
"Bilang ke Ibumu, tak usah ikut campur. Dan kau juga, masih sakit hati ke putraku. Kasihan sekali kau katanya artis terkenal tapi masih menyinggung putraku." Ny. Hopkins ternyata mampir ke mejaku, nampaknya dia tahu aku sengaja menyinggung Gary di status istagramku.
"Kenapa? Kau melakukan hal yang sama pada kami. Aku senang sekali melihatmu jatuh ke dasar jurang Nyonya. Kudengar Ny. McKellan sedang berusaha membalasmu, kenapa kau tidak menyalahkan putra tersayangmu itu yang mengacaukan segalanya."
"Mamalukan anak dan Ibu sama saja, mencari panggung atas kejatuhan orang lain."
"Memang. Kau keberatan? Aku memang memakai masalah putramu sebagai bahan promosi gratis." Aku terkikik geli, dia meradang, di luar antisipasiku dia mengambil wine di mejaku dan menyiramku. Bajuku langsung basah dan bernoda. Nyonya gila ini memang ingin mencari masalah denganku. Appetizersku saja belum selesai dia sudah membuatku harus meninggalkan restoran.
"Nyonya kau gila?!" Sekarang Louis berdiri dan membuatnya mundur ke belakang.
"Kuharap Garymu itu namanya tercoreng seumur hidupnya dan kau hanya bisa mendapatkan menantu artis murahan, hosstes club sekalian mungkin biar kesombonganmu itu berakhir...." Dia pikir aku akan mundur, aku hanya mengelap bajuku dengan biasa dan masih bisa bicara dendan nada biasa dan senyum, selama ini aku tak pernah punya kesempatan untuk membalas menghinanya sekaranglah saatnya.
"Tutup mulutmu Bi*t*ch! Kau pikir kau menang, kau dibuang! Kalian masih dendam?" Dia merangsek kedepan mencoba menamparku. Tapi ada Louis di sana yang tak memberikannya kesempatan mengapaiku.
"Sekarang terbalik bukan, bagaimana rasanya dibuang?" Aku masih bersemangat membalasnya tak akan kulewatkan kesempatan ini.
"Pelayan! Wanita ini menggangu kami!" Dua orang pelayan bergegas datang. Tak lama manager juga langsung datang.
"Nyonya sihlakan pergi Anda pergi dari sini." Manager membawanya pergi. Aku masih duduk dan nampaknya noda ini cukup menganggu, aku juga harus pergi.
"Kau ingin pergi?" Louis nampaknya paham keadaanku.
"Maaf, aku mengacaukan makan malam ini."
"Bukan kau, dia yang datang ke meja kita. Tak apa masih ada lain kali, jika kau bersedia. Ayo kuantar kau pulang." Dia dengan baik hati membawaku keluar. Kesempatanku berbicara lebih panjang dengannya kukacaukan, tapi mungkin masih bisa.
"Terima kasih." Aku masuk ke mobilnya. Dia ternyata memakai sopir. Aku memberikan alamat apartmentku padanya.
"Kenapa dia bisa menghampirimu begitu, kau melakukan sesuatu padanya."
"Bukan aku sebenarnya, tapi Ibuku sengaja membuat masalah dengannya. Dia tak terima Ibuku sekarang malah berteman dengan calon besannya yang gagal, dan menghasutnya mengeluarkan dari Klub yang biasa berisi teman-temannya."
"Ternyata seperti itu."
Aku harus memutar otak, kami harus menjadi teman untuk membuatku punya kesempatan aku bisa mengajukan pertanyaan kunci itu.
"Kita bisa memesan pizza di restoran. Makan di tempatku jika kau bersedia? Ini untuk berterima kasih memisahkanku dari nyonya gila itu. Aku tidak bermaksud mengacaukannya dengan sengaja, hanya jika kau tanya apakah aku senang membalasnya seperti itu, jawabannya iya. Jika itu tempat yang lebih leluasa aku akan mencercanya lebih dari itu."
Masalah yang muncul tiba-tiba di restoran ini sebenarnya bagus untuk mendekatkan situasi kami kurasa. Tak mungkin dengan keadaan seperti ini dia menyangka aku mengatur perangkap untuknya. Tapi apa berbahaya untukku sendiri jika aku mengajaknya ke tempatku. Aku tak percaya dia akan mencoba merayuku dalam kesempatan pertama. Tapi aku diam-diam sudah mengaktifkan penyadap dan kamera sehingga Kelly tahu apa yang terjadi.
"Begitu, ini baru jam 8. Baiklah, masih terlalu pagi untuk kembali kurasa. Apa tak apa untukmu?"
__ADS_1
"Ini hanya mengobrol dan makan pizza, bukan hal yang besar. Atau kau ingin keluar saja, aku bisa mengganti baju sebentar."
"Ayo pesan pizza saja kalau begitu."
Aku membiarkannya naik ke unitku. Ini kondo keluarga, kadang tempat keluarga jika ke New York.
"Ini tempat yang bagus."
"Terima kasih.Duduklah sebentar, aku berganti pakaian dulu." Berganti ke sweater wool dan cargo pants nyaman aku turun menemuinya. Sementara dia hanya melepas jasnya dan naik dengan hanya kemeja berwarna putihnya.
"Aku sudah memesan tadi. Tak akan lama." Dia berdiri melihat beberapa foto yang dipajang Ibuku, menilai latar belakang kurasa. "Kau mau minum apa? Aku tak yakin apa yang ada di kulkas, hmm cola, beer,jus, kopi, vodka. Siapa yang membuka vodka?"
"Air botolan saja."
"Pilihan yang sehat."
Sebenarnya ini mendebarkan, aku sudah memberitahu Kelly aku membawanya ke rumah. Mereka tadi tak menganggap berbahaya saat aku bertemu di restoran umum, tapi sekarang rasanya aku mengambil resiko agak jauh.
"Ini kondo keluarga nampaknya."
"Ahh iya. Karena kadang aku dan keluarga sering ke sini dalam jangka waktu lama untuk urusan pekerjaan. Yang lainnya juga, jadi lebih bagus kami punya tempat berkumpul disini."
"Sudah lama aku tak mengundang seseorang sebenarnya. Mungkin tadi aku terdorong emosi karena wanita itu menghinaku." Aku mencoba memainkan wanita rapuh saja. Itu nampaknya lebih aman untuk melonggarkan kewaspadaannya.
"Jadi sebenarnya kau masih terpengaruh juga dengan mantan pacarmu itu?"
"Hmm... jika kau bilang terpengaruh, kurasa dengan cara yang lebih membangun. Aku bekerja sangat keras membuktikan diri setelah putus dengannya. Dia meninggalkanku karena keluarga kami dilanda saat sulit. Keluarga kami juga, Papa berhasil mendapatkan investor baru, mereka bekerja keras memperbaiki keadaan, sehingga setahun belakangan kami bisa dibilang diakui oleh semua orang, karier dan bisnisku sendiri seperti mendapat reward, tak mudah tapi sepadan."
"Itu hal yang bagus, tidak ada yang salah. Ada saatnya kita lebih baik fokus memperbaiki diri kita sendiri dulu. Kau hebat, tak akan ada yang meremehkanmu setelah semuanya. Dan nampaknya keluargamu juga keluarga yang mendukungmu." Aku tersenyum menerima pujiannya.
"Iya, di satu sisi mungkin kejadian itu menguatkan kami sebagai keluarga. Senang rasanya di puji oleh orang pintar." Dia tertawa.
"Ayolah, aku tak sebaik itu."
"Aku mengatakan kau baik. Masih mengatakan kau sulit. Umurmu 38, single, hanya percaya pada teman, tidak mempercayakan hatimu ke siapapun. Apa yang lebih sulit dari itu."
"Kita sama, kau juga sulit. Sesama jenis harus saling memahami." Aku tertawa.
"Hidup memang aneh." Pandanganku menerawang, tapi sebenarnya aku berpikir bagaimana memancing pembicaraan ke arah sana, pajak yang berat.
"Setidaknya tidak seberat masa lalu setelah berjuang. Kau kaya raya sekarang." Tiba-tiba dia mengeluarkan statement itu. Sangat tepat!
__ADS_1
"Kau bercanda, kaya raya UK citizen, berarti kau menanggung pajak terbesar, kadang kala aku berharap aku pindah kewarganegaraan, aku beberapa kali mempertimbangkan itu dalam otakku atau aku berharap ada yang mengajari bagaimana mengatur uangku tak terlihat. Kadang melihat tagihan pajak itu rasanya sesak. Aku yang kerja keras, mereka seperti merampasnya. Aku bekerja keras untuk menampar Hopkins sombong itu padahal." Louis langsung tertawa. Syukurlah dia lengah.
"Kau tak punya? Perusahaan Ayahmu tak punya orang yang bisa."
"Ohh Ayahku konservatif, dia bilang pajak memang harus dibayar. Aku tak mengerti prinsipnya, sementara yang disampingku lurus semua. Aku akan ada kontrak film besar dan beberapa brand ambassador tahun ini, belum lagi pub dan restoran yang berkembang, sudah kubayangkan besarnya angka pajak yang harus kulihat. Menulis ceknya akan menyakitkan hati. Temanku bilang aku bisa semacam menyimpannya di luar tanpa terlihat, banyak orang melakukannya, tapi dia sendiri tidak tahu siapa yang bisa mengajarkanku. Tidak bisa diharapkan." Aku memasang muka tidak punya harapan.
"Itu sangat mudah." Aku langsung beralih padanya.
"Apa maksudmu itu sangat mudah." Dia memakan umpanku.
"Mengatur hal seperti itu tidak sesulit yang kau bayangkan."
"Kau kenal seseorang, dia bisa menggelapkannya? Bagaimana caranya? Kau mau mengenalkanku seseorang yang bisa membuatku bisa menyimpan uangku tanpa terlacak?" Please jawablah bisa.
"Bisa, gampang." Akhirnya, validasi.
"Wow. Benarkah. Kau serius bukan?"
"Aku serius tentu saja." Akhirnya tugasku memvalidasi ini selesai.
"Kau harus memberiku telepon siapa konsultanmu atau siapapun yang bisa itu nanti."
"Iya, tenang saja."
"Tapi ini ada feenya bukan?"
"Yang jelas fee-nya jauh lebih kecil dari tarif pajakmu."
"Kau benar juga."
Kelly pasti sudah langsung melapor ke Thomas. Mereka akan mengatur sisanya tanpa melibatkanku. Untunglah kemudian sisa malam itu berjalan cukup baik.
Dia menyenangkan untuk diajak bicara. Aku berhati-hati tentu saja.
"Baiklah, terima kasih atas undangannya. Mungkin satu saat kita bisa bertemu lagi."
"Pasti. Terima kasih sudah membelaku malam ini. Aku sangat menghargainya. Dan jangan lupa orang itu, konsultanmu, suruh dia meneleponku."
"Tentu saja."
Sayang sekali, kami kemungkinan tak akan bertemu lagi karena tugasku sudah selesai.
__ADS_1