
“Ewww, aku diusir. Baiklah aku tahu diri aku tak akan menggangu kalian, bilang bye ke Tante Tata.”
“Ya sudah. Nanti Papa telepon lagi.” Aku memutuskan telepon sementara Tata mendapatkan sekotak strawberry,jeruk dan cherry dari kulkas membawanya ke sofa panjang itu duduk di sana. “Anak ini sering meneleponmu.”
“Tidak kadang hanya WA, tumben sekali malam ini dia menelepon. Kau mau.” Dia menawarkan buah yang dibawanya. Tata diam saja duduk disampingku menghabiskan buahnya sementara aku menyalakan televisi. Duduk bersama dan diam seperti ini terasa nyaman. Tak terasa menganggu...
“Si Papa kemarin nanya aneh, dia nanya aku gimana prospek perusahaanku, karakter bossku, sistem managementnya. Ya aku jelasin yang aku tahu, kurasa bossku itu punya visi, pengelolaannya bagus, kenapa dia malah nanya gitu ya Ko. Apa Papa mau mindahin aku ke perusahaan lain? Apa dia punya investasi di perusahaan media?” Dia tiba-tiba bertanya.
“Setahuku engga kalau di Indo, cuma di bisnis container shipping, saham di kita gak terlalu besar, sama produsen ban, jika pertanyaannya begitu, Koko kira ...kemungkinan dia memang mempertimbangkan penanaman modal baru. Mungkin Papamu sudah kenalan sama bossmu pas dia melayat, dan bossmu mungkin butuh ekspansi, mereka ngobrol dan dia mencari pinjaman modal lunak. Kata lainnya, mungkin kamu akan jadi boss juga di kantor kamu sekarang.”
“Oh begitu?”
“Itu hanya tebakan, tapi jika nanti dia datang dengan beberapa orang analis, maka bisa jadi itu benar. Lihat saja nanti, Papamu gak punya kantor disini, dia harus bawa analisnya dari HK...” Itu bagus juga, jadi si stoberi itu tidak akan meremehkan anak ex-papanya itu.
__ADS_1
“Ko, stoberi itu kan harusnya disayang Papa dulunya. Apa mereka musuhan?”
“Kalau itu saya gak tahu begitu pasti, mungkin harusnya engga. Tapi setahuku Cherrie dekat dengan Ibunya, sedikit banyak mungkin dia dipengaruhi oleh Ibunya. Dan mereka berantem itu sampai pengadilan karena Papamu tak mau memberi uang apapun ke Mamamu, merembet ke bisnis juga karena ada kerjasama bisnis antar keluarga, makanya Koko agak khawatir kalau Cherrie tahu siapa kamu, ...”
“Ya sudahlah, lain kali aku udah pergi aja ketemu dia, gak mau adu mulut lagi, kasihan Papa dan Koko nanti.”
“Itu kayanya sudah telat.” Aku tertawa. Kata orang sini, nasi sudah menjadi bubur. “Sudahlah, jika dia berani macem-macem, hadapi saja. Yang jelas dia sekarang lagi pusing.”
“Sorry aku bikin masalah.” Dia menatapku dan bersungguh-sungguh minta maaf.
“Lagi nge-cash batere.” Aku tersenyum dan membiarkannya. Dia selalu memakai alasan konyol itu. Anehnya aku tak merasa keberatan, jelas ada yang salah dengan diriku. Aku sudah terlalu terbiasa dengannya. Bagaimana jika dia tiba-tiba hilang seperti kata Cecilia, aku akan menyesal membiarkannya diambil yang lain.
“Ko,...”
__ADS_1
“Hmm...”
“Koko masih sayang sama mantan istrinya?” Aku tertawa kecil.
“Ya enggalah, dia sudah sama yang lain. Kami juga gak mungkin sama-sama. Cecil gak keberatan sama Papa tirinya.”
“Kok lama banget gak punya pendamping.”
“Sibuk kerja, sibuk membuktikan diri, alasan terbesarnya itu aja. Sendiri itu simple, yang penting bisa punya waktu buat anak, saya bukan orang yang ... ribet...”
“Hmm...” Dia mungkin bertanya itu karena aku tidak mengatakan sesuatu padanya, tapi juga tidak menolaknya. “Abis makan ngantuk, bantalnya enak, pewe, bisa-bisa aku tidur disini. Pulang deh Ko...” Dia mengangkat dirinya untuk duduk lurus sekarang. Kali ini entah kenapa rasa kehilangan itu ada.
“Kalau mau makan disini datang aja. Kalau udah sampai dibawah jam 7 itu pasti aku makan dirumah.” Aku menginginkannya datang lagi dan duduk bersama seperti ini.
__ADS_1
“Iya. Aku pulang ya...” Dia mengeliat sendiri, menguap. Dia berjalan kedepan sekarang, setegah pikiran gilaku mengatakan menyuruhnya tinggal. Tapi tentu saja aku masih waras sekarang. Aku mengantarnya ke depan, melihatnya berjalan sendiri ke rumahnya.
Apa yang harus kulakukan? Cecil kau benar Papamu ini payah.