa anak." Dia masih berusaha meyakinkanku.


"Aku hanya ingin punya dimsum kecil bagian dari dirimu, apa kau akan cemburu dengan anakmu sendiri, dia bisa menghiburku saat kau pergi, kau bisa melihat kau yang kedua tumbuh. Mungkin kita akan menendangnya keluar rumah saat umur 18, tapi kita akan merindukannya, mungkin kita bisa melihat cucu. Bukankah itu tak terlalu buruk." Dia meringis.


"Apa kau akan memaksaku sekarang memberimu seorang anak?"


"Mungkin."


"Bagaimana caranya?"


"Ohh ya, kau tahu selama ini aku yang terus memaksamu. Belum pernah kau yang memaksaku nampaknya, kau selalu membiarkanku mengambil inisiatif, kadang aku bertanya kenapa kau selalu menungguku, kenapa kali ini kau tak mengambil inisiatif memaksaku." Aku mengulum senyumku. "Katakan kenapa?"


"Mungkin aku suka perasaan kau menginginkanku, dibanding dengan tipe-tipe wanitamu yang pernah kutemui, aku mungkin merasa aku tak secantik mereka. Entah kenapa kau ..." Aku tak meneruskannya,... sampai sekarang kadang masih ada rasa tak percaya, dimsum ini berbeda dari yang kupikir selama ini.


"Sudah kubilang karena kau satu-satunya yang pernah menendangku sekaligus mencium pipiku. Salahkan cupid yang membuatku jatuh cinta padamu." Aku tersenyum padanya. Benar aku akan berterima kasih pada Cupid saja mengirimkanku dimsum ini. Kucium dia singkat di pipinya. Membuat dia tertawa dan mengetatkan pe*luk*annya.


"Kau tak berani di bib*ir sayang? Kenapa di pipi?"


"Berani..." Kukec*up bi*birnya membuatnya membalas ciumanku.


"Apa kau bahagia sweetheart, apa kau keberatan aku sering pergi bekerja, hal kedua yang kucintai, aku mencintai pekerjaanku. Aku mencintai bagaimana orang menyukai apa yang kugambar dan kubangun dengan sepenuh hati."


"Tidak, lakukan apa yang kau suka, aku bukan tipe harus melihatmu setiap hari, aku hanya tahu kau ada jika aku memintamu, aku merasa kau mencintaiku, kau kembali ke sini... itu sudah cukup."

__ADS_1


"Aku hampir lupa, Koko tersayangmu itu bilang bulan depan acara pernikahannya dia ingin kita ke sana."


"Begitu? Kenapa dia tak mengatakannya padaku."


"Karena dia sudah menganggapku keluarga yang akan menjagamu juga."


"Baiklah-baiklah, ..." Aku tertawa, ingat bagaimana dia berusaha melewati ujian Ko Derrick.


"Kokomu itu wajahnya sangat muda, siapa sangka dia sudah lebih tua dariku. Tak heran kau sangat tergila-gila padanya."


"Kau masih membahas itu sayang, sekarang aku menginginkan anakmu." Dia tertawa, tapi kemudian ciu*mannya membungkamku.


"Gadis nakal, mungkin nanti kau berhasil, tergantung bagaimana kemampuan meray*umu."


"Jadi keputusanmu belum final?" Aku langsung antusias.


"Entahlah, kurasa sekarang aku belum melihat apa perlunya memiliki anak. Aku tak menginginkannya sekarang." Dia bicara seperti itu berarti mungkin dia bisa berubah.


"Tiga bulan lagi hote*lnya akan selesai? Kau berjanji membawaku kembali ke sana?"


"Tentu saja. Aku akan membawamu ke sana." Aku tersenyum padanya tak sabar ingin melihat teras bintang mengagumkan itu. "Nanti kita pasti dapat undangan khususnya. Kita akan liburan ke sana lagi...Berada jauh darimu itu s*ik*s*aan tak tertah*an say*ang." Ciuman kecil berubah jadi pelukan mesra. Melu*cuti diri kami sendiri dalam sekejab dor*on*gan ini terasa begitu kuat, menc*iu*mnya lagi dan merasakan dia terbang*un dengan cepat.


"Laku*kan sekarang. Lang*sung saja..." Aku m*engi*git bib*irku sendiri saat dia berada di atasku, terpancing dengan kul*it cok*lat lenga*nnya yang terbak*arnya, kontras warnanya membuatku merasa itu sangat  m*ac*ho,  tak sabar ingin  merasakan dirin*ya yang nampaknya sudah di kapasitas terbaiknya.


"S*ay*ang kau ini tak sabaran sekali hari ini." Tapi dia juga sama  tak sabarannya denganku. Kali ini dia sudah terpancing penuh, perlu beberapa saat terbiasa dengan f*ull si*ze nya itu. Era*nga*nku seketika terle*pas ketika dia berge*rak.


"Oliver, ple*se..." Me*mo*hon agar dia tak berh*enti melakukannya. Aku selalu menyukainya, bagaimana dia tahu apa yang kuingi*nkan. 


"Apa yang kau inginkan?" Dia sengaja membuatku kesal dengan berhenti. Dia pemegang kendali sekarang. Baiklah, ... kali ini aku yang akan memegang kendali. Dalam sekejab aku mengubah posisi kami.


"Kau menyebalkan."


"Sweetheart, kau benar-benar tak sabaran malam ini."

__ADS_1


Sekarang aku yang memegang kendali. Dan semuanya begitu cepat, ketega*ngan dan kerind*uan berminggu-minggu akhirnya terle*pa*s saat itu.


__ADS_2