
Aku tahu ini akan ada ujungnya. Adik iparku itu pasti mengadu dan suaminya akan datang membalasku. Keesokan harinya Chen Xin mendatangiku di rumah siang-siang saat Mama sedang pergi.
"Apa yang kau katakan pada istriku?" Dia berkacak pinggang di depanku.
"Aku mengatakan yang sebenarnya. Dia memakai uang Mama untuk foya-foya. Kau jika mau membelikan istri sendiri pakai uangmu sendiri jangan mengemis uang mama terus menerus. Tak tahu malu. Kau mengirimnya untuk apa? Mengorekku? Atau menghinaku supaya pergi? Dia memakai Birkin sampai Manolo, Cartier sampai Givenchy, kau bangga mendandaninya dengan uang Mama yang kau peras? Memalukan, aku menghidupi diriku sendiri dari 15 tahun, kau 33 tahun mengemis uang jajan istrimu ke Mama?"
"Lalu apa urusanmu dengan apa aku mendandani istriku, itu uang Mamaku yang akan mewarisinya juga aku."
"Kau sebaiknya mengencangkan ikat pinggang mulai sekarang adik tersayang, kau tak dengar apa yang dikatakan Maka kemarin, dia tak akan memberikan kau sepeserpun lagi. Jual saja Birkin istrimu jika kau kekurangan uang."
"Kau sebaiknya berhati-hati dengan kata-katamu."
"Kenapa Bao Bei, kau pikir kau anak kesayangan heh? Kujamin Mama tak memberimu uang untuk foya-foya lagi Bao Bei tidak tahu malu. Kau tidak dengar kata-katanya kemarin." Aku memanggilnya bayi kesayangan, dia marah besar sekarang. Tangannya melayang menamparku. Tapi Bao Bei ini bukan tandinganku, aku menangkap tangannya dengan refrek lalu memuntirnya dan membuat dia kesakitan.
"Bao Bei, kau bisa memukul ya? Berani kau memukul wanita, selain pengemis kau juga pengecut nampaknya."
"Lepas sial*an kau!"
"Adik tersayang, kau berani main tangan? Yang sialan itu kau."
"Lepas ba*ngsat!" Aku tambah memuntir tangannya sehingga dia mengadu kesakitan.
"Mau lepas? Minta ampun yang benar Bao Bei,.."
"Lepas!" Mau lepas tapi dia tak mampu melawan tenagaku.
"Apa?" Aku berpura-pura tak mendengarnya dasar lemah melepaskan puntiran saja tidak bisa. Setelah beberapa saat dia tahu tak ada gunanya melawanku.
"Kakak aku salah, tolong lepas."
"Aku tak mendengarnya kelihatannya kau tidak tulus meminta maaf."
"Kakak, aku salah ucapan. Aku mohon maaf."
"Ohhh begitu. Bukannya tadi kau mau menamparku Bao Bei?"
"Aku salah Kakak tak akan kulakukan lagi. Aku minta maaf." Akhirnya kulepaskan tangannya, dia melihatku dengan penuh perhitungan sekarang.
__ADS_1
"Bao Bei, kau lihat saja, apa kau mendapatkan uang mulai sekarang. Berani main tangan ke aku kau tak akan membuatku terkesan."
Dia mundur lalu pergi begitu saja sekarang. Aku penasaran dia akan mengadu ke siapa besok mungkin ke Ayahnya.
\=\=\=\=\=\=\=\=
"Sayang, bagaimana keadaanmu di sana, kau belum bosan di sana, sudah seminggu kau disana. Kapan kau kembali ke Hongkong? Kau tidak akan kembali ke Jakarta bukan...Shanghai tak begitu jauh dari Hongkong." Oliver menanyakan keputusanku.
"Aku sedang bertanya ke teman-teman dan menunggu kabar apa ada pekerjaan di Hongkong. Aku binggung sekarang..."
"Soal itu, kau tahu sweetheart kemarin aku pergi ke restoran Brother Shim, restorannya ramai, aku bertanya apa dia mau membuka baru , apa kau mau mengurus sebuah restoran di sini?"
"Kau ingin memodaliku, aku punya tabungan tapi tak terlalu besar."
"Tidak ini memakai uangku, anggap saja kita punya sumber keuangan ke dua. Daripada kau kerja yang memakai fisik, kau lebih baik kita berinvestasi pada sebuah restoran."
"Sayang kau yakin dengan ini? Kita bahkan baru jadi kekasih"
"Aku ingin bersamamu,... kau juga harus bekerja di Hongkong, aku juga tahu kau tidak ingin bekerja bersama Kent, lagipula aku pun tak rela kau bekerja di bawah bang*sat itu, kau harus sadar kau juga tak lagi muda, sampai kapan kau bisa menggunakan ketrampilan fisik, jadi lebih baik aku mengambil jalan itu setelah aku melihat kesempatan itu. Tapi kau yang menjalankan dengan baik bersama Brother Shim. Bagaimana kalau kau bertemu dengan Brother Shim dan membicarakannya lebih jauh."
Dia sudah memikirkan sampai sejauh ini. Entah apa yang harus kutakan, nampaknya dia benar serius tentang hubungan kami...
"Asal kau disini bersamaku." Aku tak pernah menyangka dia akan sebaik dan seperhatian ini.
"Bagaimana keadaan Mamamu disana?" Dia menganti topik pembicaraan. Aku menceritakan apa yang terjadi disini sampai aku mencerca adik iparmu.
"Astaga, benar-benar kau punya saudara tiri yang payah. Kasihan juga Ibumu."
"Begitulah yang terjadi disini."
"Kapan kau akan berencana kembali?"
"Aku akan coba membicarakan ke Mama dulu oke. Tidak akan lama, aku juga tak bisa terus di sini terlalu lama."
Aku memang tak bisa dalam mode liburan begini. Jika Oliver serius aku akan serius juga menjaga kepercayaannya pada hubungan kami.
"Mama, apa Mama perlu setiap hari ke kantor?" Aku bicara kepada Mama sekarang.
__ADS_1
"Tidak, sudah ada yang bertanggung jawab, teknologi sudah sangat maju sekarang. Mama sebenarnya di Ping An tak terlibat operasional, di pabrik pakaian juga cuma penanaman modal. Jaringan toko retail di jaringan Shenzen dan Shanghai juga sudah ada manager masing-masing bagian yang bertanggung jawab. Kadang aku kesana seminggu sekali atau dua kali. Atau bertemu klien,atau menerima laporan, mereka perlu disapa juga kadang..."
"Mama mau tinggal bersamaku di Hongkong?" Kuceritakan apa yang direncana Oliver pada Mama.
"Kau nampaknya punya kekasih yang baik hati. Syukurlah, mama jadi tenang. Dia memikirkanmu dengan baik."
"Iya, aku tak menyangka dia sudah memikirkan ini. Jika aku bisa memiliki bisnis sendiri aku akan coba menjalankannya sebaik-baiknya Ma."
"Mama ikut 50% membantumu."
"Dia bilang dia mau menanggung semuanya."
"Kau juga anak Mama, kau bahkan harus hidup di jalan di usia mudamu, kau harus menerima bantuan Mama kali ini. Ini pertama kalinya Mama bisa membantumu, Ini kesempatanmu, kau harus bersemangat dengan pekerjaan barumu. Siapa tahu memang restorannya bagus dan bahkan bisa buka cabang di Shanghai juga." Aku tersenyum dengan harapan Mama. Semoga begitu.
"Mama kemarin Cheng Xin datang ke sini marah-marah padaku. Istrinya tentu saja mengadu padanya." Mama langsung melihatku.
"Dia bertengkar denganmu?"
"Ya tentu dari pertamapun dia sudah bertengkar denganku. Dia membela istrinya tengu saja dan aku balas mencerca istrinya juga."
"Lalu...?" Tak kusebutkan apa yang terjadi? Sampai dia berusaha menamparku, aku tak ingin Mama memikirkannya.
"Lalu seperti biasa dia pergi setelah puas melampiaskan emosinya. Tak usah kuatir, aku sudah mendengar caciannya sejak hari pertama aku datang kesini. Anggap saja dia kaset rusak dan masalah selesai."
Aku membayangkan bagaimana dia akan merongrong Mama setiap hari disini.
"Bagaimana dengan tinggal di Hongkong bersamaku? Jika Mama disini Mama akan dirongrong terus olehnya. Setidaknya Mama bisa berganti tempat antara Hongkong dan Shanghai. Kau bilang kau hanya harus ke kantor seminggu satu dua kali."
"Mama sangat suka rumah ini sebenarnya. Sudah lama Mama tinggal disini, tapi kau benar, Mama sebenarnya bisa pindah kemanapun, oh ya kau akan tinggal bersama kekasihmu?"
"Hmm... iya, tapi Mama bisa tidur disana, ada kamar tamu. Apartmentnya cukup besar untuk ukuran Hongkong. Plus dia kadang sering pergi ke proyek."
"Mama tidak ingin menganggu kalian, mungkin Mama bisa beli property di tempat yang sama. Kau boleh bantu Mama mencari unitnya nanti."
"Itu lebih baik Ma..." Akhirnya aku aku bisa mencari jalan tengah untuk situasi ini untuk sementara.
"Ohh ya Mama mau mengenalkanmu ke Paman dan Bibimu nanti, mereka juga ingin bertemu denganmu sebelum kau kembali. Dulu Papamu sebenarnya berteman dengan Pamanmu, mereka tak bisa berbuat apa-apa waktu kau dipisahkan dari Mama karena Kakekmu. Makanya mereka diam-diam membantu Mama dari belakang."
__ADS_1
"Iya Mama, aku senang punya keluarga. Tentu saja aku akan menyapa Paman dan Bibi."
Selain Bao Bei yang membenciku, nampaknya keluarga yang lain akan baik-baik saja kepadaku.