
Mengunjungi Shanghai saat Tahun Baru Imlek sungguh memanjakan mata, jalan-jalan yang dipenuhi lampion dan dekorasi lampion, lampu tematik yang berwarna merah hingga keemasan dan hijau yang meriah. Terutama di Yuan Yu Garden sebagai pusat perasaan hingga festival lampion tanggal 15.
Entah di kota atau di rumah-rumah, rasanya aura tahun baru menemanimu sepanjang waktu. Kali ini Oliver menemaniku ke Shanghai. Walaupun dia sudah terbiasa dengan perayaan tahun baru yang meriah di Hongkong, nampaknya dia juga ikut menikmatinya di sini.
"Mata dan hatiku nampaknya dipenuhi warna merah dan emas, sungguh meriah." Udara dingin Shanghai yang bisa menyentuh hanya 2°C di malam hari sepertinya di malam ini memanas karena kerumunan orang disini terlalu banyak.
Malam-malam kami berjalan-jalan di Yuan Yu, ikut merayakan pergantian tahun dengan kembang api meriah di Yuan Yu Garden.
"Besok kita mengucapkan selamat tahun baru saja bukan ke Ibumu?"
"Ohh tidak, ke Ibu dan keluarga besar Paman, kita berkumpul di rumah Paman Besar yang tertua sekarang, makanya amplop angpauku banyak. Aku harus bersiap membaginya ke semua anak-anak..."
"Ohh ternyata begitu...Keluarga besar, punya keluarga Asia nampaknya memang meriah." Aku tertawa, dia sekarang akan tahu bagaimana difinisi di sebuah keluarga Asia sekarang. "Apa aku harus membagi angpau juga."
"Sebenarnya tidak, karena kau dan aku dihitung satu, tapi karena kita belum menikah supaya di sangka loyal kau bisa menbagikannya juga."
"Ohh tentu saja aku harus jadi loyal, tak mau dicap pelit, aku mau membagikannya ke anak-anak juga." Dasar tukang pamer, aku sudah pasti dia akan mengatakan hal semacam itu tadi.
"Baiklah Paman yang baik hati, aku akan memberikanmu angpaomu sendiri nanti."
Keesokan harinya aku dan Oliver telah memakai baju senada Zhongshan dan Cheongsam dengan warna senada. Dia terlihat sangat tampan dengan Zhongshan nya.
"Tampan, kau cocok dengan warna ini."
"Baru kali ini aku memakai ini." Dia melihat penampilan dirinya di cermin kamar kami.
"Kita menunggu siapa? Adikmu?"
"Iya, adikku dan suami Ibuku."
"Suami Ibumu yang katanya punya keluarga lain itu? Ohh jadi dia hanya datang setahun sekali atau jika ada acara keluarga?"
"Ya bisa dikatakan seperti itu." Aku meringis dengan jenis keluarga yang aku miliki. Ya tapi itulah yang kudapat. Terima saja.
"Memang sangat unik ..." Oliver tertawa.
"Kata yang tepat bukan unik kau tahu itu. Ayolah, kita menemui Ibu dulu." Kami mengucapkan selamat tahun baru kepada Ibu, mengharapkannya sehat, panjang umur dan banyak rejeki tahun ini. Oliver belajar mengucapkannya menurutiku.
"Terima kasih Oliver, Bibi berharap kau sehat dan banyak rejeki juga. Ini angpao-mu sebagai tanda keberuntungan." Ibu memberinya amplop merah besar sekarang. Dia sedikit kaget karena dia mendapatkan angpao juga. Dia pikir hanya anak-anak yang mendapatkannya.
"Aku dapat? Ohh ini bukan hanya untuk anak-anak? Ini pertama kalinya aku mendapatkan ini."
"Tidak, selama kau belum menikah kau masih boleh menerimanya. Tapi jika kau sudah menikah ganti kau harus memberikannya kepada orang tuamu. Ibu memberikannya padamu sebagai tanda keberuntungan saja karena kau belum pernah mendapatkannya. Kau sudah tua untuk diberikan angpao." Aku yang menjelaskan kepadanya sekarang.
__ADS_1
"Ahhh ternyata begitu. Aku mengerti sekarang, terima kasih Bibi, semoga semua proyekku lolos tahun ini. Kuterima ini sebagai tanda keberuntungan." Ibu menepuk bahunya.
"Tentu saja, semoga rejeki kalian berdua kalian berlimpah tahun ini."
"Jam berapa Cheng Xin datang Mama? Suamimu akan kesini juga bukan?"
"Entahlah harusnya di jam-jam seperti ini kurasa. Biasa mereka makan pagi disini dulu."
"Kau tak bertengkar dengan mereka kan Mama?"
"Aku bertengkar dengan Ayahnya, tapi seperti yang kubilang kemarin aku hanya membiarkannya marah-marah dan tidak menanggapinya di telepon. Mungkin dia memutuskan tidak datang, kurasa itu lebih bagus." Mama mengangkat bahu tak perduli.
"Kata Paman dia membawa anaknya dari istrinya yang lain. Dia membawanya kesini juga Mama?"
"Tentu saja. Aku tak keberatan, terserah dia saja. Aku istri pertama. Istrinya tak pernah bersikap kurang ajar, tak pernah memicu permusuhan denganku, jadi aku sedikit tak perduli sebenarnya. Yang penting aku tak menghabiskan energiku untuk bertengkar." Oliver diam mendengar cerita Mama. Yah, keadaan keluarga Mamaku memang sangat sulit.
"Ya sudahlah, kita memang tak perlu bertengkar di hari baik." Aku memutuskan berdamai saja, walaupun aku punya perasaan entah bagaimana ini akan jadi boom waktu suatu saat.
Bel pintu berbunyi, aku yang pergi membuka pintu sekarang. Mungkin Cheng Xin dan istrinya. Ternyata benar.
"Kakak Sandra, selamat tahun baru." Dia memberi salam singkat padaku sambil membuat tanda Gong Xi dengan tangannya.
"Selamat tahun baru Cheng Xin."
"Kakak Ipar, selamat tahun baru." Sekarang istrinya yang pernah aku marahi menyapaku dengan senyum lebar palsunya. Disampingnya anaknya yang mungkin berusia 7 tahun memberiku salam dan satu lagi anak perempuan cantik mungkin berusia sekitar 4 tahun.
"Cheng Zhan Bibi."
"Berapa umurmu?"
"7 tahun Bibi."
"Kalau yang ini panggil saja Yi Yi." Dia memperkenalkan anak perempuannya sekarang.
"Hallo Yi Yi, kau cantik sekali." Sekarang gadis kecil ini memberiku salam.
"Kakak Ipar, cepatlah cari suami, kau masih cantik, pasti ada yang suka padamu. Jika tidak aku banyak kenal pria-pria duda tampan, aku bisa mengenalkannya padamu. Semoga kau juga cepat punya anak sendiri yang lucu-lucu seperti ini." Aku tersenyum padanya, ini adik ipar sangat suka menyindir halus. Dia pasti sengaja ingin membalasku dengan menyindirku perawan tua. Adik ipar yang sangat kurang ajar.
"Terima kasih adik ipar. Semoga doamu cepat terkabul." Aku mengiyakan saja kata-katanya itu.
Aku membawa mereka ke dalam. Oliver berdiri dengan yang dengan baju merah Zhongshan membuat mereka tertegun, mereka berpikir ada turis yang menyasar ke rumah kami. Kenapa bisa Kaukasian ini ada di rumah Ibu mereka.
"Halo, Selamat Tahun Baru. Senang bertemu kalian." Sedangan Oliver mengucapkan salam ke mereka memakai bahasa campuran Mandarin dan Cantonese, mereka binggung mendengarnya.
"Ohh ini kekasihku Oliver Russell, dia warga USA tapi bekerja di Hongkong dia lebih fasih Cantonese, hanya tahu satu dua kata Mandarin. Kalian bisa bicara dengannya English jika tak tahu Cantonese." Aku sekarang memperkenalkannya sambil merangkul lengannya, perkenalan ini khusus untuk adik ipar tersayangku.
"Ohhh kekasih Kakak ipar." Dia melihatku dengan ekspresi malu sekarang. Rasakan apa yang kau dapat setelah menyindirku.
__ADS_1
"Tampan bukan adik ipar? Bagaimana perbandingannya dengan duda yang kau kenal?" Aku tertawa sendiri. "Aku hanya bercanda adik ipar, terima kasih atas perhatianmu." Aku puas membalikkan kata-katanya sekarang, sementara Oliver tak tahu aku membicarakannya dalam bahasa Mandarin.
"Hei ada anak kecil, kau tak memberi salam pada Paman, Paman akan memberimu angpao. Kau orang pertama yang kuberi angpao." Sementara Oliver pamer amplop angpaonya. "Siapa namamu?" Oliver bertanya dalam bahasa Inggris.
"Namaku Cheng Zhan Paman?" Dia ternyata bisa menjawab Oliver dengan Inggris. "Selamat tahun baru Paman." Anak kecil ini tahu apa yang harus dia lakukan untuk mendapatkan angpao-nya.
"Selamat tahun baru, ini untukmu." Dia tersenyum lebar menerima angpao itu begitu juga dengan Oliver yang sudah memberikan angpao pertamanya. Adiknya yang cantik mendapat giliran kemudian.
Hari ini akan kubiarkan dia sebagai pembagi angpao saja, nampaknya dia akan menikmati tugas memberikan amplop merah kepada anak-anak.
"Ahh adik selamat tahun baru. Senang bisa bertemu kalian." Oliver tidak keberatan memberikan salam duluan kepada mereka, dan nampaknya adik iparku masih terpesona dengan ketampanan kekasihku sesaat dia tidak bisa menjawab salam Oliver.
"Ahh, iya Kakak. Selamat tahun baru." Dia akhirnya menjawab salam Oliver mengikuti suaminya. Aku hanya tersenyum kecil melihatnya terbata begitu.
Sementara Cheng Xin tampaknya tidak mau bicara terlalu banyak padaku, kuserahkan dia ke Oliver saja nanti.
Mama keluar tak lama kemudian. Cheng Xin dan adik iparku, memberinya salam, dan cucu-cucunya nampak menyukai neneknya. Mama sudah mempersiapkan banyak makanan hari ini. Tapi kami masih menunggu suami Mama.
"Kekasihmu bekerja sebagai model?" Cheng Xin dengan usil bertanya. Dia menggunakan Mandarin sehingga Oliver tidak bisa mendengarnya.
"Dia arsitek kenamaan AECOM , coba kau klik mesin pencari Google dan lihat namanya adik, lihat karya-karyanya. Di China juga ada proyek yang mencantumkan namanya sebagai arsitek." Memangnya kau yang hanya bisa meminjam uang dari Mama untuk membeli Birkin istrimu.
"Kalian membicarakan aku?" Oliver tiba-tiba bertanya karena aku menyebut AECOM.
"Ohh dia bertanya apa kau bekerja sebagai model." Kujawab dengan Cantonese. Oliver tertawa.
"Kau bisa bertanya padaku langsung Cheng Xin, kau mengerti English?"
"Aku kuliah di LA. Tentu saja aku mengerti English." Pamer, dia kuliah di USA.
"Begitu rupanya. Kau kuliah apa?" Oliver sekarang yang mengoreknya. Aku hanya memperhatikan Cheng Xin menyombongkan dirimya sekarang.
Yah berbeda denganku, aku belajar sendiri English tanpa pendidikan formal, menjadi fasih karena sering mengasahnya sering berhadapan dengan VVIP quest dan manager club yang kala itu cukup banyak berhadapan dengan tamu luar. Berbeda dengan anak kaya yang kuliah di LA dengan pendidikan formal.
Tak lama bel pintu berbunyi. Mama bangkit dari duduknya sekarang.
"Biar Mama saja, ..." Semua housekeepers pulang ke rumah mereka masing-masing sekarang, jadi hanya aku yang membantu Mama di rumah. Aku jadi memikirkan perasaan Mama tiap tahun harus berhadapan dengan istri suaminya yang lain.
Sekelompok orang berjalan masuk. Ternyata Tahun ini suami Mama membawa keluarganya. Aku berdiri, menghampiri, bagaimanapun mereka adalah orang yang lebih tua, Oliver mengikutiku.
"Ini Sandra anakku dan kekasihnya." Seorang pria tua yang kelihatan punya keangkuhan diatas rata-rata berdiri didepanku sekarang. Posturnya tegap, Mama berkata dia punya karier militer sebelumnya.
"Selamat tahun baru Paman. Selamat tahun baru Bibi." Oliver mengikutiku. Aku mengucapkannya dengan tulus, ini tahun baru, semua orang perlu suasana damai untuk tahun baru.
"Selamat Tahun Baru..." Istrinya yang menjawabku sementara suaminya hanya mengangguk singkat. Kesombongan suami Mamaku ini terlihat jelas di mataku. Seperti adikku dia juga tidak menyukaiku.
bersambung besok
__ADS_1