TAWANAN GAIRAH CINTA SANG DUDA

TAWANAN GAIRAH CINTA SANG DUDA
SEASON 3 Part 6. Paris 2


__ADS_3

Aku terbangun, ketika ada pengumuman dalam satu setengah jam kami akan mencapai tujuan, cahaya temaram kekuningan matahari pagi sudah terlihat di horizon.


Kami akan sampai jam 5.30 pagi waktu Paris. Karena perbedaan timur dan barat perjalanan 13 jam itu terasa terpangkas setengah waktunya.


"Pagi..." Seorang mengucapkan selamat pagi padaku. Senyum kecilnya membuat moodku langsung membaik pagi ini.


"Pagi Kak Cheng,..." Tidurku cukup lelap kali ini. Biasanya aku hanya bisa tidur sebentar dan terbangun beberapa kali. "Sudah pagi..."


"Mereka akan membagikan sarapan segera nampaknya." Aku melihat wajahku di layar ponsel, rambutku sedikit acak-acakan.


"Gadis cantik walaupun acak-acakan tetap cantik." Sekarang aku tersenyum dan balas menatapnya.


"Kak Cheng, tak kusangka kau itu Casanova juga."


"Aku hanya mengatakan apa adanya."


"Terima kasih buat pujiannya jika begitu. Nanti makan malam aku yang bayar." Dia tertawa kecil.


"Mana bisa aturannya begitu, aku yang mengajak." Dia tersenyum kembali.


Dia manis bukan. Perjalanan ini jadi menyenangkan karena kehadirannya. Kami harus berpisah sejam kemudian.


"Baiklah, terima kasih Kak Cheng. Kita berpisah disini. Tanggal 16 oke, kau punya janji makan malam denganku."


"Baik, tentu saja."


Dia harus menunggu transit dua jam berikutnya ke Toulouse, sementara aku langsung ke hotelku.


Jadwal padat menungguku di Paris, menghadiri beberapa undangan fashion week, memilih beberapa item yang harus kubeli untuk musim berikutnya.


Bibi Yu Mei meneleponku kemudian, Bibi dari Pihak Ayah ini sering menitip membeli sesuatu di Paris.


"Bibi, kau mau beli sesuatu?"


"Ahh ya Aileen mencari Mosaique warna merah, bisa kau lihat disana. Dia kehabisan kemarin di Hongkong." Aileen adalah anaknya dan Mosaique adalah tas Hermes casual dengan sling bahu yang popular diantara gadis-gadis muda.



"Ohh baik, coba ku lihat apa mereka punya ready stok."


"Kau baru sampai? Menginap dimana?"


"Iya, hari ini baru sampai, di tempat biasa InterContinental, LeGrand."


"Ya sudah, jika kau mendapatkannya kabarkan Bibi oke. Akan Bibi transfer harganya. Kau mau ke Hongkong?"


"Tidak nampaknya, tapi belum tahu juga. Nanti kukabari Bibi."


"Baiklah. Hati-hati disana."


Aku sibuk beberapa hari berikutnya. Sampai ke tanggal 16 malam, aku mengosongkan jadwalku untuk makan malam dengan Kak Cheng. Dia sudah bilang akan sampai ke lobby jam 7. Kami memilih makan malam di restoran Hotel saja karena dia mendapat akomadasi di Fauchon hanya 10 menit sebenarnya.


Jam enam aku sudah tiba kembali ke hotel untuk bersiap-siap. Teleponku berbunyi, dari Nathan? Kenapa dia meneleponku.


"Halo? Nathan ada apa?"


"Aku di Paris akhir pekan ini, mau makan malam denganku." Aku mematung begitu saja saat dia mengatakan itu.


"Kau di Paris?"

__ADS_1


"Di hotel yang sama denganmu." Aku terdiam sekarang. Dia benar-benar berusaha soal perjodohan ini, dari mana dia tahu hotelku?


"Darimana kau tahu hotel tempatku menginap?"


"Papamu yang memberitahuku." Aku baru ingat kemarin Bibi meneleponku bertanya di mana hotelku. Ini pasti disuruh Papa.


"Aku tak bisa, ada makan malam dengan kolega malam ini."


"Aku baru tiba, masih jetlag sebenarnya, kamarmu nomor berapa?"


"Nathan, kau sengaja ke sini untuk menyusulku? Kau pikir aku akan memberitahumu? Aku sama sekali tak mengundangmu ke sini."


"Ini akhir pekan. Tak apa? Kantor libur, lagipula aku melakukan ini untuk menemanimu, menemani calon istriku." Aku menghela napas panjang sekarang, merasa terganggu dengan ini.


"Kau menyia-nyiakan waktumu terbang ke benua lain hanya untuk menemuiku?"


"Ini Paris, mungkin kita bisa berkenalan dan ngobrol dengan baik di sini. Aku menunjukkan ketulusanku padamu. Lagipula aku tak menganggap ini sia-sia, seperti yang kubilang aku menghargaimu." Kata-katanya adalah sia-sia untukku.


"Kau tahu, aku terganggu dengan kau tiba-tiba muncul disini, kau tahu aku tak bersemangat membalas chatmu, aku tersirat secara sopan menolakmu. Kau tak bisa melihat itu? Sekarang kau tiba-tiba muncul disini. Maaf Nathan, perjodohan kita tak akan berhasil. Kau sia-sia saja kesini."


Langsung saja kukatakan semuanya agar dia tahu posisinya.


"Lagipula, aku tahu kau akan mendukung Ayahku. Dalam perselisihan Ayah dan Ibuku, aku berada di sisi Ibuku. Mana mungkin aku di sisi Ayahku."


"Aku tahu kau tak akan memihak Ayahmu, dan sebenarnya untuk sisi siapa yang kami bela, itu bisa kita rundingkan, mana mungkin aku tidak memikirkan opini pribadimu."


"Wow, sangat mengejutkan..." Berarti keluarga Chow bisa berbalik mendukung Ibuku? Benar-benar ular berkepala dua.


"Ini bisnis dan kerjasama Cherrie, yang diikat dengan hubungan keluarga. Keluarga bisa membicarakan semuanya dengan baik."


"Kau membicarakan pembelotanmu seperti merencanakan drama televisi. Jika Ayahku tahu dia akan langsung menendangmu." Aku meringis sendiri.


"Nathan, kau membuatku pusing. Berhentilah bicara..."


"Aku sudah disini, besok pagi bertemu di sarapan hotel. Aku tak akan menganggumu malam ini. Baiklah, tak usah beritahu nomor kamarmu. Besok pagi oke, breakfast, tenang saja aku tak akan menggangu pekerjaanmu."


"Aku sudah punya pacar, berhentilah mengharapkanku."


"Aku tak percaya, berhentilah membohongiku." Dia malah tertawa. "Kita bertemu besok pagi oke. Aku mau istirahat dulu."


Dia mematikan sambungan telepon, membuatku kesal. Langsung menelepon Mama, selama ini aku tak mengerti apa yang sebenarnya terjadi di Hongkong sana, sekarang aku penasaran.


"Mama, kau tahu apa yang dikatakan Nathan Chow padaku..." Kuceritakan semua yang dia bilang sampai ke pembelotan yang direncanakannya.


Mama tertawa di seberang sana. "Keluarga Chow dan Chan itu sebenarnya tak punya masalah selama ini. Kepala keluarga Chow yang sekarang punya ambisi tinggi menyalip keluarga Leung (Philip Leung red) , sebagai orang nomor satu di Hongkong, makanya dia menempuh banyak cara untuk menaikkan posisi keluarganya, dan nampaknya didukung oleh anak-anaknya."


Ohhh jadi saingan boss Ko Derrick bisa di bilang.


"Kau menyukainya atau tidak."


"Tidak."


"Ya sudah, jangan beri dia kesempatan."


"Dia sangat menganggu sampai berani kesini."


"Hmm... asal dia tidak menggunakan kekerasan fisik saja. Lama kelamaan dia juga tahu dia tak punya harapan."


"Ya kurasa bisa begitu."

__ADS_1


Aku turun kebawah kemudian karena Kak Cheng sudah sampai, dia menempati janjinya untuk mentraktirku makan malam. Dia terlihat tampan dengan jas casual dan t-shirt gelapnya, sebenarnya membingungkan kenapa aku lebih suka melihat Kak Cheng daripada melihat Nathan Chow.



"Kak Cheng, kau sudah lama." Dia sudah duduk menunggu dengan tenang di lobby hotel.


"Tidak, baru saja. Kau terlihat cantik." Karena restoran hotel yang dia pilih adalah restoran resmi, aku harus memakai gaun semi formal setidaknya.


"Terima kasih." Dia menarik, tapi entah kenapa aku segan menggodanya. Kurasa belakangan sejak Mama dan Papaku berpisah, dan aku berbaikan lagi dengan Papa Lam, banyak hal yang berubah dalam pandanganku, termasuk soal cinta.


Aku jadi melihat bagaimana keluarga Papa Lam yang nampaknya bahagia sekarang, Papa Lam, Cece Tata, dan anaknya yang lain, bahkan istrinya pun baik padaku.


Istri Papa yang sekarang punya hati malaikat, dia tak membedakan perlakuan pada adik laki-laki ku yang adalah anak tirinya, bahkan pada Cece Tata yang adalah anak tiri lainnya. Tahun baru kemarin aku ke rumah Papa Lam, mereka semua berkumpul, aku merasa dirangkul, rasanya punya keluarga baru.


Mungkin itu bayaran penganti untuk Papa Lam yang terluka karena pengkhianatan Mamaku. Aku jadi percaya menjadi baik itu tidak sia-sia pada akhirnya. Pasti ada kebaikan yang terjadi padamu sebagai imbalannya.


Jadi entah bagaimana itu mempengaruhiku untuk lebih menahan diri bicara, bersikap, bertindak lebih baik ke siapapun.


"Pekerjaanmu masih banyak." Kak Cheng bertanya dengan simpatik saat kami menunggu menu pertama kami datang.


"Sudah terjadwalkan, tidak begitu penuh, hanya tinggal dua hari lagi lalu kembali, yang membuat penuh adalah gangguan tidak direncanakan."


"Gangguan tidak direncanakan? Apa maksudmu?"


"Seperti Nathan Chow yang juga datang keparis dan menginap di hotel yang sama."


"Kau serius? Dia datang kesini? Menginap di hotel yang sama? Sekarang?"


"Iya, sekarang. Nampaknya semua keluarga Chow itu punya ambisi yang sangat besar."


"Kau tidak takut jika dia memergoki kita."


"Aku tak punya hubungan apapun dengannya Kak Cheng, kau pikir aku tertarik jadi pion bisnis keluarga Ayahku dan keluarga Chow? Jika dia memergoki kita itu akan lebih bagus. Biar dia tahu aku tak akan dia dapatkan." Aku tertawa kecil sementara nampaknya dari kemarin Kak Cheng tak mau terlibat masalahku. "Tenanglah, dia sedang jetlag, besok pagi aku memenuinya untuk sarapan bersama. Kau tak akan terlibat..."


"Dia sangat serius meluluhkan hatimu, sampai dia bersedia terbang 13 jam kesini."


"Dia menyebalkan, tentu saja dia bersedia, ini semacam perjalanan bisnis sambil liburan untuknya. Mamaku bilang keluarga Chow sekarang sedang berusaha mengejar keluarga Leung. Jika dia berhasil menguasai perusahaan kami dia juga akan dianggap membantu bisnis keluarganya. Ini adalah kunjungan bisnis baginya, kau pikir dia romantis meluluhkan hatiku? Romantis demi uang, itu yang terjadi."


"Kejam sekali kau mengecapnya." Kak Cheng tertawa mendengar aku memgomel panjang lebar.


"Memang begitu kenyataannya. Sudahlah kita tak usah bicarakan dia, besok akan kusuruh dia pulang ke Hongkong lagi."


Kami mengubah topik pembicaraan kami kemudian. Aku jadi tahu sedikit kalau Chow dan Leung itu adalah dua keluarga yang selalu bersaing. Jika aku ada di pihak Chow, pasti aku jadi musuh Ko Derrick, keluarga Ayahku dekat dengan boss Ko Derrick, tidak akan ada alasan bagiku untuk setuju berjodoh dengan Nathan Chow .


Kami ngobrol berbagai macam hal mengenai perjalanannya ke Toulose, sampai detail apa yang kulakukan disini. Mengobrol dengan Kak Cheng melewatkan waktu terasa cepat. Tak terasa kami sudah harus berpisah kemudian.


"Kak Cheng terima kasih atas makan malamnya, lain kali izinkan aku yang membayar makan malamnya kembali."


"Iya, nanti kita bisa mengobrol lebih banyak. Ohh ya orangmu sudah memesan aku melihat laporannya mereka langsung membooking tiga slot pemotretan malah. Seperti janjiku, order ke 4 nanti akan ada diskon."


"Begitukah, itu mereka yang mengurus."


Aku mengantarnya melewati lobby utama kemudian.


"Jadi rupanya kau ada janji makan malam dengan Brother Cheng ..." Seseorang membuatku menoleh sekarang.


Nathan Chow.


-------- Bersambung besok

__ADS_1


__ADS_2