
"Aku akan mendengar kata-kata Kakak." Dan dia punya sopan santun sempurna. Sepertinya dia gadis yang mendengarkan saran.
"Aku takut melepasnya sendiri, tapi untungnya bimbingan sekolah internasional yang dia ikuti cukup menjamin dia punya teman yang bisa diandalkan disana."
"Jangan terlalu khawatir, dia gadis yang pintar, tidak akan mencoba membuat dirinya terlibat masalah. Benar bukan young lady?"
"Benar Bibi. Aku tak akan membuang masa mudaku dengan melakukan hal yang merugikan diri sendiri."
Kami pamit kemudian. Kali ini kami akan makan di sebuah restoran Italia.
"Kakak Shiori, benarkah kau dari delapan tahun sudah belajar di sekolah luar Jepang." Dia bahkan memulai bercakap dengan bahasa Inggris yang cukup sempurna. Mungkin dia terbiasa mendengar dan bicara native speaker sehingga bisa meniru aksen mereka.
"Ohh iya, Ayah kakak diplomat jadi Kakak harus mengikuti Ayah. Sampai umur 30an baru kembali ke Jepang." Aku duduk dibelakang, dia dan Ayahnya di depan, tapi sepanjang perjalanan dia terus menghadap ke belakang.
"Tampaknya petualangan yang sangat menyenangkan." Dia melebarkan matanya dengan antusias.
"Kau bilang petualangan, yah sedikit kurasa, tapi penyesuaian dirinya juga tidak mudah."
"Tetap saja itu keren." Dia membuatku tertawa.
"Kenapa kau bisa terobsesi dengan Harvard?"
__ADS_1
"Aku membaca buku Princess Masako dari Ben Hills, kau tahu buku itu Kak Shiori? Buku itu tidak diedarkan di Jepang, seorang dari tempat les Ingrisku memberiku pinjaman buku itu."
"Ahh aku membacanya, Permaisuri Kaisar Jepang yang lulusan Harvard tapi terperjara di istana."
"Dari situ aku tertarik semua hal yang berkaitan dengan Harvard, aku berharap semoga benar-benar bisa masuk ke sana."
Siang itu di dominasi pembicaraan kami. Tentang bagaimana kehidupan perkuliahan di sana. Ryohei mendengarkan dan kadang bertanya, tertarik bagaimana putrinya mungkin akan menjalani pendidikan ke depannya. Dia Ayah yang terlibat dalam kehidupan putrinya.
"Kakak Shiori, jika nanti aku mau bertamu ke rumah, atau mengundangmu makan bolehkah?" Kami hampir akan pulang sekarang.
"Boleh, tapi teleponlah dulu oke, aku takut ada jadwal ke luar kota atau ada pekerjaan."
"Sayuri, kau tak boleh menggangu Kak Shiori sering-sering."
"Maafkan dia yang terlalu bersemangat Shiori-san, jika kau sibuk dan ingin istirahat jangan ragu menolaknya. Kak Shiori baru sembuh dari sakit, jangan terlalu menganggunya."
"Kak Shiori sakit apa."
"Ohh kau belum tahu. Dipukul oleh pacar Ayahmu." Aku tertawa sekarang.
"Benarkah? Siapa pacar Ayah?"
__ADS_1
"Itu sudah jadi mantan sekarang sebagai catatanmu. Kakak yang kau temui beberapa bulan yang lalu yang memberimu hadiah, Yuna Aize."
"Ohhh penyanyi itu, Ayah pacaran dengannya, bukannya dia ada skandal sekarang. Berani sekali dia, kenapa dia memukulmu Kak Shiori."
"Sudahlah, masalah sudah lama berlalu. Ayah bahkan sudah tak menganggapnya teman."
"Kak Shiori, kenapa dia memukulmu?" Sayuri masih penasaran.
"Ceritanya sangat panjang, tak ada yang bagus tentang itu, lebih baik kau tak tahu. Yang jelas dia perempuan jahat dan Ayahnya anggota Yakuza." Aku tak seharusnya menceritakan hal yang memalukan yang terjadi di Hanoi.
"Anggota geng Yakuza, astaga... Ayah kenapa kau bergaul dengan orang seperti itu. Apa kau tak bisa mencari pacar dengan latar belakang normal." Putrinya langsung melakukan protes.
"Ayah tidak tahu Sayuri. Sekarang dia bukan teman Ayah lagi. Kau tak perlu kuatir." Aku tersenyum melihat putrinya yang memprotes pacar Ayahnya. Ini lucu.
"Sayuri, lain kali harus kau yang menyeleksinya."
"Itu memang ide bagus Kakak. Katanya pria itu mudah dikelabuhi oleh wanita cantik penggoda jahat. Ayahku nampaknya terlalu mudah tergoda."
"Anak kecil, kau sudah merasa pintar." Ayahnya mengetuk kepalanya.
"Aku memang lebih pintar dari Ayah. Ujianku lebih bagus dari Ayah." Dia membuatku tertawa.
__ADS_1
"Kau memang pandai menjawab."
Makan siang itu berakhir dengan aku dan Sayuri menjadi teman.