
POV Shiori
"Kujemput kau makan malam oke." Kejutan, setelah beberapa saat kami tak bertemu, dia akan menjemputku makan malam. Tapi bagaimana janjinya dengan Ayah? Bukankah kami tak bisa bertemu untuk sekarang ini.
"Oke. Tapi ..."
"Aku sudah menelepon Ayahmu dan memberitahunya aku sudah mencapai kesepakatan dengan Ayah Yuna. Tak ada lagi bahaya, semuanya sudah selesai. Pengawalan Sayuri juga hanya sampai akhir minggu ini selesai."
"Akhirnya..." Aku lega kami benar-benar bisa bertemu lagi sekarang. "Iya baiklah, jam berapa kau akan sampai."
"Jam 7 oke. Tak lama, kau tak ada makan malam dengan kolega bukan?"
"Ehm tidak."
Itu tak lama, hanya beberapa saat kemudian aku sudah melihat dia di belakang kemudi di area parkir. Aku mengulum senyumku, rasa lega dan senang melihatnya lagi tak terbayangkan.
Ingin segera duduk di sampingnya lagi.
"Bagaimana..." kabarmu, aku ingin memeluk lengannya lagi, tapi aku belum selesai mengatakan itu, karena tiba-tiba dia merangkul pinggangku dan langsung menciumku. Aku bahkan tak sempat bereaksi atas dekapan eratnya yang terlalu tiba-tiba itu.
"Kenapa kau tiba-tiba..."
"Aku merindukanmu... Sangat merindukanmu." Dia berkata merindukanku, sesuatu yang manis membuat jantungku berdebar senang dan aku tak bisa lagi menyembunyikan senyumku. Tatapannya terlalu memuja dan yang bisa kulakuan hanya menyerah dalam ciuman keduanya, aku juga merindukan wangi dan kehangatan pelukannya.
"Ryohei, ini jam pulang , nanti ada yang melihat kita." Dia melihatku dan ganti merapikan rambutku, walau dia belum melepaskan pelukannya.
"Do you miss me too my lovely sweetheart." Aku tertawa dengan panggilan anehnya. Mungkin Sayuri yang mengajarkannya, biasanya dia hanya memanggil namaku.
"Kenapa kau jadi romantis begini."
"Apa tak boleh, kau suka panggilanmu."
"Itu terlalu panjang." Aku terkikik geli.
"Honey saja jika begitu."
"Itu lebih baik." Dia memandangku, entah kenapa dia jadi hangat begini. Tak biasanya dia bersikap seperti ini. Dia tenang, tak menunjukkan perasaannya, walaupun dia selalu perduli. "Kenapa kau jadi begini manis hari ini, apa kau kebanyakan minum madu belakangan, atau Sayuri berhasil memberimu kuliah tentang bagaimana bersikap manis." Aku meringis lebar.
"Aku merindukanmu, dipaksa berhari-hari harus menghadapi orang asing, tak bisa bertemu denganmu membuatku berpikir harusnya kau yang ada di samping kami. Bukan Yumi yang menyebalkan, makan malam yang harusnya enak saja jadi menyebalkan karena dia."
__ADS_1
"Baiklah, ayo kita makan. Tak usah ingat lagi Yumi itu, bukankah dia sudah pergi sekarang."
"Dia sudah pergi. Dan satu lagi akhirnya Ibuku tahu soal kita."
"Benarkah? Lalu apa yang dikatakannya. Apa dia tak apa kau langsung memberitahunya begitu? Dia baru mengenalkanmu seseorang?"
"Dia tahu kami kabur dari acara Hanami." Ryohei ngakak sekarang.
"Dia tahu, dan dia tidak marah?" Apa Sayuri benar-benar berhasil membuat neneknya berpihak padanya.
"Tidak, Sayuri saat pulang mengaku padanya. Dia menyayangi Sayuri, jika Sayuri tidak menyukainya Neneknya tidak akan marah"
"Lalu apa yang dia bilang tentang kita."
"Dia bilang jangan menunggu terlalu lama. Aku berjanji akan membawamu ke Kyoto, nanti saat Sayuri liburan musim panas kita ke Kyoto menemui Ibu dan Ayah. Setuju."
"Secepat itu, apa tidak ada semacam wawancara kelayakan dulu." Aku masih tak percaya akan semudah itu. Kupikir masuk keluarga Ryohei mungkin perlu semacam penilaian kelayakan.
"Shiori, kau pikir ini wawancara calon direktur, umurku sudah 44, Sayuri 16, kau pikir aku bisa diatur-atur seperti itu. Yumi hanya dikenalkan yang menilainya kami. Kau mengerti. Jurinya bukan Ibuku tapi aku. Kau harus memohon dan bersikap baik-baik padaku bukan Ibuku." Aku tertawa.
"Hmm... ternyata begitu. Tapi kurasa aku tak pernah sengaja baik-baik padamu, kau yang baik-baik sendiri padaku..."
"Iya aku senang. Lega sebenarnya, Ibumu tak marah kau menolak gadis yang dipilihnya."
"Yumi hanya orang luar Honey, Ibu lebih perduli kebahagian kami dan yang membuat kami bahagia adalah kau. Kau jangan berpikir terlalu jauh soal gadis itu. Dia bukan siapa-siapa, jika satu saat dia datang ke rumahku juga dia hanya jadi tamu, tapi kau sudah bagian dari kami."
"Aku sering berpikir banyak orang yang tak menerimaku denganku beberapa tahun ini. Maaf jika aku berpikir begini."
"Kami yang sudah menerimamu. Kita selesai saling meragukan Honey? Kita sudah selesai mengungkit masa lalu? Kau, aku dan Sayuri adalah keluarga, kita mendukung satu sama lain. Setuju..."
"Ini semacam lamaran?"
"Ini membuat kesepakatan. Lebih baik kita MOU diatas kertas dulu saja."
"Apa jaminannya."
"Hatiku." Aku ngakak. "Kau sudah punya hatiku, jaminan apa lagi yang kau mau. Apa kau ingin anakku saja."
"Sejak kapan kau punya mulut semanis ini."
__ADS_1
"Aku sedang merayumu. Berpisah terlalu lama itu sangat berat." Aku meringis lebar.
"Kau bilang kita mah makan malam. Aku sudah kelaparan, sampai kapan kau akan merayu di tempat parkir gelap ini. Bisa kau lanjutkan nanti saja."
"Baiklah Ibu Direktur, kita akan makan. Aku juga tak ingin kau sakit." Dia mulai menjalankan mobilnya sekarang.
"Ngomong-ngomong bagaimana kau membereskan masalah Yuna?"
"Hmm, aku membayar orang menggangu bisnisnya, menyebarkan rumor bahwa mereka akan di serang oleh banyak pihak dan dia menyerah sendiri. Hari ini, dia tanda tangan mengakui perbuatannya di depan pengacara. Jika dia berani mencari masalah lagi, aku akan menggunakan pengakuannya sendiri menarik dia dan putrinya ke penjara. Sudah selesai, tidak saling menganggu lagi, dia membayar semua biaya rumah sakitmu, ceknya nanti kuserahkan padamu."
"Begitu saja..."
"Iya, begitu saja. Yang penting kau dan Sayuri tidak diganggu lagi. Lagipula kemarin Yuna di culik dan dihajar oleh Richard."
"Dihajar?"
"Iya, kau tak tahu?"
"Tidak, dia tak cerita apapun sebenarnya, hanya bilang Yuna tidak akan berani mengganguku lagi, aku tak usah tahu detailnya."
"Sebenarnya siapa mantanmu itu?" Ryohei sama penasarannyanya seperti aku. Tapi sama saja karena akupun tak tahu.
"Aku tak tahu. Dia menutup info siapa bossnya, apa yang dia kerjakan sekarang. Aku tak tahu apapun pekerjaannya."
"Dia kelihatannya punya pekerjaan cukup berbahaya, orang biasa tak mungkin punya pengawalan tersembunyi begitu. Plus dia punya kemampuan menculik orang, dia menjadikan itu seperti pekerjaan mudah. Itu jelas serius."
"Iya, kemungkinan besar begitu. Tapi mungkin jika kita punya masalah dengan Sayuri di US, dia nampaknya punya orang yang bisa membantu kita."
"Sebenarnya aku memikirkan hal yang sama. Makanya aku berusaha menjadikannya teman, dan tak ingin membuatnya membenciku. Dia mengenal Hisao Yamada, dan Hisaopun nampaknya familiar dengannya. Siapapun dia, jangan menjadi musuhnya." Ryohei benar, tapi tidak kami bukan musuhnya.
"Baiklah, kita makan apa?"
"Pizza makarel." Ryohei tertawa ngakak. Aku teringat Sayuri menceritakan itu sambil marah-marah.
"Akan kupesankan. Kau harus menghabiskannya."
"Kau tega, kita ke supermarket saja membeli ikan sarden."
"Itu makanan Yumi-san, dokter sehat. Jangan menyebutkannya lagi. Kita di klan yang berbeda."
__ADS_1
"Setuju." Aku tertawa, nampaknya pizza makarel itu akan jadi candaan yang menyenangkan jika kami mampir ke restoran Italia itu.