
"Kau sudah baik?" Pagi harinya jam delapan dia ada di depan pintuku setelah mengirimkan pesan menanyakan keadaanku. Aku melihatnya dengan berbagai pikiran yang ada di benakku.
"Iya sudah baik, aku memang hanya kelelahan. Kau tak bergabung dengan yang lain? Aku hanya bersiap sebentar."
"Aku boleh menunggumu saja."
"Masuklah, sebentar aku bersiap." Aku belum selesai mengeringkan rambut di kamar mandi dan kubiarkan dia duduk di sofa dalam. Aku hanya memakai blouse pink dan celana 7/8 yang nyaman untuk hari ini. Kacamata andalanku menemaniku.
Mematut diriku si cermin, perkataannya kemarin masih terbayang. Konyol, kenapa aku berpikir berlebihan seperti ini hanya karena satu kata ambigu yang mungkin tak berarti apapun.
Shiori, dia tidak bermaksud apapun. Hanya merasa bertanggung jawab karena sudah mencelakaimu, dan kau mentor putri kesayangannya. Cuma itu, berkali-kali aku mengulang kalimat itu dalam pikiranku dari semalam.
Otakku memikirkan hal logis, tapi hatiku berharap ada kelopak sakura turun disekelilingku. Hanami sebentar lagi datang, sudah tujuh tahun berturut-turut di Tokyo seperti biasa itu hanya jadi festival sakura bagiku.
Melihat dengan iri pasangan menghabiskan waktu mereka di bawah naugan kelopak sakura yang berjatuhan, kadang entah bagaimana aku berdoa di bawah guguran sakura Richard mengambil keputusan bekerja di Tokyo, tapi musim demi musim berlalu tanpa terjadi apapun, sementara aku hanya mengandeng Ayah dan Ibu, kadang kakakku bisa kembali ke Tokyo untuk merayakan Hanami.
Aku mengenyahkan pikiran yang kupikir sangat berlebihan itu dan keluar dari kamar mandi.
"Ayo pergi." Kali ini dia memakai t-shirts dan kemeja santai, terlihat lebih muda, rambutnya yang lebat agak berantakan, bagaimana rasanya menyentuh rambutnya dan pikiranku tak bisa mengalihkan mataku yang ingin memandangnya lebih lama.
"Ada yang salah?" Mungkin dia bertanya kenapa aku menatapnya begitu rupa.
"Aku baru sadar sebentar lagi Hanami, ... bajumu ada gambar sakura." Aku meracau sendiri. Sudahlah, ayo pergi." Aku memalingkan pendanganku, mengambil tas kecilku. Mukaku panas. Bagaimana mungkin aku memandangnya begitu rupa.
"Sayuri mengkhawatirkanmu, aku mengatakan kau tidak baik pagi ini. Nanti dia akan menjemput kita ke bandara." Aku keluar duluan berharap dia tak menangkap muka panasku.
"Aku sudah baik-baik saja. Kenapa kau harus mengatakan padanya."
"Dia kebetulan meneleponku pagi ini, jadi sekalian aku cerita. Kau tahu dia, dia pembela nomor satumu." Aku tersenyum, ya mungkin yang sampai sekarang mendekatkan kami adalah Sayuri.
"Jika kau ingin ke rumah kau bisa datang." Tiba-tiba dia mengatakan sesuatu, yang membuatku agak heran. "Sayuri, pasti senang kau datang." Undangan ke rumah, dia yang mengatakannya sendiri. Dua hari ini dia memang bersikap agak aneh. Sayuri senang, mungkin, tapi apa dia juga senang.
"Aku tak ingin menganggu."
"Kau tak menggangu. Dia sering menganggumu di rumah. Kau bisa ke rumah kami kapan saja. Aku tak akan menganggap itu gangguan." Dia banyak berusaha untuk putrinya.
__ADS_1
"Iya, mungkin nanti." Aku tersenyum. Bagaimana mungkin aku sengaja datang ke sana. Rasanya tak benar. Seperti mengejar sesuatu, datang ke rumah adalah hal yang terlalu pribadi bagiku.
Berada di lift kemudian terasa canggung. Aku berdebar sendiri dan hanya berani menatap ujung sepatuku sendiri. Ini perasaan yang konyol.
"Kau diam sekali? Kau yakin baik-baik saja?" Dia malah memperhatikanku di dalam lift membuatku tambah canggung.
"Aku baik-baik saja. Hanya ada sedikit pekerjaan menggangu pikiranku." Perhatiannya yang berlebihan yang menganggu pikiranku.
Berjalan keluar setelah lift terbuka, aku berjalan dulu di depan merasa terbebas dari kecanggungan aneh ini.
"Maaf aku terlambat, aku memberi salam pada semua orang, Tuan Akada dan Kenichi yang sudah berada duluan disana.
"Tak apa, katanya kau kelelahan kemarin, kita mau tak mau memang harus menghormati jamuan, akupun sebenarnya sudah agak tua menghadapi acara panjang seperti itu. Tapi Kenichi masih bersemangat." Semua orang tertawa.
"Shiori-san, kau sudah baik?"
"Sudah, sudah bersemangat untuk sarapan." Aku tersenyum.
"Tadi Ryohei-san sudah di sini, tapi dia ke atas untuk mengecekmu, dia merasa bersalah soal keadaanmu sampai sekarang." Kenichi memberitahuku.
"Aku cuma kelelahan sebenarnya, sudah jarang belakangan tapi kemarin memang acara kita tidak berhenti seharian. Ryohei-san terlalu baik."
"Shiori, dia benar, pergilah ambil sarapanmu. Kami tadi sudah sarapan, sekarang tinggal kopi."
Aku meninggalkan meja. Pergi ke area prasmanan untuk mengambil sarapanku. Sementara yang lain mengobrol lagi. Seorang pria tampan Kaukasian terlihat bingung, dengan menu sarapan Asia.
"Banyak sekali, bagaimana aku harus mengambil ini?" Dia bicara bahasa Perancis.
"Ini bubur, ini kondimennya, jika kau tak suka bubur kau bisa mengambil nasi goreng, atau mie goreng di sana, kondimennya di sebelah sana, yang disebelah disana itu sarapan khas Vietnam."
"Ahhh kau bisa bahasa Perancis? Kejutan yang menyenangkan, bisa kau jelaskan macam-macam kondimennya bubur ini? Apa ini di campur, apa isinya?"
Aku dengan senang hati menjelaskan padanya. Dia menurutiku mengambil beberapa isian bubur yang dia suka dan menjelaskan beberapa macam dimsum yang ada di sana.
"Ohh jadi kau mengaduknya?"
"Jika kau suka diaduk, aku mengaduknya supaya sama semua rasanya. Seperti ini, ini kecap asin, jika kau merasa kurang asin kau bisa menambahkannya."
__ADS_1
"Begitu rupanya. Terima kasih sekali, tadinya ada orang yang melayani disini, aku mau mencobanya tapi tak tahu bagaimana caranya, lagipula Inggrisku agak terbatas. Kau sangat membantu..." Senyum manisnya kubalas juga dengan senyum.
"Namamu siapa Nona, aku mau berterima kasih tapi tak tahu namamu."
"Panggil saja aku Shiori."
"Nona Shiori, secantik namanya." Aku tersenyum lebar. "Terima kasih. Aku dan teman-temanku di sana, kau mau bergabung?" Dia menunjuk sebuah meja dengan beberapa pria dan wanita.
"Ahh tidak aku bersama teman-temanku di sana. Terima kasih."
"Kau sudah selesai? Ada yang perlu dibantu dibawa?" Tiba-tiba Ryohei muncul di sampingku.
"Tidak. Hanya bubur."
"Kalau begitu aku kembali, terima kasih pagi Nona Shiori. " Dia tersenyum padaku, aku melambai padanya.
"Siapa itu? Temanmu?" Ryohei bertanya.
"Tidak, dia hanya ingin mencoba bubur tapi tak tahu bagaimana isiannya."
"Kupikir temanmu, kau terlihat ramah sekali padanya. Ohh aku lupa kau memang suka Gaijin (orang luar). Apa maksud perkataannya? Aku suka Gaijin?
"Aku menjelaskan kondimen bubur padanya. Kenapa jadi aku suka Gaijin?" Dia melihatku yang mengerutkan alis dengan perkataannya.
"Lupakan perkataanku barusan." Dia membatalkan sendiri perkataannya.
"Kau mau mengambil bubur?"
"Tidak."
"Lalu kenapa kau disini?" Anehnya dia terlihat bingung dengan pertanyaanku.
"Mengambil dimsum." Dia menemukan ide setelah melihat tumpukan keranjang dimsum.
"Ohh." Dia pergi begitu saja kemudian. Aku heran kenapa dia repot-repot berbelok ke sini.
Apa mungkin dia? Tadi dia langsung bertanya siapa pria yang bicara denganku. Apa dia semacam tak ingin aku pindah ke meja lain? Dia cemburu aku bicara dengan pria tadi?
__ADS_1
Aku mengenyahkan pikiran tak logis itu. Tak mungkin. Sudahlah terserah apa yang dia pikirkan. Kenapa malah aku memikirkannya.
\=\=\=\=\=\=