
Bikin Mama dan Papa kamu bahagia saja. Itu sudah cukup. Koko gak perlu balasan.
Entah kenapa kata-kata itu terngiang dalam kepalaku dari semalam. Memikirkan kebahagiaan Mama, aku tahu keinginan Mama salah satunya melihatku tak membenci Paman Lam lagi, dan memanggilnya Papa. Apakah aku harus berdamai dengan keinginan Mama. Mama bahagia selama ini, tak pernah kudengar dia mengeluh, atau tak pernah kudengar dia menyalahkan keadaan, dia sudah berdamai dengan keadaan, mungkin aku yang menganggap dia tidak bahagia.
Mama sudah selesai memasak ketika aku keluar pagi itu, dia memang suka bangun pagi, membuat sesuatu untuk kami, sedang mencoba sendiri masakannya. Dia nampak baik-baik saja, kecuali dia selama ini selalu berusaha menyeretku bertemu Paman Lam, membuatku berdamai, tapi tidak bisa sampai sekarang. Mereka berpisah karena keadaan bukannya itu hal yang menyedihkan, ketika Mama memutuskan dia tidak akan menerima yang lain lagi. Bagaimana perasaannya... Aku akhirnya menambah pikirannya karena aku tak menerima kehadiran orang yang berarti baginya.
Selama ini mungkin aku yang membuat Mama sedih.
“Ma...”
“Ehm, udah lapar Ta? Makan dulu.”
“Mama, kalau Mama mau ketemu Papa aku mau ikut...” Untuk pertama kalinya aku menyebut Paman Lam sebagai Papa. Dia terdiam sebentar saat menyadari siapa yang kusebut.
“Kamu serius? Papa pasti senang...” Dia memegang tanganku dan aku mengangguk. Sebuah bulir air mata mengalir begitu saja dari matanya. Apakah dia sebahagia itu. Aku tersenyum ikut merasakan kebahagiaannya, entah kenapa aku ikut merasa menjadi anak yang berguna sekarang. “Mama telepon Papa sebentar. Oke, kamu makan yang banyak ya.”
Dia ke kamarnya, entah bagaimana kurasa dia dan Papa akan bertangis-tangisan berdua di sana. Aku tak pernah menyadari ini, mereka dipisahkan oleh keadaan tapi mereka tetap bersama, bahkan lebih kuat karena tak pernah mengharapkan banyak hal satu sama lain.
__ADS_1
“Ta, Papa mau bicara.” Dia akhirnya keluar kali ini dengan membawa ponsel bersamanya. Aku menerimanya dengan ragu. Mama menaruhnya ke dalam tanganku. “Panggil Papa...” Dia duduk di depanku sekarang dengan senyum pengharapannya.
“Hallo...” Tapi lidahku masih kaku mengatakannya.
“Tata.”
“Papa... gimana kabarnya.” Kata pertama yang kuucapkan padanya. Tak ada jawaban disana, dan Mama cuma mengulirkan air matanya di depanku. Kurasa Papa juga di sana, mungkin selama ini aku sudah berdosa membuat kedua orang ini begitu bersedih.
“Papa baik. Sangat baik... Gimana kabarmu? Kamu tidak bekerja?”
“Ehm, tidak ini Minggu. Tapi mungkin Minggu depan banyak lembur, karena ada dua yang harus diawasin, ngerjain iklan ban-nya Papa ama iklannya Ko Derrick.” Aku bicara sepanjang itu, ingin terdengar biasa saja tapi entah kenapa air mataku sendiri bergulir. Rasanya semua beban terangkat, entah apa yang terjadi aku tak tahu tapi rasanya sangat melegakan.
“Maaf Tata sudah bikin Mama dan Papa sedih.” Mama mengelus rambutku saat aku mengatakan itu padanya.
“Tidak, Papa pantas disalahkan. Tapi Papa senang kalau kamu bisa memaafkan Papa yang tidak bisa ada di sisi kamu.” Sementara Papa hanya bisa melakukannya dengan kata-kata.
“Ga pa pa Tata. Sudah jangan nangis lagi...”
__ADS_1
“Mama aja nangis.” Mama menghapus air mataku tapi dia sendiri masih terus menangis. Dia tertawa kecil kemudian, Papa yang mungkin bisa mendengar apa yang terjadi ikut tertawa kecil. Sesaat kami antara menangis dan tertawa dan tak bisa bicara apapun.
“Kamu mau ke Hongkong? Papa bisa langsung atur tiket buat kamu dan Mama. Ketemu keluarga disini, mereka juga pengen ketemu kamu.”
“Mungkin nanti Pa, kalo kerjaan sudah beres sekarang harus nyelesain deadline.”
“Ohh iya, kamu harus ngejain kerjaan. Jaga kesehatan kalo kerjaannya banyak. Kalau begitu nanti Papa cari waktu buat kesana, nanti kalau ada liburan panjang kamu ke HK sama Mama.”
“Iya boleh.”
“Nyalain loudspeakernya. Mama juga mau denger kalian ngomong apa...” Sekarang Mama sudah berseri-seri wajahnya.
“Aku bilang mau ngirimin kalian tiket ke HK.”
“Mana bisa, tukang kerja ini sibuk banget. Nantilah kalo dia udah selesai kita kesana liburan. Dua bulanan lagi kan ada liburan tengah tahun. Iya kan Ta,mau kan...” Kami mengobrol panjang siang itu, Mama tak bisa menyembunyikan rasa bahagianya. Aku juga senang membuatnya bisa terlihat begitu gembira.
Kami berdamai, setidaknya aku bisa menerima keinginan Mama.
__ADS_1
“Mama itu pengen kamu gak sebatang kara. Kamu punya keluarga, walau Mama dulu gak diterima masuk ke keluarga Papa, tapi kamu tapi kamu anaknya, punya hubungan darah. Istri Papa yang sekarang sudah tahu dari awal Papa punya anak di Jakarta, Mama beberapa kali ketemu dia, dia orang yang baik, menerima kamu. Karena kamu adalah anak Papa, dia juga gak mau Papa kamu gak ngakuin anak. Cuma itu Tata sayang, sekarang kamu ngerti kan maksud Mama.”
“Sorry Ma.”