TAWANAN GAIRAH CINTA SANG DUDA

TAWANAN GAIRAH CINTA SANG DUDA
SEASON 4 Part 21. Memory Trap


__ADS_3

"Kau tak terganggu bukan." Dia memandangku yang menatap lurus ke pemandangan di luar jendela.


"Tidak, tentu saja tidak."


"Terima kasih aku sangat menghargainya. Dia pasti senang sekali jika aku memberitahu ini padanya."


Kami sampai ke restoran tempat dia memesan makanan.


"Kau mau takoyaki, gyoza, atau sushi? Atau mau makan malam sekalian." Aku membolak-balik buku menu di meja.


"Ramen mereka kelihatannya enak. Aku mau ramennya. Kau mau? Aku yang bayar oke." Aku memang sudah lapar. Baiklah kuajak dia makan malam sekalian.


"Tak usah, sekalian saja apa bedanya."


"Tidak usah, kenapa harus selalu kau yang membayar." Kami tidak berkencan dia tidak harus membayarku selalu. "Apa kau keberatan jika aku yang membayar?"


"Baik-baik, terserah padamu Shiori-san. Baiklah kita pesan oke, kau yang bayar." Kenapa aku merasa dia menertawakanku. Kami memesan makanan yang kami mau kemudian.


"Apa kau tidak terbiasa dibayari wanita?" Aku menatapnya sambil bertopang dagu.


"Jarang."


"Hmm... bisa dipahami." Dengan wanita-wanita seperti Yuna dia harus membayar, jika tidak harga dirinya akan jatuh.

__ADS_1


"Apa maksudmu bisa dipahami."


"Apa harus kujelaskan."


"Tentu saja, kau membuat komentar lalu meninggalkannya begitu saja. Kau pasti punya banyak pikiran buruk tentangku dalam otakmu bukan."


"Bukan pikiran buruk hanya stereotype,..."


"Coba apa stereotypenya, jelaskan saja, aku ingin mendengarnya."


"Kenapa kau ingin mendengarnya, nanti aku akan membuatmu tersinggung. Stereotype pria kaya sama semuanya."


"Butuh lebih dari hal seperti mengatakan stereotype untuk membuatku tersinggung." Aku tertawa.


"Ya, kau berkencan dengan wanita seperti Yuna. Tentu kau harus selalu membayar, itu stereotype pria kaya dan wanita sekelas itu bukan, umum. Bukan hal yang buruk juga."


"Iya hanya itu. Aku tak tertarik memikirkan yang lain. Bukan urusanku."


"Tak punya jadwal kencan buta lagi." Tiba-tiba dia menyinggung bagaimana kami bertemu pertama.


"Tidak. Aku baru sembuh, kau menyuruhku kencan dengan wajah sembab."


"Pria Jepang itu menurutmu terlalu kaku bukan."

__ADS_1


"Rata-rata. Ya tidak semuanya, aku tak mungkim menyamakan semua orang, hanya aku belum bertemu yang sepemikiran. Entahlah apa akan ada."


"Jika kau ingin menyamakannya dengan seseorang di masa lalumu jelas tak ada." Perkataannya membuatku melihatnya.


"Aku tahu..."


"Benarkah?" Dia tersenyum kecil padaku. Sebuah pertanyaan yang membuatku tak nyaman. Aku diam mempertanyakan diriku sendiri. Memang tak ada Richard kedua, Richard yang terlalu manis untuk kulupakan, walaupun itu pilihanku sendiri. Apa secara sadar aku menetapkan standar yang sama.


Memori buruk berusaha kau lupakan dan itu mudah, tapi memori baik melekat dan tak bisa kau lepaskan sama sekali. Apa tanpa sadar aku terperangkap dalam memori masa lalu.


Untungnya aku diselamatkan oleh kedatangan pesanan kami.


"Apa aku menyinggungmu?" Dia memperhatikan kediamanku.


"Tidak..." Aku membalasnya dengan cepat, dan beralih ke pembicaraan lain."Oh ya, kami akan meminta jadwal tanda tangan ke Hanoi bulan depan. Hanya sedikit perbaikan minor. Maka semua draft sudah final."


"Benarkah, melegakan mendengarnya. Mungkin bulan depan kami sudah bisa memulai proyeknya jika begitu. Aku akan mempersiapkan tim, terima kasih sudah memberitahuku."


Pembicaraan beralih ke proyek kemudian, menjauhkanku dari ingatanku sendiri tentang masa lalu.


"Ahh ular betina, ternyata kau memang punya tujuanmu sendiri." Seorang bicara dan langsung membuatku menoleh.


"Yuna." Dia tersenyum sinis melihatku.

__ADS_1


"Ibu Direktur yang terhormat, makan malam dengan Boss Ryohei rupanya, tak kusangka gerakanmu cepat juga. Kau memang licik." Dia pasti menyangkaku mengincar Ryohei, mantannya yang tampan ini.


bersambung besok.....


__ADS_2