
Nampaknya semua berjalan dengan baik. Kami pulang ke NYC dan memulai rutinitas lagi. Perjalanan ke London menyelesaikan banyak hal, pembalasan dendam lama dan terutama mengenalkan Louis ke keluarga kami.
Aku punya rumah untuk kembali di NY, merasa tidak sendiri, walau kadang masih menyukai waktu-waktuku sendiri. Tapi ada seseorang yang selalu akan memastikan aku baik-baik saja.
Aku juga menemui Ibu Louis saat Thanksgivings, dia membawaku ke keluarganya. Bibi dan Paman nampak senang melihat kami bersama. Suasana tenang di pedesaan ini membuatku betah.
"Disini menenangkan." Aku duduk bersama Louis di depan rumah pertanian besar itu memandang hamparan ladang jagung luas yang terbentang di depan kami.
Tapi sudah tak hijau lagi, sudah dipanen di awal November, dan sekarang tersisa ladang coklat sisa panen, mesin harvester besar sudah terparkir tidak bekerja di ujung sana, dan silo penyimpanan yang sudah penuh dengan hasil panen. Udara dingin sudah terasa, hidup terasa melambat aktivitasnya di sini.
Dulu aku suka sekali berjalan diantara jagung-jagung itu sebelum menyadari kulitku yang tak terbiasa terasa gatal sesudahnya.
"Ini pertanian, di musim semi sampai panen, mereka bangun pagi-pagi sekali, untuk membereskan pekerjaan di tanah pertanian, tapi musim dingin mereka lebih santai dan beristirahat.
"Hmm... tapi aku lebih memilih kota kurasa, berlibur memang menyenangkan. Tapi kita terbiasa di kota dengan segala hiruk pikuknya."
"Iya, kita mulai terbiasa dengan sesuatu saat umur kita sudah diatas 30, Ayah dan Ibuku juga terbiasa dengan ritme mereka."
"Kau benar..."
"Kau bahagia bersamaku sweetheart." Aku tersenyum padanya.
"Kenapa kau bertanya hal seperti itu. Apa kau pernah melihatku menangis." Aku bersandar ke bahunya, mengengam tangannya di antara udara dingin yang menenangkan. "Satu-satunya saat aku menangis adalah saat aku di rumah sakit mengkhawatirkanmu, lalu kau bilang 'kembalilah besok', saat itu aku menangis karena terharu kau menyuruhku kembali. Rupanya tidak sia-sia aku tak tertidur mengkhawatirkanmu semalaman dan mengejar penerbangan paling pagi." Dia tertawa kecil, mencium punggung tanganku sebagai jawabannya.
"Maafkan aku. Aku mungkin terlalu kejam padamu. Sebenarnya itu untuk kebaikanmu."
"Sudahlah jangan bicarakan masa lalu, sekarang kita sudah bersama. Yang jelas aku bahagia bersamamu."
__ADS_1
"Kita akan bersama sampai nanti."
"Iya. Seperti Ayah dan Ibu kita."
Itu janji. Bukan mengatakan aku mencintaimu lagi. Tapi Janji kita akan bersama sampai akhir, dibutuhkan banyak hal untuk mencapainya. Tapi kami punya dua keluarga yang merupakan contoh kami.
Pertengahan musim semi, dia mengajakku ke Jepang untuk liburan dan dia punya pekerjaan di Jepang. Aku menyetujuinya. Tokyo akan selalu menjadi tempat spesial bagiku. Mungkin saat itu aku jatuh cinta padanya, di tengah daun gingko yang menguning.
"Ayo kita jalan-jalan." Hari ini dia tidak ada pekerjaan jadi kami bisa pergi bersama.
"Kemana..."
"Ke Meiji Jingu."
"Kau senang sekali ke sana."
Kami sampai kemudian, berjalan-jalan bergandengan tangan dibawah canopi pepohonan yang sudah menghijau. Kali ini ditemani oleh bunga Iris yang penuh dengan warna ungu dan putih. Kuil ini memanglah istimewa.
"Louis, kenapa kau senang sekali kembali ke sini." Aku bertanya dengan serius. Kali ini aku harus mendapat jawabannya. Dia melihatku dan menegang tanganku.
"Aku sadar aku jatuh cinta dua kali di sini. Pertama dengan Chelsea, lalu denganmu. Entah kenapa ini terjadi,...tapi terakhir kali aku berpikir denganmu, itu tidak mungkin dan aku mengambil keputusan membiarkanmu pergi." Dia bicara soal sandiwara dengan Kimberly.
"Kau jatuh cinta padaku saat ..." saat daun gingko menguning dua tahun lalu. Aku tersenyum, jadi saat itu aku tak bertepuk sebelah tangan.
"Aku juga jatuh cinta padamu saat itu." Senyumnya mengembang.
"Kurasa di sini benar ada dewa jodoh berkeliaran."
__ADS_1
"Iya, mungkin kau benar." Aku tertawa.
"Dan sekarang, ..."
"Sekarang kita kembali kesini mengakuinya." Aku tersenyum padanya.
"Sekarang,..." Dia berlutut di depanku, aku tergangga. "...maukah kau menikah denganku." Dia mengangsurkan sebuah kotak cincin lamaran. Sesaat kupikir aku bermimpi. Tapi ini benar-benar terjadi, beberapa orang melihat kami dan bertepuk tangan. Aku malu sekali, pipiku memanas karena bahagia.
"Ayo bilang ya..." Semua orang menyemangatiku.
"Iya, iya dan iya." Aku menjawabnya antara tertawa dan terharu, ingin meloncat kegirangan tapi takut mengundang lebih banyak orang lagi. Dia bangkit dari posisi berlututnya dan memasangkan cincin indah itu dijariku. Memelukku sementara yang lain bersorak untuk kami.
"Terima kasih."
Siang itu Meiji Jingu menjadi saksi kami, kali ini di tengah hamparan bunga iris yang bermekaran.
"Kita akan kembali ke sini. Berdoa mengucapkan terima kasih, mereka yang menikah di sini juga pasti kembali ke sini untuk berdoa bagi anak mereka."
"Kita akan kembali. Dan mengatakan pada anak kita disini kita bertemu. Mungkin nanti mengatakannya kepada cucu kita." Aku menyetujuinya, Meiji Jingu ini akan selalu berada di hati kami.
Semoga sang Pencipta memberkati kami.
...\=\=\=\=\=\=\=\=πππππ\=\=\=\=\=\=\=...
...THE END JULIE β€ LOUIS...
...\=\=\=\=\=\=\=\=πππππ\=\=\=\=\=\=\=...
__ADS_1
Next hanya fokus ke 2 : Cold Revenge and BATTLEFIELD. Yang mau donasi gift, koin dan vote bulan ini tetap di Louis dan Julie, bulan depan baru ke Cold Revenge.